Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Sang Penopang Dalam Lagu Chrisye

Chrisye merupakan sosok legendaris khasanah musik tanah air. Bisa dikatakan, ia telah menjadi penyanyi yang sangat produktif. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya soal rahasia kesuksesannya. Begitu pula Chrisye, yang selama 40 tahun berkarier di belantika musik Indonesia, telah berhasil merilis 31 album.

Keberhasilannya tak diraisendiri. Ia dibantu oleh barisan musisi bertalenta yang dengan senang hati menciptakan lagu dan menata musik untuknya.

Pengamat musik Bens Leo meneliti hal tersebut. Ia berpandangan, musik Chrisye sebenarnya hanyalah genre pop biasa. Yang membuat karya-karya itu luar biasa, menurutnya, adalah karakter Chrisye yang sangat kuat, yang dikombinasi dengan bantuan kawan-kawan musisinya.

“Musik Chrisye adalah pop. Tidak ada yang luar biasa istimewa, kecuali suaranya bagus. Kemudian dia memiliki lingkungan yang bagus untuk musik, ada pencipta lagu dan penata musik. Itu yang membuatnya jadi legenda,” ujarnya.

Bens memaparkan, sebagai penyanyi kondang, Chrisye tak banyak membuat lagu sendiri, melainkan membawakan lagu ciptaan orang lain. Tembang-tembang hasil racikan musisi lain itulah yang menopangnya memiliki popularitas yang stabil di atas.

“Itu yang tidak banyak dimiliki penyanyi lain yang biasanya hanya dibantu oleh satu pencipta lagu,”

Sementara Chrisye, imbuh Bens, ditopang oleh beberapa pencipta lagu kenamaan seperti Eros Djarot, Adjie Soetama, Yockie Soerjoprajogo dan Addie MS. Selain itu, Chrisye pun bergaul dengan kawanan musisi kawakan seperti Fariz Rustam Munaf dan Nasution bersaudara yang sering nongkrong di Jalan Pegangsaan yang dikenal dengan sebutan Geng Pegangsaan.

“Chrisye pandai sekali memilih teman yang bisa diajak kerjasama. Itu salah satu contoh penting sosialisasi di antara penyanyi, penata musik, dan pencipta lagu. Kalau dia mengandalkan karya sendiri, maka [kariernya] tidak bisa lama sebetulnya, karena lagu ciptaan dia sendiri kan tidak banyak dan kalau hanya didukung satu pencipta lagu kan biasanya warnanya sama,” kata Bens.

Bens bercerita, nama Chrisye awalnya mulai dikenal setelah menanyikan lagu Lilin-Lilin Kecil yang diciptakan oleh James F. Sundah untuk ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada akhir 1976. Peristiwa ini pun menyeret Chrisye ke pusaran lingkungan pencipta lagu muda saat itu, karena ajang tersebut menjadi salah satu wadah pencipta lagu muda untuk berkreasi.

Mantan jurnalis kelahiran 1952 ini pun tak heran jika banyak lagu Chrisye yang masih dikenal hingga kini. Menurutnya, karya para musisi senior banyak sekali yang berlirik dan bermelodi ‘awet.’

“Lagu-lagu zaman dulu kan lirik dan melodinya long-lasting, bisa didengar cukup lama dan juga bisa menjadi kekinian jika diaransemen dengan cara anak muda sekarang. Itu termasuk karya-karya yang ada di albumnya Chrisye,” ujarnya.

Ben mengambil contoh album Badai Pasti Berlalu (1977) di mana Chrisye juga ikut mengontribusikan suara emasnya. Ia menganggap album tema film dengan judul yang sama itu sebagai mahakarya yang tidak akan dilupakan penikmat musik Tanah Air.

“Sampai kapanpun juga album Badai Pasti Berlalu tidak akan dilupakan orang, karena dulu itu menjadi album yang paling banyak terjual di pasar. Sekarang sudah dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi dan akhirnya menghasilkan lagu-lagu hit yang seolah-olah baru, karena ada aransemen yang berbeda dengan aslinya,” katanya.

Sumber: CNNIndonesia.com

Berita Lainnya
Leave a comment