Untuk Kepentingan Umum

Jenderal Soemitro, Lee Kuan Yew dan Murka Soeharto

640

Jenderal Soemitro bisa dikatakan orang kuat pasca Presiden Soekarno lengser. Pria kelahiran Probolinggo tahun 1927 ini menduduki posisi penting ketika Soeharto awal-awal menjadi presiden. Ia menduduki beberapa jabatan strategis, dari Panglima Brawijaya, Kepala Hankam, Wakil Pangab, hingga Panglima Komando Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib). Sayang peristiwa 15 Januari 1974 atau disebut Malari membuat Jenderal Soemitro lengser dari pucuk kekuasaan Orde Baru.

Ia menduduki bintang empat pada usia 43 tahun. Usia yang terhitung muda, bahkan tidak pernah ada lagi tentara aktif bisa meraih bintang penuh dalam usia yang begitu muda. Mantu Soeharto, Prabowo Subianto meraih Brigadir Jenderal pada usia 46 tahun.

Dalam buku ‘Soemitro dari Pangdam Mulawarman hingga Pangkopkamtib karya Ramadhan KH, dijelaskan bagaimana Soemitro berjenjang karir dari awal prajurit hingga menduduki posisi Panglima Kopkamtib. Saat pergolakan kemerdekaan, hingga peristiwa 1965 sampai Malapetaka 15 Januari diceritakan secara detail.

Buku ini berkisah tentang sepak terjang Jenderal Mitro, pergolakannya dengan Bung Karno, Soeharto sampai persaingannya dengan Jenderal Ali Moertopo.

Sebagai tentara yang ikut berjuang dalam perang revolusi, Soemitro tentu memiliki pengalaman yang begitu hebat. Pergolakan tentara pasca revolusi membentuk karakternya. Bisa dikatakan Soemitro, salah satu tentara yang bersinar di masanya.

Jelang pergolakan 1965 Soemitro menjadi Panglima Mulawarman. Ia menduduki posisi tersebut lantaran panglima sebelumnya dianggap lembek dengan PKI. Serah terima jabatannya dipimpin langsung Mayjen Soeharto yang saat itu menjabat Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Awal menjadi Panglima Mulawarman, ia dianggap Jenderal kontrep atau kontra revolusi. Hal itu membuatnya marah. Bahkan saat memimpin upacara ia ditertawakan oleh bawahannya.

Hal itu bikin ia naik pitam. Pasca kejadian itu, ia mengumpulkan bawahannya. Dari Dandim, Danrem, hingga Kasdam. Dengan wajah marah, ia membentak bawahannya yang tidak bisa menjaga harga diri pimpinan. “Kalian tahu apa soal revolusi. Kalian hanya bisa teori. Saya sudah berperang saat revolusi. Revolusi sudah selesai. Saya tidak bisa terima saat pemimpin PKI melecehkan saya, kalian cengegesan. Kalian taat sama saya. Kalau kalian taat, sekarang tangkap pemimpin PKI. Itu perintah saya,” kata Soemitro.

“Mereka semua terdiam, bahkan ada yang sampai kencing di celana. Beberapa saat kemudian pimpinan PKI ditangkap,” ujarnya.

Pasca kejadian itu suhu politik di Jakarta rupanya memanas. Bahkan beberapa Jenderal meninggal setelah diculik pasukan Cakrabirawa (sekarang Paspampres). Termasuk Jenderal Ahmad Yani juga ikut tewas oleh gerakan Oktober 1965 itu.

Rupanya kejadian itu menjadi titik awal runtuhnya kejayaan Soekarno. Singkat cerita, secara sistematis Jenderal Soeharto mempreteli kekuasaan sang proklamator.

Nah, Jenderal Soemitro yang memang memiliki hubungan begitu dengan Jenderal Ahmad Yani begitu berang dengan peristiwa itu. Runtuhnya Soekarno juga runtuhnya PKI.

Saat awal Soeharto di pucuk kekuasaan, bisa dikatakan Soemitro berperan aktif dalam mengkonsolidasi kekuasaan Orde Baru.

Gesekan dengan Singapura

Dua prajurit elite KKO Usman dan Harun ditugaskan mengebom pusat keramaian di Singapura pada 1965. Naas ia tertangkap. Keduanya kemudian dieksekusi dengan cara digantung pada 17 Oktober 1968.

Digantungnya dua prajurit KKO mengakibatkan aksi demonstrasi terjadi di mana-mana. Rakyat menuntut agar Presiden Soeharto menyatakan perang dengan Singapura.

Kondisi ini rupanya juga membuat Soeharto begitu kecewa. Ia marah dan tidak nyaman dengan kondisi itu. Padahal saat Presiden Soekarno melakukan konfrontasi dengan Singapura, Soeharto secara tidak langsung mengkonsolidasi agar hal itu tidak terjadi.

Makanya ketika prajurit KKO akhirnya digantung, membuat Soeharto merasa tidak nyaman. Ia begitu kecewa. Padahal sebelum eksekusi itu, Soeharto sudah melobi Perdana Menteri Lee Kuan Yew agar tidak melakukan eksekusi itu. Tetapi atas dasar taat kepada hukum Singapura, eksekusi itu tetap dilakukan. “Setelah kejadian itu, Pak Harto amat murka, tidak enak hati. Ia begitu kecewa dengan keputusan Singapura yang tetap eksekusi Harun dan Usman,” kata Soemitro.

Selepas kejadian itu, Soemitro mengambil langkah cepat agar hal itu tidak mengganggu hubungan kedua negara. Ia terbang ke Singapura untuk berbicara langsung dengan Lee Kuan Yew. Berbagai cara dilakukan termasuk meminta duta besar Indonesia untuk Singapura agar bisa mempertemukannya dengan Lee. Sayang hal ini tidak berhasil karena akses sang dubes terbatas untuk bisa bertemu Lee.

Soemitro gagal. Ia kembali ke Jakarta dan menemui Dubes Singapura untuk Indonesia yang kebetulan memiliki akses dengan Lee. Sang dubes menyanggupi keinginan Soemitro. Ia langsung terbang ke Singapura. Beberapa saat kemudian Soemitro dikontak. Lee bersedia bertemu dengannya.

Ia kemudian kembali ke Singapura. Esok paginya ia dijadwalkan bertemu Lee. Sebelum bertemu dengan orang kuat Singapura itu, Soemitro memanggil professor asal Indonesia yang menjadi dosen di Singapura. Ia bertanya tentang karakter Lee. Dijelaskan kalau Lee memang dikenal angkuh, tidak mau kalah, dan cenderung keras kepala. “Sebelum bertemu Lee saya diskusi lebih dulu. Katanya jangan sampai lembek saat bicara dengan Lee,” ujarnya.

Maka itu ketika bertemu dengan Lee, Soemitro mengeluarkan unek-uneknya. Ia mengatakan digantungnya Harun dan Usman bikin Presiden Soeharto tidak nyaman. Ini mempengaruhi hubungan kedua negara. Padahal saat konfrontasi dengan Singapura, Pak Harto diam-diam melakuan kontra konfrontrasi. Lah, kenapa saat konfrontrasi tidak terwujud tiba-tiba dua prajurit KKO tetap digantung.

“Jujur kondisi ini tidak menguntungkan buat kita. Pak Harto begitu murka dengan kejadian ini. Pak Lee harus menjelaskan hal itu kepada Pak Harto,” tambah Soemitro.

Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu berisi cecaran Soemitro, meskipun beberapa kali wajah Lee begitu merah dengan amarahnya. Namun, Lee kemudian menyadari ada satu hal yang tidak bisa dilihat dari sudut pandang hukum. Meskipun Lee berpatokan keputusan itu bukan keputusannya tapi demi menjaga marwah hukum konstitusi Singapura.

Selepas pertemuan itu, Lee berjanji untuk memperbaiki hubungan dengan Singapura. Mitro lega karena pertemuan ini mencairkan kedua negara. Segara ia melaporkan pertemuan itu dengan Soeharto. “Dik Mitro apa yang dibicarakan dengan Lee semuanya. Ia tahu saya tidak senang dengan kondisi itu. Meskipun sudah dikomunikasikan dengan Dik Mitro tentang persoalan ini,” kata Pak Harto.

Rupanya habis pertemuan dengan Lee, Pak Harto mulai senang. Walaupun itu tidak bisa menggambarkan kekecewaannya dengan putusan itu. Namun sedikit banyak bisa memperbaiki hubungan itu.
Dan seperti diketahui hubungan kedua negara ini kembali membaik. Lee yang terkenal keras kepala mulai melunak setelah bertemu dengannya.

“Tugas saya untuk masalah dengan Singapura selesai. Pak Harto mulai tersenyum lagi. Ia pun menegaskan agar tidak ada lagi kejadian menimpa Usman dan Harun,” imbuhnya.

Ia mengatakan Pak Harto sangat sabar tetapi sangat tegas. Tidak banyak bicara, namun ekspresinya bisa terlihat dari pembawaannya. Jika ia sudah kecewa tidak diluapkan. Hanya diam. “Begitu Pak Harto orangnya. Tidak meluap-luap. Kekecewaannya bisa dilihat dari wajahnya. Itu yang saya tangkap saat insiden dengan Singapura,” ujar Soemitro. (Firda)

Golkar Kota Tangerang
You might also like
Loading...