Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Lawan Informasi Hoax dengan Literasi Digital

MANADO- Gempuran informasi hoaks di medsos berpengaruh pada persepsi masyarakat. Sebagian besar berita bohong, utamanya yang menyangkut sentimen SARA, berpotensi merusak sendi-sendi kebangsaan.

Oleh karena itu, literasi digital perlu dikembangkan agar masyarakat cerdas dalam mencerna informasi.

“Betapa bahayanya jika isu-isu SARA merebak dan menyebar di tengah kondisi masyarakat yang tidak siap menerima gempuran informasi tersebut,” ujar Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo Niken Widiastuti dalam sambutannya pada Forum Dialog dan Literasi Media yang dibacakan oleh Tenaga Ahli Dirjen IKP Kominfo Hendrasmo di Lotta, Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (21/10/2017).

Dalam pernyataan tertulis, Minggu (22/10/2017), Niken menyebutkan perlunya dilakukan literasi media untuk menciptakan warganet yang cerdas dan bijak dalam memilah informasi.

Menurut Niken, tantangan di era digital yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Konferensi Waligereja Indonesia untuk menyelenggarakan Forum Sosialisasi dan Literasi Media bertajuk “Taat Agama, Bergaul Harmonis, Sopan Berkomunikasi.”

Forum yang diikuti oleh orang muda Katolik (OMK) Manado ini merupakan upaya membangun karakter bangsa terutama bagi generasi muda melalui peningkatan literasi media sosial dengan bantuan para penyuluh agama.

“Tokoh agama dalam hal ini menjadi mitra strategis dalam pendiseminasian informasi yang mencerahkan dan mendidik,”ujar Niken.

Selain bicara tentang pentingnya OMK sebagai agen pembawa kabar baik yang dibawakan oleh Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (Komsos KWI) Pastor Kamilus Pantus, forum ini juga mengungkap cara-cara teroris menyebar paham-paham radikal sekaligus cara menangkalnya yang dibawakan oleh perwakilan dari Densus 88.

Di akhir hari, wartawan muda Gloria Fransiska Katarina menyampaikan strategi yang bisa dilakukan OMK untuk mengalahkan konten-konten negatif dengan konten positif.

Etika bagaimana berkomunikasi dan pedoman penggunaan media sosial serta pelatihan pembuatan konten positif menggunakan meme, vlog, infografis juga menjadi bahan latihan selama dua hari hingga Minggu siang.

“Usai pelatihan peserta diharapkan dapat membuat dan menyebarkan konten positif dengan memperhatikan nilai-nilai yang telah disampaikan. Semoga kegiatan ini dapat menciptakan generasi muda yang optimis,berpikiran positif, religius, menjunjung tinggi nasionalisme, kebhinekaan serta menjadi pengguna media sosial yang bertanggungjawab,” ujar Niken.

Kegiatan literasi media ini merupakan yang kelima setelah Kominfo dan Komsos KWI menyambangi Jakarta/Bogor, Malang, Medan, dan Bandung. Selanjutnya akan dilakukan di Kota Kupang dan Semarang.

Setidaknya seratusan lebih peserta dari berbagai kelompok yang tergabung dalam OMK hadir di Catholic Youth Center, Minahasa.

Sumber Kompas.com

 

Berita Lainnya
Leave a comment