Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Sunanto

Orang-orang di KPU Kota Tangsel memanggilnya Shubi Genta. Selama bertahun-tahun mengenalnya, saya hanya tahu nama Shubi. Saya pikir itu nama asli karena orang di kantor penyelenggara pemilu pun memanggilnya Shubi. Baru kemarin, saya baru tahu, kalau nama aslinya adalah Sunanto.
Sedikit kaget lantaran nama tersebut mengingatkan saya pada tragedi awal 2000. Namanya Sumanto, ia dikenal karena memakan daging orang yang sudah meninggal. Seantero negeri ini dibuat heboh oleh pria asal Purbalingga, Jawa Tengah tersebut.

Iya, nama memang hanya sekadar identitas. Dalam cerita Hamlet, karya dramawan besar William Shakespeare, dikisahkan cerita apalah arti sebuah nama. Nama itu tidak berarti apapun hanya sekadar identitas.
Pemikiran sang pujangga besar tersebut sangat revolusioner. Ia lahir pada 1600an itu sebelum meletusnya revolusi industri yang sebetulnya mengikis mental kelas bangsawan.

Namun, lain cerita soal identitas nama. Di Jawa yang erat dengan budaya feodalnya, nama itu bukan hanya sekadar identitas. Ia mengisyaratkan asal usul, kelas, garis keturunan, hingga kewibawaan. Nama yang panjang juga menunjukkan sebuah cerita, harapan, keinginan, hingga sebuah ketautan. Ya, nama juga adalah doa. Mungkin bagi sebagian orang. Makanya, ketika pemberian nama, entah di manapun ia tinggal, biasanya diselimuti dengan beberapa perayaan.

Baik kecil ataupun besar. Semua orang hadir mendoakan pemberian nama. Tentu generasi yang baru lahir itu diharapkan bisa membawa nama harum sang orang tua. Ia bisa sukses di bidang pekerjaan, bisa sejahtera, bisa membanggakan garis keturunan.

Maka itu, pemberian nama erat kaitannya dengan sebuah harapan dan capaian. Juga pemurnian kelas, bagi orang yang menganggapnya itu sebuah kesakralan. Ungkapan Shakespeare itu sebetulnya sangat revolusioner. Ia mendeklarasikan penghantaman kelas sosial jauh sebelum lahirnya gerakan revolusi industri, yang menjadi tolok ukur kebangkitan perjuangan kelas pekerja.

Kembali lagi kepada Sunanto, yang mengubah namanya menjadi Subhi Genta, bisa dimaknai sebagai sebuah perubahan gejala sosial. Mungkin biar bisa disebut kekinian, modern, ketimbang nama aslinya. Meskipun pengubahan nama itu biasanya lahir dari sebuah tongkrongan antar kawan. Jarang ada yang menggunakan nama asli dalam sebuah lingkungan yang kekerabatannya cukup erat.

Lalu, orang akan terbiasa memanggilnya dengan nama samaran ketimbang nama asli. Hal ini ditemui hampir di sebuah tempat. Biasanya nama asli hanya dilampirkan pada ijazah, kartu tanda penduduk, identitas kepegawaian ataupun kartu keluarga. Selebihnya di luar sana, hanya nama samaran yang lebih dikenal.
Bahkan sekelas mantan Gubernur DKI Jakarta pun orang lebih mengenalnya dengan sebutan Ahok ketimbang nama aslinya, Basuki Tjahaja Purnama.

Itu lah mengapa nama samaran lebih dikenal ketimbang nama asli. Sebetulnya ini gejala perubahan zaman. Bisa jadi gerakan menolak aristokrasi ataupun feodalisme yang lebih soft. Coba saja, lihat nama-nama kawan kita yang mungkin berasal dari anak penggede. Biasanya nama tersebut berbau feodal, misal menggunakan raden, ratu, lalu, mas, dan sebagainya. Tetapi dalam kesehariannya, nama tersebut sengaja dihilangkan.

Hal ini sangat baik dalam rangka melawan segala bentuk feodalisme dan kawan-kawannya. Namun, harus juga diikuti dengan spirit mentalnya. Jangan hanya nama saja yang ingin dihilangkan, tapi gaya dan perilaku sangat priyayi.
Maka itu, adanya perubahan nama dari nama asli setidaknya sebuah bentuk simbol perlawanan terhadap segala bentuk feodalisme. Entah itu masih menunjukkan pola lama ataupun pola baru.

Pola lama itu identitasnya adalah sebuah nama. Sementara pola baru biasanya dibarengi dengan pemberian gelar yang panjang-panjang. Misal haji, Sh, Mh, MM, MT dan sebagainya.

Gelar yang panjang itu banyak ditemui di jalan-jalan protokol. Apalagi mau musim politik sekarang ini, wajah-wajah manis, senyum sumringah, akan banyak kita temui. Dengan tersenyum, nama beserta gelar yang diraih akan dipajang. Walaupun gelar itu sebetulnya tidak berkorelasi ia akan menjadi orang jujur, tidak korupsi, tidak kolusi ataupun melakukan pemufakatan jahat.

Apakah kita akan takjub dengan sederetan gelar itu, tentu tidak. Banyak yang memiliki banyak gelar, nilai akademis baik, akan amanah ketika memimpin jadi kepala daerah, pejabat, dan sejenisnya. Korupsi ya tetap saja korupsi. Karena mental seseorang biasanya diuji ketika diberi kekuasaan.

Kembali pada Sunanto atau Shubi. Ia mengganti nama bukan untuk gagah-gagahan, keren-kerenan, tapi hanya pengubahan identitas secara kebetulan.

Dari pengubahan nama ini, rupanya ia mengajarkan kita pada sebuah kejujuran, sebuah loyalitas, hingga cara menghargai pekerjaan. Saya bisa mengatakan ini karena ia sudah mengabdi di KPU hampir delapan tahun. Menjadi pegawai honorer dengan gaji yang lumayan. Lumayan pas-pasan, lumayan untuk menyambung hidup.

Spirit loyalitas ini yang bisa kita pelajari dari Sunanto. Ia tetap ceria, dengan rambut klimis ala aktor besar Leonardo DiCaprio yang sering kita lihat. Meskipun minyak rambut kepunyaan Sunanto dengan Dicaprio harganya jauh berbeda. Namun semangat penampilan mirip aktor Hollywood yang mesti kita acungi jempol dari seorang Shubi Genta alias Sunanto.

Kebon Nanas, Kota Tangerang.

Firda

Berita Lainnya
Leave a comment