Untuk Kepentingan Umum

Buku Tangerang Tempo Doeloe Diluncurkan

316

Jelang hari ulang tahun Kota Tangerang ke-25, sejumlah kalangan dari pegawai negeri sipil, wartawan, budayawan, serta seniman mempersembahkan karya buku sebagai kado yang bertajuk ‘Tangerang Tempo Doeloe.’

Inisiator penyusun Tangerang Tempo Doeloe, Felix Mulyawan menjelaskan ini merupakan momen spesial bagi kota berjuluk Akhlakul Karimah tersebut. Adanya karya ini, publik dapat melihat Kota Tangerang pada masa lampau.

“Ini keadaan yang langka, di era milenial masih peduli dengan sejarah. Bagimana kita memahami asal usul Kota Tangerang ini dan tidak melupakan apa yang terjadi pada tahun – tahun sebelumnya,” ujar Felix dalam acara Coffee Morning yang dihelat di Novotel Tangerang, Kamis (15/2/2018).

Dalam penyusunan buku Tangerang Tempo Doeloe turut dilibatkan para anak muda lainnya. Seperti Mukhafi Solihin yang merupakan seniman dari Kota Tangerang. Ada juga Haris Yasin sebagai budayawan setempat memberikan sumbangsihnya untuk penulisan buku tersebut.

“Di zaman digital ini, kita bisa melihat Tangerang di masa lalu melalui buku. Apa saja cerita – cerita pada zaman dulu bisa diketahui dan juga memberikan edukasi,” ucapnya.

Felix menerangkan situasi Tangerang di masa silam, masyarakat sangat menjaga kerukunan. Mereka saat itu begitu kental menyingkapi keberagaman.

“Di sini banyak suku, ras, dan golongan. Apalagi etnis Tionghoa, sudah lama ada di Tangerang. Orang asli Tangerang itu, pasti ada asal usulnya dari turunan China,” kata Felix.

“Tapi puncak kerusuhannya terjadi pada tahun 1998. Di mana etnis – etnis Tionghoa banyak yang menjadi korban. Penjarahan terjadi di mana – mana. Mulai dari pembakaran di Lippo dan toko – toko milik etnis China. Ada satu sejarah yang tidak bisa dilupakan, hanya satu mal saja di Tangerang yang tidak dijarah. Ada di Robinson karena di situ menjadi markas Kodim pada masa itu,” tandasnya. (kung/firda)

Golkar Kota Tangerang
You might also like
Loading...