Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Jejak Soeharto Terendus di Paradise Papers

Selama memimpin Indonesia, Soeharto berhasil membangun kerajaan bisnis dan menimbun pundi-pundi dolar di dalam dan luar negeri.

Setahun setelah muncul Panama Papers yang mengungkap investasi para pesohor dunia di negara surga pajak Panama, kini muncul Paradise Papers yang mengungkapkan rincian kepemilikan investasi dan skema penghindaran pajak di Bermuda.

Jika jutaan dokumen Panama Papers yang bocor itu berasal dari perusahaan penyedia layanan hukum offshore bernama Mossack Fonseca, maka Paradise Papers berasal dari perusahaan Appleby. Surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung adalah yang pertama kali memperoleh bocoran dokumen tersebut, yang kemudian dibagi ke International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ).

“Mereka [Mossack Fonseca dan Appleby] sama-sama firma hukum yang membantu klien mereka untuk membuka perusahaan cangkang di luar negeri. Jadi, kalau mau beli sesuatu di luar negeri, Anda tidak mau pakai nama Anda langsung, Anda bikin perusahaan cangkang atau shell company. Makin rahasia, makin mahal tarifnya,” papar salah satu anggota pendiri ICIJ Andreas Harsono kepada Antara.

Nama beberapa pesohor dunia disebut dalam Paradise Papers. Di antaranya adalah Ratu Elizabeth II, vokalis U2 Bono hingga Madonna. Beberapa nama pesohor di Indonesia seperti Prabowo dan dua anak Soeharto yakni Hutomo Mandala Putra dan Mamiek Soeharto turut disebut dalam dokumen tersebut.

 

Hutomo Mandala Putra disebut menjadi pemimpin Grup Humpuss serta menjadi direktur dan komisaris di Asia Market Investments Ltd, sebuah perusahaan yang terdaftar di Bermuda pada 1997 dan tutup tahun 2000. Tommy juga menjadi salah satu pemegang saham di perusahaan mobil sport Italia Lamborghini, menurut data Securities and Exchange Commission. 

Pada 1997, menurut laporan Appleby terdapat perusahaan patungan di Bermuda yang terdiri dari anak perusahaan Humpuss dan NLD yang merupakan perusahaan periklanan Australia. Perusahaan ini menjalankan proyek pemasangan iklan reklame di jalanan Victoria, Filipina, Malaysia, Myanmar dan Cina. Namun perusahaan ini ditutup pada 2003.

Sedangkan Mamiek, anak Soeharto lainnya yang disebut dalam dokumen tersebut merupakan wakil presiden dari Golden Spike Pasiriaman Ltd dan pemilik Golden Spike South Sumatera Ltd. Berdasarkan laporan ICIJ, kedua perusahaan itu terdaftar di Bermuda pada 1990an namun kini sudah ditutup. Munculnya nama anak Soeharto kemudian memunculkan pertanyaan lama soal harta keluarga Cendana.
Harta Keluarga Soeharto

Berdasarkan hasil investigasi Time yang diterbitkan pada 1999, Soeharto telah membangun kerajaan bisnis dan menimbun miliaran dolar AS di dalam maupun di luar negeri. Aset Soeharto di luar negeri termasuk taman berburu senilai $4 juta di Selandia Baru dan saham di kapal pesiar senilai $4 juta yang ditambatkan di dekat Darwin, Australia.

Tak hanya aset, miliaran dolar uang Soeharto juga di simpan di Bank Swiss. Hal ini diketahui saat Soeharto lengser, ia pun bergerak cepat untuk mengamankan harta kekayaannya dengan mentransfer $9 miliar dari bank Swiss ke akun bank Austria.

Menurut laporan BPN yang dikutip  Time, di dalam negeri Soeharto mengendalikan 3,6 juta hektar real estate dan 100.000 meter persegi ruangan kantor di Jakarta. Dalam laporan New York Times, aset Soeharto diperkirakan mencapai $30 miliar. Akan tetapi, Soeharto membantah laporan itu. Menurutnya, ia hanya memiliki 19 hektar tanah di Indonesia serta tabungan sebesar $2,4 juta. 

Laporan The Economist menyebutkan bahwa total harta pribadi Soeharto sebesar $16 miliar karena telah dibagi-bagi kepada istri, enam anak, saudara tiri hingga cucu laki-laki Soeharto. Berdasarkan Transparency International harta Soeharto mencapai $15-35 miliar. 

Harta Soeharto memang mengalir ke anak-anaknya. Mereka turut membantu dalam menimbun dolar di dalam dan di luar negeri. Berdasarkan laporan Time, anak-anak Soeharto memiliki ekuitas di sekitar 564 perusahaan, dan memiliki hubungan dengan ratusan perusahaan luar negeri lain yang tersebar dari Amerika Serikat, Uzbekistan, Belanda, Nigeria dan Vanuatu.

Anak bungsu Soeharto, Hutomo Mandala Putra, memiliki 75 persen saham di lapangan golf lengkap dengan 22 apartemen mewah di Ascot, Inggris. Di Indonesia, ia membangun proyek mobil nasional atau mobil Timor yang diasosiasi dengan Kia Motors asal Korea Selatan. Di Jakarta, Tommy membangun sirkuit mobil di area seluas 425 hektar dengan biaya $50 juta, menurut laporan New York Times.

Sedangkan kakak Tommy, Bambang Trihatmodjo, memiliki rumah peristirahatan mewah senilai $8 juta di Singapura dan sebuah rumah seharga $12 juta di sebuah lingkungan eksklusif di Los Angeles yang tak jauh dari rumah Sigit Harjoyudanto (putra kedua Soeharto) yang rumahnya senilai $9 juta. Majalah Forbes tahun 2007 menobatkan Bambang Trihatmodjo sebagai orang ke-33 paling kaya di Indonesia. Total harta yang ia miliki mencapai $200 juta.

Para putri Soeharto tak kurang tajirnya. Siti Hardiyanti Rukmana dikabarkan memiliki sejumlah pesawat seperti Boeing 737, Canadian Challenger 601, BAC – 111, McDonnell Douglas DC-10 dan pesawat dari Royal Squadron.
Dari Mana Kekayaan Keluarga Soeharto?

Sebelum menjadi orang nomor satu di Indonesia, Soeharto dan istrinya Siti Hartinah (Ibu Tien) hidup sederhana di rumah di daerah Menteng, Jakarta. Saat itu, Soeharto masih menggunakan mobil Ford Galaxy. Keinginannya untuk menimbun sejumlah uang mulai kentara saat di tahun 1950an, ia terlibat dalam penyelundupan gula dan kegiatan di luar militer lainnya di Jawa Tengah. Hal ini sempat membuatnya kehilangan kedudukan sebagai panglima Kodam Diponegoro pada 1959.

Tak berhenti mengumpulkan dolar, tujuh tahun berselang atau pada 1966 bisnis keluarga Soeharto mulai terbentuk. Ketika resmi menjabat Presiden, Soeharto mengeluarkan Peraturan Pemerintah no.8 untuk merampas dua konglomerasi yang dikuasai Sukarno dengan aset sebanyak $2 miliar.

Soeharto berkuasa atas PT Pilot Project Berdikari yang dikelola Achmad Tirtosudiro, seorang pensiunan jenderal. Perusahaan ini menjadi salah motor utama kerajaan bisnis Soeharto. Ia kian berjaya bersama kroninya Liem Sioe Liong dan The Kian Seng, yang lebih dikenal sebagai Mohammad “Bob” Hasan. Soeharto juga mulai memberikan hak monopoli untuk impor, penggilingan dan distribusi gandum serta tepung kepada PT. Bogasari Flour Mills yang dikuasai oleh Kelompok Salim milik Liem.

Untuk menutupi segala aksinya, Soeharto membangun yayasan amal untuk membiayai rumah sakit, masjid hingga sekolah. Menurut George Aditjondro, pengajar Sosiologi di Universitas Newcastle, Australia, ada sekitar 79 yayasan yang dikuasai oleh Soeharto dan keluarga serta kroninya.

“Yayasan-yayasan tersebut membeli berbagai saham, mendirikan berbagai perusahaan, meminjamkan uang kepada para pengusaha,” kata Adnan Buyung Nasution.
Pada 1978, yayasan Soeharto berhasil menguasai 60 persen saham Bank Duta. Secara perlahan kepemilikan Soeharto bertambah hingga 87 persen saham bank tersebut menjadi miliknya. Dana yayasan Soeharto kemudian diinvestasikan ke berbagai perusahaan swasta yang didirikan anggota keluarga Soeharto dan kroninya.

Salah satu mesin penghasil uang utama bagi Soeharto adalah PT. Nusantara Ampera Bakti, atau Nusamba yang didirikan tahun 1981 oleh tiga yayasan Soeharto dengan modal sekitar $1,5 juta bersama Bob Hasan dan Sigit Suharto (masing-masing memperoleh saham 10 persen).

Perusahaan ini kemudian membuka jaringan 30 anak perusahaan di bidang keuangan, energi, pulp dan kertas, baja serta otomotif. Jantung Nusamba terletak pada saham sebesar 4,7 persen di Freeport Indonesia, sebuah perusahaan penambang emas AS di Papua. 

Melihat kesuksesan ayahnya, anak-anak Soeharto mulai turut berbisnis. Dalam laporan Time, perusahaan Perta Oil Marketing dan Permindo Oil Trading milik Tommy dan Bambang menjadi perusahaan penyalur minyak bagi Pertamina di tahun 1980an. Dua perusahaan itu menerima komisi sekitar $30-35 sen per barrel. Selain itu keluarga Soeharto juga mendapatkan kontrak-kontrak Pertamina untuk asuransi, keamanan, suplai makanan dan jasa-jasa lainnya. Totalnya mencapai 170 kontrak.

Selain itu, Bambang juga menguasai BULOG. Ia mendapat keuntungan $3-5 miliar dari program pemerintah untuk menstabilkan harga beras. Bambang juga menguasai Satelindo yang menurut harga pasar bernilai $2,3 miliar pada 1995. Sedangkan Siti Hardijanti Rukmana juga menguasai telekomunikasi, perbankan, perkebunan, penggilingan tepung terigu, konstruksi, kehutanan, serta penyulingan dan perdagangan gula.

Pundi-pundi dolar keluarga Suharto tak hanya bersumber dari kontrak-kontrak pemerintah, tetapi juga dikumpulkan melalui perampasan lahan rakyat. Peternakan sapi di Jawa Barat misalnya, yang dibangun setelah merampas tanah lebih dari 751 hektar yang dihuni oleh lima desa. Pada 1996 perusahaan Tommy merampas tanah penduduk desa di Bali seluas 650 hektar untuk resor. Perusahaan itu sebenarnya hanya memperoleh izin untuk 130 hektar, yang kemudian diperluas secara ilegal.

Pada 2016, nama Tommy Soeharto, Bambang Trihadmodjo dan Siti Rukmana berada dalam daftar “150 Orang Terkaya Asia” yang dirilis The Globe Asia.

Penghasilan Tommy didapat dari menjalankan Humpuss Group, pemain utama logistik energi dengan PT Humpuss Intermoda. Ia juga memiliki properti di bawah naungan KG Property yang mengembangkan superblok Kota Mangkuluhur di Semanggi, Jakarta Pusat dan kompleks apartemen Jayanti City.

Sedangkan Bambang Trihatmodjo berada di urutan 124 dengan total kekayaan 240 juta dolar AS dan Siti Rukmana menempati urutan ke 132 dengan total kekayaan mencapai 190 juta dolar AS.

Kekayaannya diperoleh dari Citra Marga Nusaphala Persada, operator jalan tol yang paling menguntungkan, meski akhinya dilepas ke putrinya Danty Indriastuty Purnamasari.

Siti Rukmana juga membangun perusahan patungan antara Citra Lamtoro dengan San Miguel Corp. dari Filipina untuk mengakuisisi kepemilikan saham tidak langsung di South Luzon Tollway Corporation (SLTC) dan Manila Toll Expressway Systems Inc. CMNP yang menjadi induk perusahaan Citra Lamtoro juga menjadi bagian dalam proyek jalan tol Cikampek-Palimanan, sebuah bagian dari jalan raya trans-Jawa.
Soeharto vs Time

Laporan panjang Time soal kekayaan Soeharto kemudian menuai masalah. Melalui pengacaranya, the smiling general melayangkan gugatan perdata di PN Jakarta Pusat setelah tak ada tanggapan dari dua somasi dilayangkan kepada Time Asia Inc.

Dasar gugatan Soeharto adalah pemberitaan yang dilakukan oleh majalah Time edisi Asia tanggal 24 Mei 1999 Vol. 153 No. 20 dengan judul sampul SUHARTO INC. How Indonesia’s longtime boss built a family fortune yang dianggap tendensius, insinuatif, dan provokatif. Namun PN Jakarta Pusat pada tahun 2000 menolak seluruh tuntutan dari Penggugat atas pijakan bahwa pemberitaan Time tak memenuhi unsur perbuatan melawan hukum berdasarkan pasal 1365 dan 1372 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Tak menyerah pada keputusan, Soeharto melakukan upaya hukum banding. Namun Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada tahun 2001 justru menguatkan putusan PN Jakarta Pusat. Pada 2007, Mahkamah Agung memutuskan bahwa majalah Time telah melakukan fitnah sehingga harus dihukum dengan ganti rugi sebesar 1 triliun rupiah dan memasang iklan permintaan maaf di berbagai media Indonesia termasuk di tiga edisi internasional majalah Time.

Dua tahun kemudian, keputusan kasasi dibatalkan. Mahkamah Agung menyatakan Time tidak perlu membayar ganti rugi Rp1 Triliun kepada keluarga Soeharto. Di tahun yang sama, Bank Dunia dan PBB menyebut Soeharto sebagai pemimpin paling korup di dunia. 

“Pada akhirnya satu hal yang paling transparan di Indonesia adalah korupsi,” kata seorang pengacara Amerika yang sudah lama bekerja di Indonesia, kepada Time.

 

Sumber: Tirto.id

 

Berita Lainnya
Leave a comment