Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Cerita Para Aktivis

Ini cerita para aktivis kampus. Aktivis mahasiswa yang semasa kuliahnya tidak hanya sekadar mengisi bangku kuliah, pulang, ikut ujian, skripsi, lulus dengan nilai akademisi yang baik. Indeks prestasi kumulatifnya di atas rata-rata. Lalu setelah lulus mendapat pekerjaan dengan gaji yang besar.

Bukan itu. Ini cerita mahasiswa yang sebagian waktunya di kampus diisi dengan berorganisasi. Masa di mana pertarungan intelektual terus berkecamuk. Masa di mana cita-cita idealisme tumbuh di ruang-ruang perkuliahan.
Kisah tentang para aktivis kembali menyeruak dalam relung saya ketika bertemu dengan Mujahid Zein. Ia mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Islam Negeri Syarifhidayatullah Ciputat.

Jabatannya sebagai aktivis cukup mentereng. Pernah menjadi Wakil Presiden kampus. Posisi ini cukup membanggakan karena bisa menjadi orang nomor dua di kampus tersebut.

Setelah lulus hampir sepuluh tahun, Mujahid kini duduk menjadi komisioner KPU Kota Tangsel.
Badannya cukup tambun meskipun kini rada-rada kurus karena ia sudah rajin berpuasa. Diet sambil mendapatkan nilai ibadah, begitu kira-kira kata Mujahid saat ditanya tentang ritual puasanya.

Mujahid menjadi aktivis pasca reformasi 1998. Bisa dikatakan ia generasi yang cukup melek politik karena pada masa itu keran berdemokrasi bagi para mahasiswa terbuka selebar-lebarnya.

Tidak seperti pada masa Orde Baru di mana ada peraturan pemerintah soal normalisasi kehidupan kampus (NKK) yang terbit setelah meletusnya peristiwa 15 Februari 1974 atau yang dikenal dengan sebutan Malari.

Keluarnya aturan tersebut membuat gerakan mahasiswa agak tiarap. Pemerintah saat itu meminta mahasiswa tidak usah ikut-ikutan berpolitik, namun disuruh untuk fokus belajar saja.Masalah politik biar pemerintah saja yang mengurusnya. Seperti itu kira-kira alasan Orde Baru mengeluarkan kebijakan tersebut.

Setelah Soeharto tumbang pada 1998, aktivitas mahasiswa kembali mengeliat. Seperti terbebas dari penjara, para mahasiswa kini tidak hanya sibuk mengurusi kuliah saja. Tetapi aktif juga berorganisasi.
Itupun yang dialami Mujahid. Pilihannya jatuh kepada HMI, meskipun ia tumbuh di lingkungan Muhammadiyah yang kental.

Aktif di organisasi ini rasanya tidak salah, karena HMI suka atau tidak suka melahirkan beberapa tokoh yang cukup berkonstribusi di percaturan politik nasional. Nama-nama seperti Mahfud MD, Akbar Tandjung, Anas Urbanigrum, MS Kaban, Jimly Assidiqie, hingga Anies Baswedan.

Apalagi ia juga kuliah di UIN Syarifhidayatullah, kampus dengan dialektika intelektualnya sangat baik. Pada 2000 kita mengenal istilah Mazhab Ciputat. Mazhab yang bisa dikatakan untuk menandingi Mazhab Frankfurt yang saat itu sangat dikenal.

Belum lagi dari kampus ini juga lahir intelektual hebat macam Azyumardi Azra, Komarudin Hidayat, Quraish Syihab, hingga Saiful Mujani.

Dengan geliat intelektual yang hebat, tentunya jejaringnya cukup luas. Hal itu juga mungkin bisa dirasakan oleh Mujahid. Ia bisa bercerita bagaimana tokoh-tokoh yang sudah jadi berasal dari UIN cukup terlibat aktif dalam percaturan politik nasional. Teman seangkatannya banyak yang sudah menjadi doktor dengan kuliah di luar negeri. Seperti Australia, Singapura, Amerika Serikat, hingga Eropa. Negara-negara tersebut memiliki iklim intelektual dengan keilmuan sosial yang cukup baik.

Ia berkisah bagaimana dinamika organisasi cukup menempanya setelah lulus kuliah. Berbagai pekerjaan sudah dilakoninya pasca mendapat sarjana. Mulai dari call center di Indosat, menjadi tim survei, aktif di PNPM hingga kini menjadi komisioner KPU.

Dari sekian pekerjaan yang dilakoninya, mungkin paling berkesan adalah saat menjadi call center Indosat. Soalnya pekerjaan ini melatih kesabaran, baik dari segi pendapatan maupun aktifitasnya yang sedikit menonton. Bayangkan, ia bisa duduk berjam-jam hanya untuk menerima keluhan dari pelanggan Indosat. Apalagi saat itu, untuk menelepon call center, pelanggan tidak dikenakan biaya.

Konsumennya menurut Mujahid juga aneh-aneh, ada yang suka menanyakan hal tidak masuk akal. Misal, penelepon yang berkeluh soal jaringan Indosat yang buruk. Ceritanya konsumen tersebut complain karena jejaring Indosat jelek. Setelah ia tanyakan, buruknya jaringan karena si penelepon sedang berada di puncak gunung. Lah, dimana-mana sinyal jelek kalau berada di ketinggian tertentu. Apalagi ini gunung. Meski begitu keluhan tersebut harus tetap dilayaninya.

Pekerjaan ini dilakoninya tidak lama karena ia merasa menjadi manusia yang terasing. Hidup hanya untuk bekerja saja, menihilkan hubungan sosial. Semuanya diatur, mulai dari waktu sholat, waktu makan, hingga waktu merokok. Waktu menjadi begitu bernilai ketika bekerja di Indosat. Belum lagi masalah libur yang hanya sekali dalam seminggu. Itu cukup menyiksa.

Selepas dari Indosat, aktivitasnya kembali bergairah. Ia seperti hidup lagi karena pekerjaan yang dilakoninya beririsan dengan aktivitasnya semasa di kampus. Menjadi seorang peneliti. Cukup keren karena peneliti identik dengan cendekiawan. Dari penelitian ia keluar masuk kampung, gang-gang sempit hingga perumahan mewah. Karakteristik masyarakat ia jadi tahu. Di perkampungan ia bisa survei hanya dalam satu atau dua hari. Sementara di perkotaan memakan waktu lama, bisa sampai dua minggu.

Dari situ ia bisa memetik pengalaman. Ternyata masyarakat pedesaan lebih bisa menerima orang baru ketimbang masyarakat kota.

Mujahid bisa menginap di rumah kepala desa selama beberapa hari, meskipun ia baru kenal. Ia bisa makan bersama dan suasana itu dalam keakraban yang begitu kental. Baginya itu sangat Indonesia.
Di mana hubungan antar manusianya dibangun dengan kekeluargaan. Nah, ini yang mulai hilang ketika individualisme tumbuh. Materialism menjadi berhala. Tidak ada lagi namanya hubungan emosional yang tumbuh karena memiliki kesamaan. Dalam hal tentang lahir dari rumah yang sama, Indonesia.

Pemberhalaan terhadap materi itu cukup menyesakkan. Sesuatu diukur dengan uang. Keberhasilaan diukur dengan uang. Kesuksesan diukur dengan uang. Tidak ada lagi namanya kebanggaan karena memiliki prestasi dan lain sebagainya.
Kegelisahan itu juga dirasakan oleh Mujahid. Walaupun tidak munafik uang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup. Tetapi ketika semuanya terukur dengan uang, rasanya sebuah nilai agung tentang sebuah kemanusiaan yang hakiki akan tergerus hilang ditelan zaman.

Kebon Nanas, Kota Tangerang.
(Firda)

Berita Lainnya
Leave a comment