Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Nurhidayatullah, Mantan Pemulung yang Jadi Camat

Tidak Mudah Memang, Namun Harus Dijalani.
Garis tangan seseorang tidak ada yang tahu. Maka itu, jangan pernah meremehkan sesuatu. Apalagi menganggap orang lain lebih rendah. Kata-kata itu, paling pas melekat kepada Nurhidayatullah. Bagaimana tidak, kerasnya hidup menempanya hingga kini menjadi seorang camat. Seperti apa kisahnya?
TANGERANG– Kerja keras. Kata itu paling tepat digambarkan Camat Batu Ceper Nurhidayatullah. Perjalanan hidup hingga menjadi orang nomor satu di Kecamatan Batu Ceper bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi melalui proses berliku dan penuh rintangan. Sejak kecil hingga remaja ia sudah terbiasa berjualan es, skuteng hingga menjadi pemulung. Namun itu dilakoni dengan penuh semangat dan tanpa pernah mengeluh.
Pria yang biasa disapa Haji Ayak ini melakukan pekerjaan tersebut karena ingin mencari rejeki yang halal. Mencari uang hasil dari keringat sendiri.
Sementara saat kuliah dirinya berbisnis jual beli mobil bekas. Dari kegiatan itu mampu membiayai kuliah sampai kelar. Karena kedua orangtuanya guru, maka H Ayak muda juga bercita-cita menjadi guru. Dia diterima di salah satu sekolah sebagai guru olahraga.
Pernah mengajar di SMP Annajah Kebayoran Lama Jakarta Selatan, SMP Trimulia Pesanggaran Jakarta Selatan, SMA Kosgoro dan SMAN 3 Kota Tangerang di Karang Tengah dengan status honor.
Berbekal pengalaman mengajar di beberapa sekolah Haji Ayak mencoba melamar di Pemkot Tangerang. Awal karirnya sebagai staf Kelurahan Karang Tengah. Kemudian berpindah-pindah dari kelurahan ke kelurahan di Kecamatan Ciledug. Mulai dari Kelurahan Gaga dan Kelurahan Pondok Bahar dengan status honor.
Pria yang pernah ikut kejuaraan lari 10 K di Tangerang dan Borobudur, Jawa Tengah, ini juga pernah menjabat Lurah Karang Tengah, Lurah Pedurenan dan Sekretaris Camat (Sekcam) Karang Tengah. Kemudian Kepala Bidang Sosial di Dinas Sosial, Sekcam Benda dan Sekcam Pinang.
Haji Ayak dikenal aktif di masyarakat dan juga tercatat sebagai Ketua Forum Cinta Kota Tangerang (Forcita). Masa mudanya dijalani dengan hidup bekerja keras, disiplin dan prihatin menjadi motivasinya untuk selalu hidup semangat.
“Saya tidak malu pernah jadi pemulung. Justru dari itu saya mengetahui cara menghargai pekerjaan dan juga orang lain,” katanya kepada Respublika.id pekan lalu.
Karena itu dirinya merasa terharu bila bertemu pemulung. Menurutnya, masyarakat melihat profesi pemulung sebelah mata. Image pemulung di masyarakat sangat melekat. Padahal mereka melakukan itu untuk mempertahankan hidupnya. Sementara Ayak muda sampai menjadi pemulung bukan karena alasan keluarga yang kurang mampu. Apalagi kedua orangtua berprofesi guru.
“Ini soal prinsip saya yang ingin mandiri dan bekerja keras,” kata pria kelahiran 49 tahun lalu ini.
Pemuda Jangan Manja
Menurutnya, bulan Oktober yang dikenal bulan kelahiran Sumpah Pemuda harus dijadikan momentum bagi pemuda untuk bangkit. Ini sudah dibuktikan bahwa lewat gerakan pemuda menjadi tonggak sejarah penting bangsa Indonesia.
Ada tiga hal penting dari Sumpah Pemuda itu yakni bertanah air satu tanah air Indoensia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu bahsa Indonesia. “Ini yang harus dijaga pemuda, kita harus bangkit dan tidak boleh manja, tetapi pemuda harus membuat kegiatan-kegiatan positif untuk nusa dan bangsa,” tegasnya. (****)
Berita Lainnya
Leave a comment