Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Isu Agama Kurang Laku Dijual

Isu agama, kini seolah menjadi barang dagangan yang kerap dimainkan jelang kontestasi politik. Biasanya isu itu baik yang positif maupun negatif, kencang menjadi sorotan belakangan. Namun hal itu tidak berkorelasi dengan terdongkraknya partai agamais naik ke papan atas.

Setidaknya, terlihat dari hasil suara responden Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Tiga partai papan atas bukanlah partai agamais. Tiga partai berelektabilitas unggul itu adalah PDIP, Partai Golkar, dan Partai Gerindra.

Survei itu dirilis di Graha Dua Rajawali, Jl Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (25/1/2018).

Elektabilitas PDIP sebesar 22,2%, Partai Golkar 15,5%, dan Partai Gerindra 11,4%. Di urutan ke-4 ada Partai Demokrat dengan 6,2%.

Lalu, di nomor 5 ada PKB dengan 6,2% suara responden. Sebagaimana diketahui, PKB memang partai yang identik dengan agama Islam, khususnya ormas Nahdlatul Ulama.

“PKB diuntungkan dari isu Islam yang sedang seksi. Semenjak Pilkada DKI kemarin, isu Islam sangat seksi sekali. Ini bisa diambil keuntungan oleh PKB yang basis pemilihnya muslim, terutama di NU,” tutur peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, selaku pemapar survei.

Tentu tak butuh seorang ahli untuk menilai bahwa isu agama belakangan ini menjadi isu yang ‘sangat seksi’. Tapi mentok-mentoknya, cuma PKB sebagai partai Islam yang mampu berada di urutan ke-5.

Survei dilakukan pada 7-14 Januari 2018, dengan metode multistage random sampling. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 1.200 orang. Wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan kuesioner, dilengkapi diskusi kelompok terarah (FGD) dan analisis media massa. Margin of error survei adalah 2,9 persen.

Dikotomi parpol agamais dan parpol nasionalis memang tak selalu simpel. Kenyataannya, tak ada parpol yang menolak nasionalisme, tak ada pula parpol yang menolak agama. Namun kategorisasi itulah yang kerap dipakai untuk mempermudah orang awam memahami peta parpol di Indonesia.

Muncul dugaan sebenarnya isu agama tak terlalu kuat untuk mendongkrak elektabilitas partai agamais. Rully Akbar mencoba menjawab alasan partai-partai agamais tak terdongkrak oleh derasnya isu agama. Sebabnya, tak ada partai yang benar-benar agamais.

“Karena tidak ada satu pun partai yang berasaskan agama. Rata-rata basisnya juga nasionalis,” kata Rully.

Yang ada, menurutnya, partai yang mengidentikkan diri dengan agama. Itu pun isu agama tak berpengaruh karena basis pemilihnya rata-rata juga massa nasionalis.

“Paling hanya PKB yang masih bisa meng-grab (meraup) itu. Tapi dia scoop (lingkup pemilih)-nya di NU saja, dan rata-rata di Jawa Timur,” ujar Rully.

Selain NU, ada ormas Islam besar dan tertua di Indonesia, yakni Muhammadiyah. PAN adalah partai berlambang matahari yang sedikit-banyak punya identitas Muhammadiyah. Namun, menurutnya, massa Muhammadiyah cenderung cair sehingga tidak bisa dibatasi perilaku elektoralnya ke satu partai tertentu. PAN ada di urutan ke-10 dengan raupan 2,0% suara responden.

PDIP, Golkar, dan Gerindra adalah tiga partai papan atas menurut survei ini. Adakah dari ketiga partai itu yang diuntungkan oleh derasnya isu agama belakangan ini?

“Isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) tidak ada pengaruhnya di tiga wilayah (parpol) ini. Tapi biasanya nanti berpengaruh ke tahap pencapresan. Kalau ke partai, nggak ada pengaruhnya,” jawabnya

Isu agama juga dimasukkan sebagai satu dari isu SARA. Isu SARA memang bisa bermakna positif, seperti penghargaan terhadap kebinekaan dan saling memahami antargolongan. Isu SARA bisa bermakna negatif bila bermuatan kebencian antarkelompok, baik suku, agama, ras, maupun golongan. (dtk/firda)

Pertanyaan dari survei ini untuk responden berbunyi, ‘Jika Pileg dilakukan hari ini, partai mana yang Anda pilih?’. Berikut ini hasilnya:

1. PDIP 22,2%
2. Golkar 15,5%
3. Gerindra 11,4%
4. Demokrat 6,2%
5. PKB 6,0%
6. NasDem 4,2%
7. PKS 3,8%
8. PPP 3,5%
9. Perindo 3,0%
10. PAN 2,0%
11. Hanura 0,7%
12. PSI 0,3%
13. PBB 0,3%
14. PKPI 0,2%
Tidak tahu/tidak jawab/belum memutuskan/rahasia 20,7%

Berita Lainnya
Leave a comment