Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Joshua oh Joshua

Mantan penyanyi cilik Joshua Suherman keseleo lidah saat stand up comedy beberapa waktu lalu. Materi lawakannya yang sensitif memantik sebagian kalangan mengecamnya. Ya, persoalan agama kini lagi gampang terbawa perasaan. Saat itu penyanyi yang terkenal dengan lagu diobok-obok ini membawa materi soal Cherrybelle. Tak tahu kenapa, ia tiba-tiba mengungkit personel girl band yang telah bubar itu.

Sebetulnya, dari sudut budaya pop, apa yang diucapkan Joshua adalah jawaban dari pertanyaan banyak orang: kenapa Anisa Rahma jadi personel Cherrybelle paling dikenal dibanding yang lain?

Seperti kata Joshua, Anisa bukan leader dari girlband yang sudah bubar itu. Cherly leader-nya. Persisnya, mantan penyanyi cilik itu bilang begini:

“Itu terbukti zaman dulu, semua mata lelaki, tertuju pada Anisa, Anisa, Anisa, padahal skill-nya Ani ya tipis-tipis, dance tipis-tipis, cantik relatif, gue mikir, kenapa Anisa lebih unggul dari Cherly, makanya Che, Islam.”
Joshua melanjutkan: “Karena di Indonesia ini, ada satu hal yang tak bisa dikalahkan dengan bakat sebesar apapun, mayoritas-mayoritas.”

Ya, bila Anda ingat, semua personel Cherrybelle keturunan Tionghoa. Hanya Anisa yang muslim dan pribumi. Selain itu, penduduk Indonesia memang mayoritas Muslim. Terbesar di dunia, malah.
Rupanya, ada yang mengganggap omongan itu dianggap menghina Islam. Di mana bagian menghinanya? Apa karena skill Anisa sebetulnya beda tipis dengan personel Cherrybele lain, tapi kok malah ia yang lebih terkenal? Apa menyebut “mayoritas mengalahkan bakat” tergolong menghina?

Di sinilah, sekali lagi kita bertemu sebuah fenomena yang tak terlalu baru terkait kehidupan sosial beragama masyarakat Indonesia zaman now: gampang marah dan tersulut emosinya. Apa-apa langsung diprotes, main lapor pihak berwajib.

Joshua jelas bukan yang pertama dari sikap tak rileks dalam beragama. Sebelumnya ada film musikal anak Naura dan Genk Juara hendak diboikot lantaran penjahatnya bilang istigfar. Sejak kasus pelecehan agama berujung vonis pada Ahok, kasus semacam ini makin banyak kita temukan. Yang jadi tanya lalu, mengapa orang beragama zaman sekarang gampang tersulut amarahnya?

Apa yang diucapkan Joshua bagian dari lawakannya saat tampil di sebuah panggung stand-up comedy yang lalu diunggah seseorang ke Youtube. Apakah lawakan Joshua telah melampaui batas? Dan yang lebih penting lagi, adakah batasan dari sebuah lawakan stand-up comedy? Hal-hal apa saja yang haram dijadikan lelucon?
Setiap budaya dan orang-orangnya punya ukuran masing-masing atas apa yang disebut lucu dan tidak? Bagaimana mengukurnya di Indonesia yang berpancasila. (watyuting/firda)

Berita Lainnya
Leave a comment