Untuk Kepentingan Umum

Indonesia Terancam Tak Punya Wakil di Asia

5

JAKARTA: Bhayangkara FC berpeluang merengkuh gelar juara Gojek Traveloka Liga 1 2017 kendati masih harus bersaing ketat dengan beberapa rival lainnya. Namun, andaikata Bhayangkara FC menjadi kampiun, belum tentu Evan Dimas dan kawan-kawan bisa tampil di kompetisi Asia, baik Liga Champions maupun AFC Cup. Masalah legalitas atau lisensi klub adalah penyebabnya.

Aspek legalitas yang telah digariskan oleh AFC selaku konfederasi sepakbola Asia rasa-rasanya sulit dipatuhi oleh Bhayangkara FC, juga beberapa klub Indonesia lainnya. Salah satu syarat yang wajib dipenuhi adalah klub harus berbadan hukum serta telah eksis minimal selama dua tahun terakhir. Dan, Bhayangkara FC baru resmi berbadan hukum pada 2016 lalu.

Bhayangkara FC masih menyimpan persoalan sejak dilahirkan pada 2015. Ia bermula dari Persikubar Kutai Barat yang kemudian disulap menjadi Persebaya Surabaya, kembaran sekaligus tandingan Persebaya 1927. Persikubar gaya baru yang dinaungi PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) ini juga bermarkas di Surabaya kendati tidak mendapatkan dukungan Bonek.

Yang terjadi kemudian, fakta legalitas satu per satu menelanjangi Persebaya yang dianggap abal-abal karena hak paten dan logo klub yang resmi masih dimiliki oleh Persebaya 1927. Pertarungan duo Bajul Ijo pun berlanjut ke meja hijau untuk memastikan mana Persebaya yang asli.

Hasilnya, pada 30 Juni 2016 Pengadilan Niaga Surabaya memenangkan gugatan PT Persebaya Indonesia yang memayungi Persebaya 1927. Itu artinya, Persebaya versi PT MMIB harus berganti nama serta logo klub.

Sejak itulah, tim Bajul Ijo karbitan lantas bergonta-ganti nama dan logo, dari Persebaya United, Bonek FC, Surabaya United, Bhayangkara Surabaya United, hingga akhirnya resmi memakai nama Bhayangkara FC setelah diambil-alih Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Mereka pun tampil di kompetisi kasta tertinggi Liga 1 Indonesia 2017, dan kini memuncaki klasemen.

Bukan hanya Bhayangkara FC yang bisa berlaga di liga paling bergengsi melalui jalan instan. Terdapat beberapa peserta Liga 1 Indonesia 2017 lainnya yang punya riwayat serupa.

Sebutlah Bali United, yang juga berpeluang merengkuh gelar juara Liga 1 Indonesia 2017. Klub ini adalah penjelmaan dari Persisam Putra Samarinda. Ada pula Madura United yang asal-usulnya dari Persipasi Bandung Raya (gabungan dari Persipasi Bekasi dan Pelita Bandung Raya atau PBR).

Satu lagi, jangan lupakan PS TNI. Dari namanya jelas bahwa klub ini dimiliki institusi militer yang kian mendapatkan angin segar di persepakbolaan tanah air seiring naiknya Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI.

PS TNI lahir berkat “jasa” PSMS Medan karena pada mulanya klub ini menumpang nama besar tim Ayam Kinantan untuk bisa merasakan hijaunya rumput persepakbolaan Indonesia. Apes bagi PSMS karena hanya beredar di kompetisi kasta kedua, sementara PS TNI justru tampil di level tertinggi kendati terus saja memantik kontroversi. PS TNI sendiri bisa bermain di Liga 1 setelah mengambilalih Persiram Raja Ampat.

Bhayangkara FC, Bali United, Madura United, dan PS TNI belum genap dua tahun resmi berbadan hukum.
Jalan Berliku ke Level Benua

Baru ada tiga klub Indonesia yang mengantongi lisensi AFC hingga 2015 lalu, yakni Persib Bandung, Persipura Jayapura, dan Arema Cronus. Namun, tim Singo Edan kini justru terancam legalitasnya. Sejak akhir 2016, klub Malang ini mengubah logo dan namanya menjadi Arema FC, selain masih terlibat dualisme dengan Arema Indonesia.

Persipura dan Persib Bandung pun belum tentu bisa berlaga di level Asia karena lisensi AFC ini terus diperbaharui setiap tahunnya. Apa yang dicapai pada 2015 harus diuji kembali melalui verifikasi dari AFC. Sedangkan kebanyakan klub Indonesia lainnya belum melengkapi seluruh kriteria yang diperlukan untuk memperoleh lisensi dari AFC.

Untuk musim depan (2018), Indonesia mendapat jatah tiga slot tampil di ajang antar-klub dalam lingkup benua. Juara Liga 1 Indonesia 2017 berhak bertarung di play-off Liga Champions Asia, sedangkan peringkat 2 dan 3 memperoleh tiket  Piala AFC 2018.

Namun tentu saja klub-klub yang akan mewakili Indonesia di pentas Asia itu harus memenuhi kriteria. Ada lima aspek besar yang menjadi syarat untuk mendapatkan lisensi AFC, yakni aspek legalitas, finansial, personel dan administrasi, infrastruktur, serta sporting. Termasuk pembinaan usia muda.

Dalam lima aspek tersebut terkandung 49 poin syarat yang terbagi dalam tiga grade: Grade A atau item yang wajib dipenuhi, Grade B atau item yang bisa dinegosiasi, dan Grade C atau item yang tidak wajib penuhi. Nah, waktu pengajuan syarat lisensi klub ke AFC akan ditutup pada 31 Oktober 2017.

Sempat mengemuka wacana Indonesia akan diwakili oleh Persib Bandung dan Persipura, juara dan runner-up Indonesia Super League 2014. Opsi ini diambil karena musim 2014 adalah musim terakhir sebelum kekisruhan melanda persepakbolaan Indonesia yang berpuncak pada sanksi FIFA.

Menerka Wakil Indonesia di Asia

Hingga pekan ke-30, setidaknya ada lima klub yang paling berpeluang meraih gelar juara kompetisi Gojek Traveloka Liga 1 2017, yakni Bhayangkara FC, Bali United, PSM Makassar, Persipura Jayapura, dan Madura United. Dari lima kandidat ini, hanya Persipura yang sudah mengantongi lisensi AFC, sementara Indonesia mendapatkan jatah tiga klub untuk tampil di Asia.

PSSI pun sudah memanggil perwakilan 18 klub peserta Liga 1 Indonesia 2017 untuk membahas persoalan lisensi ini. Manager Departemen Lisensi Klub PSSI, Tigor Shalomboboy, mengungkapkan hanya ada tujuh klub yang telah melengkapi syarat administrasi dan siap diajukan ke AFC. Sedangkan yang lain masih belum pasti.

“Semua klub berproses, tapi seiring waktu, karena mungkin klub ada beberapa kendala, akhirnya hanya tujuh klub yang melengkapi semua dokumen yang diminta. Tapi terkait apakah sesuai dengan standar yang diminta AFC, ini yang baru kita lihat,” jelasnya kepada media beberapa waktu lalu.

“Bukan sekadar kelengkapan, tapi ada detil yang juga harus dicermati, seperti finansial. Berbicara laporan keuangan klub mengirim (dokumen), tapi terkait proyeksi finansial musim depan, ini yang terlihat klub kurang detil, ini yang ditakutkan akan mengganjal,” imbuh Tigor Shalomboboy.

Sementara itu, Bhayangkara FC selaku pemuncak klasemen sementara dan paling berpeluang menggenggam satu dari tiga tiket ke Asia yang tersedia memang berharap masalah ini selekasnya tertangani, termasuk meminta PSSI untuk melakukan lobi-lobi kepada AFC.

“Artinya, federasi (PSSI) bisa mengajukan lisensi bagi klub untuk partisipasi di level Asia, seperti Bhayangkara FC atau klub lain bisa diajukan oleh PSSI ke AFC untuk main di level Asia, meskipun belum berlisensi,” harap Corporate Secretary Bhayangkara FC, Rahmad Sumanjaya.

Jika pun nantinya gagal, Bhayangkara FC tampaknya perlu menyadari persoalan dan bersiap menghadapi kenyataan belum layaknya mereka bertarung di level benua. “Kalau regulasinya sudah begitu, ya (kami) belum bisa ke Asia. Kami menerimanya,” ucap Rahmad.

Sekali lagi, sampai saat ini hanya Persipura tim papan atas Liga 1 Indonesia 2017 yang memenuhi syarat tampil di Asia — walau mereka pernah mengatakan tidak bersedia mewakili Indonesia dengan alasan fair play jika hal itu menggunakan rujukan musim 2014. Dan, apabila sampai tenggat waktu nanti persoalan ini belum beres, barangkali membawa berkah bagi satu klub Indonesia lainnya yang kini sedang terpuruk. Siapa lagi kalau bukan Persib Bandung yang justru bisa jadi ketiban pulung saat mereka sedang sial-sialnya berurusan dengan penampilan buruk.

Sumber Tirto.id

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.