Untuk Kepentingan Umum

Sudin

Sudin Antoro berhasil menjadi ketua kelompok kerja (Pokja) wartawan Harian Tangerang Selatan periode 2017-2019. Terpilihnya Sudin diharapkan bisa memberikan secercah harapan bagi kelangsungan organisasi yang sudah berdiri sejak beberapa tahun lalu.    Tidak mudah memang untuk menjalankan roda organisasi setelah beberapa tahun sedikit vakum. Namun, dengan kemauan dan kerja keras bersama-sama, keyakinan untuk berjalannya pokja Tangsel sedikit banyak bisa terealisasi. Tugas pertamanya adalah menyatukan semua elemen yang ada di Pokja.

Pekerjaan itu bisa dikatakan susah-susah gampang. Maklum dengan anggota hampir 70 orang, tidak semuanya bisa memiliki kesepahaman yang sama. Tugas ketua sebagai nahkoda itu sangat penting menyatukan semua kepentingan.  Sebetulnya ini pekerjaan mudah, tapi ketika organisasi pernah mandeg, artinya pernah ada komunikasi terputus. Tantangan ini yang harus bisa dijawab oleh Sudin.

Sebagai wartawan yang sudah empat tahun bertugas di Tangsel, Sudin harusnya paham bagaimana mengelola kesepahaman tersebut. Sedikit banyak, ia tahu karakter teman-teman wartawan, baik media cetak, elektronik ataupun online.

Sebagai kawan, saya tidak meragukan kapasitas Sudin. Ia memiliki pembawaan yang tenang, santai, dan punya jiwa kepemimpinan. Jika dilihat dari fisik, ia juga memiliki bakat untuk memimpin. Hidungnya yang besar semakin menegaskan hal tersebut. Beberapa pemimpin memiliki hidung besar, seperti Gubernur Banten Wahidin Halim, Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie, Wakil Walikota Tangerang Sachrudin. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta Soekarno juga memiliki hidup besar. Artinya jika dilihat dari fisik, Sudin punya bakat memimpin.

Apalagi jika sudah bercerita soal mistisme, rasanya dirinya paling ahli. Cerita-cerita uniknya, seperti pernah tertidur saat mengendarai motor dari Pamulang-Serpong, harus terus ada. Itu sebagai bumbu-bumbu penyedap  dalam membangun sebuah persekawanan. Bagi yang menganggap serius cerita ini, mungkin terasa aneh, namun bila kita berfikir sebagai guyonan bisa jadi, itu caranya dia membangun komunikasi yang baik. Itu modal Sudin dalam membangun hubungan pertemanan.

Maka itu, ketika terpilih menjadi ketua, saya melihat gaya komunikasinya bisa diterima oleh teman-teman. Meskipun, hal tersebut rasanya belum cukup jika tidak mampu memanajerial puluhan kawan-kawan di Pokja. Pendekatan antar personal itu penting dilakukan. Teman-teman yang senior harus didekati, begitupun dengan yang junior. Prinsip kesetaraan sangat penting untuk membangun sebuah organisasi. Apalagi jika hal itu bisa dilakukan.

Kita butuh senior untuk mengisahkan pengalamannya sebagai wartawan. Begitupun kita butuh teman-teman junior dalam kapasitasnya membangun semangat bekerja. Biasanya yang baru menjadi wartawan, eksistensi bekerja tidak diragukan lagi. Terutama dalam hal memunculkan ide-ide segar yang brilian. Nah, kesinambungan ini yang harus bisa dikelola dengan baik oleh Sudin Antoro.

Sebagai orang Tegal, Jawa Tengah, rasanya ia bisa melakukan hal tersebut. Apalagi ciri masyarakat pesisir yang kadang keras, kadang lembut juga dibutuhkan untuk mengelola prinsip tersebut.

Bila ia bisa lakukan hal itu, rasanya Pokja Tangsel yang punya semangat besar untuk bangkit akan bisa terealisasi. Dibutuhkan kerja keras semua pihak untuk mewujudkannya. Jika kemauan itu bisa digarap, rasanya rasa pesimistis yang terdengar akan hilang dengan sendirinya. Apalagi skeptisme soal Pokja yang hanya bergerak ketika mau pemilihan ketua dan jelang Lebaran bisa terkikis dengan semangat teman-teman.

Ini yang harus terus ditonjolkan. Budaya diskusi, membaca, sudah mulai harus dilakukan. Wartawan sebagai penyebar informasi harus dapat memulai hal itu. Rasanya ini tidak sulit, apalagi bila melihat kapasitas teman-teman yang tergabung di Pokja Kota Tangsel.

Lewat semangat ini, tumbuhnya organisasi yang independen, kredibel, dan progresif akan segera terwujud.

Akhir kata, semangat bekerja Sudin. Sebagai nakhoda, Pokja Tangsel harus terus maju dan semakin jaya. (firda)

Berita Lainnya
Leave a comment