Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Keluarga Cendana

Hujan deras mengguyur Kota Tangsel menjelang sore membuat saya terpaksa berteduh di pelataran parkir Puspem Kota Tangsel.

Beruntung rasa bosan yang menerjang menunggu hujan reda sedikit terobati dengan cerita dari seorang kawan. Seperti biasa, pria asli Tegal ini bercerita tentang kisah hidupnya yang menurut dia luar biasa. Obrolan dibuka dengan cerita tentang tipe perempuan. Kata dia, ada beberapa tipikal perempuan. Dari setia, penggoda, mudah digoda, mudah selingkuh, hingga berani sama laki-laki.

Singkat cerita, perempuan yang memiliki jenjang karir bagus, gaji cukup besar, memiliki potensi melawan laki-laki. Kisah ini dengan detil dikisahkannya secara rinci. Pikir saya, ia hebat lantaran dapat menceritakan sesuatu yang sebetulnya sudah terbungkus rapat. Apa betul ia memiliki pengalaman seperti itu atau hanya mendapat cerita dari teman-temannya saja.

Obrolan soal perempuan memang selalu memberikan kisah yang menarik. Mulai dari soal Inggrit Ganarsih yang menemani Soekarno saat awal merintis karir politik. Hingga merelakan lelaki yang dicintainya itu bersama Fatmawati ketika ia menjadi orang nomor satu di republik ini. Konon Inggrit tahu luar dalam sang proklamator. Dalam buku Kuantar Kau ke Gerbang karya Ramadhan KH, Inggrit bertutur sang singa podium yang gagah ketika orasi, namun takut darah ayam. Ia bahkan tidak berani ketika disuruh memegang ayam saat mau disembelih.

Ataupun sakit hatinya, saat Kusno-sapaan Soekarno, hendak meminta izin untuk menikahi Fatmawati. Waktu itu sudah subuh. Kusno membangunkan Inggrit. Suaranya serak.

“Aku ingin menikah dengan Fatma. Aku ingin punya anak,” kata Kusno kepada Inggrit.  Hati Inggrit serasa hancur ketika Kusno mengatakan hal tersebut. Dengan sendu ia menjawab. “Kitakan sudah punya dua anak,” kata Inggrit. “Iya, tapi aku ingin punya anak kandung,” jawab Kusno. Kisah tersebut begitu haru, dan begitu rinci dikisahkan Ramadhan KH, sastrawan terkemuka yang juga ayah kandung drummer Gilang Ramadhan.

Lain kisah Kusno, ada juga cerita mengenai Ken Dedes yang bersua dengan Ken Arok. Kisah ini begitu indah dituangkan Pramoedya Ananta Toer dalam roman Arok Dedes. Cinta dua manusia yang hidup dalam rivalitas awal kerajaan Majapahit.

Dalam sejarah, perempuan memang memiliki peranan yang penting dalam keberlangsungan seorang pria.

Kisah tentang dibalik pria hebat, selalu ada perempuan hebat. Cinta Habibie-Ainun selalu menjadi rujukan pasangan kaum milenial tentang indahnya cinta abadi. Nabinya kaum proletar, Karl Marx bahkan bisa beratus lembar menuliskan tentang sosok, sang istri, Jenny Von Westphalen. Jelang akhir hayatnya, ia menuliskan kata yang begitu realistis.

“Tentu saja banyak wanita di dunia, beberapa diantaranya cantik, namun di mana akan kudapatkan wanita yang setiap raut hingga kerutannya mengingatkanku pada memori-memori paling manis dan indah dalam hidupku,” tulis Marx menggambarkan sosok Jenny.

Habis berkisah tentang perempuan, teman saya ini bercerita tentang keluarga Cendana. Kisah keluarga yang menguasai Nusantara selama 32 tahun. Kisah tentang orang kuat. Kisah tentang raja Jawa yang direpresentasikan dalam wujud seorang Soeharto.

Lah, kenapa tiba-tiba berkisah Keluarga Cendana. Iya, kawan saya ini bercerita kalau ia punya teman dekat dengan keluarga ini. Kisahnya menarik bagi saya. Bicara Cendana, bicara tentang sejarah Indonesia pasca Soekarno.

Soeharto bukan hanya nama. Ia arsitek Orde Baru yang pernah berkuasa puluhan tahun. Sama dengan kejayaan raja Mataram Hamengkubowono II, yang juga berkuasa 32 tahun. Entah benar atau tidak hubungannya. Namun, dua orang ini berasal dari trah yang sama. Tanah Mataram, yang bisa disebut sebagai pusat tanah Jawa.

Kisah tentang Soeharto selalu misterius. Tidak ada yang tahu secara terperinci tentang asal-usulnya. Hanya dalam sejarah resmi Orde Baru, ia berasal dari Kemusuk, Godean, Yogyakarta. Soeharto mengaku sebagai anak petani.

Daerah Godean termasuk wilayah yang sejuk dan asri. Untuk mencapai daerah tersebut perlu waktu 30 menit dari Bandara Adi Sucipto, atau 15 menit dari stasiun Tugu. Jalannya mulus tidak ada yang jelek. Maklum sebagai tanah kelahiran sang penguasa, harus bagus.

Dalam menjalankan kekuasaannya, Soeharto menerapkan dua cara. Mengutip teori Louis Althusser, represif state apparatus dan ideologis state apparatus. Dua alat ini sangat efektif dijalankan olehnya. Negara menjalankan kekuasaan dengan memaksa dan mencuci otak. Memaksa yaitu dengan menggunakan alat Negara, seperti polisi dan tentara. Dengan ideologis, yaitu lewat pelajaran-pelajaran di sekolah-sekolah ataupun melalui media massa yang dikontrol oleh Negara. Nah, dari dua kekuatan ini, kekuasaan secara tidak sadar dijalankan.

Soeharto mengusai semua lini selama puluhan tahun berkuasa. Tidak ada yang berani melawan titahnya. Kita sering mendengar istilah gebuk dalam bahasa Soeharto. Kata gebuk sebuah perintah, yang mana tidak perlu diartikan lebih jauh lagi.

Selama berkuasa semua diberangus. Pers disensor, gerakan mahasiswa diredam, pun dengan gerakan buruh.

Baginya stabilitas politik harus ada. Jika ini bisa dijalankan, ekonomi akan tumbuh. Kata kuncinya adalah pembangunan.

Pancasila menjadi kosonan sakti. Komunis dibuat sebagai musuh bersama. Ia anak haram yang harus dibuang jauh-jauh. Buku-buku kiri tidak boleh disebarluaskan. Pernah, karya tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer diberangus gara-gara ditulis oleh seseorang yang dicap sebagai PKI.

Lucunya, ketika Kejaksaan Agung melarang buku tersebut, aparat hukum tidak bisa menunjukkan dimana letak berbahayanya buku tersebut. Padahal buku itu menceritakan sejarah modern Bangsa Indonesia di tahun 1900 awal.

Saking phobia terhadap komunis yang berbau dengan orang dicap kiri itu sama berbahaya. Karyanya pun dilarang.

Namun tidak semuanya orang membenci Soeharto. Bagi pencintanya ia dianggap pahlawan. Kini kita melihat banyak karikatur di truk bertuliskan piye kabare, enakan zamanku to. Tulisan tersebut dengan wajah tersenyum sang Jenderal.

Ya, Soeharto adalah sebuah produk. Ia melewati zaman. Ia dirindukan, juga dibenci.

Begitupun dengan keluarga Cendana, yang identik dengan Soeharto. Maka itu, ketika kawan saya bercerita tentang keluarga ini, tentunya tidak akan bisa dilepaskan dalam sejarah modern Indonesia. Keluarga orang berkuasa dengan segala kisah dan ceritanya. Jalan Cendana akan selalu menjadi misterius hingga kini. Menapaknya sama dengan melihat kejayaannya ketika berkuasa puluhan tahun.

Ia akan selalu dikenang sebagai pahlawan bagi pengagumnya atau diktaktor bagi musuh politiknya. Ya, Soeharto tidak akan terlepas dalam perjalanan bangsa ini. Selamat malam Pak Harto. (firda)

Berita Lainnya
Leave a comment