Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Kejamnya Netizen

Sekarang ini zamannya digital. Zamannya mengeluarkan pendapat, unek-unek, ungkapan, keluh kesah. Semua hal dikomentari. Baik yang buruk, jelek, ataupun kurang ajar. Celakanya kebiasaan berkomentar pun kadang lepas kontrol.

Beberapa hari terakhir kita melihat bagaimana sikap netizen dalam mengomentari Presiden Joko Widodo. Terkini adalah komentar soal Jokowi yang mengupload di instagram foto tengah menonton final piala presiden antara Persija melawan Bali United. Sebetulnya tidak ada yang heboh. Biasa-biasa saja. Hanya foto tersebut hadir ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dilarang mendampingi Jokowi untuk menyerahkan medali di podium.

Sontak saja Jokowi jadi sasaran kritik. Total ratusan ribu komentar yang mengisi instagram sang presiden. Umumnya mereka mengkritisi kebijakan presiden, seperti impor beras, hutang dan lain sebaginya. Tag presiden satu periode saja memenuhi kolom komentar.

Jika kita mundur ke belakang fenomena kritik terhadap orang nomor satu ini adalah hal yang baru. Dulu tabu untuk mengomentari yang jelek-jelek soal presiden. Apalagi saat masa Orde Baru. Bisa hilang itu orang yang komentar sinis terhadap pak Harto. Soalnya jabatan presiden itu sakral dan tidak boleh diutak-atik. Lah, presiden kan simbol negara yang harus dijaga kesuciannya.

Lain dulu, lain sekarang. Sekarang bebas mengemukakan komentarnya. Presiden bisa diolok-olok. Tidak puas bisa dihujat. Ini yang namanya demokrasi, kalau kata generasi zaman now.

Memang mengkritik itu tidak ada yang salah. Selagi dalam porsi yang benar. Namun jika kritikan tersebut berlebihan dan rasa benci itu lebih besar ketimbang objektivitas. Ini yang tidak boleh. Memang kita boleh mengutarakan pendapat, namun jangan kebablasan.

Bagaimana juga presiden adalah pemimpin kita, yang harus dijaga kesuciannya. Ia terpilih secara konstitusional dalam pesta rakyat lima tahunan.

Tapi apa mau dikata, namanya juga bebas bicara. Sah-sah saja donk. Kita kan rakyat. Penguasa negeri ini sesungguhnya.

Itu memang benar, rakyat penguasa sebenarnya. Tapi agak tidak elok jika kritik itu berdasarkan rasa tidak suka. Rasa benci akibat calon yang kita pilih itu tidak menang.

Makanya teknologi itu memang pisau bermata dua. Ia bisa berdampak positif, bisa juga berdampak negatif. Tinggal bagaimana kita memilah ini.

Media sosial memang kejam. Ia bisa menghukum seseorang tanpa klarifikasi. Ia bisa menjustifikasi orang tanpa melihat secara objektif. Ia pun bisa menghancurkan seseorang tanpa bertanya lebih dulu.

Akhirnya selamat datang era modern. Era digital. Era mengemukakan pendapat. Era semua orang bebas ngoceh tanpa ada yang membatasi. Bahkan untuk mengkritik pemimpin tertinggi di republik ini.

Ouh, netizen, enggak begitu tega, begitu kejam. Sekarang tahun politik, semoga gemuruh hanya ramai di dunia maya. Tidak sampai dalam kehidupan nyata. Dunia maya memang menawarkan kekejian dan keindahan. Hingga kita tidak bisa memilih keduanya, kita berada di posisi yang mana. (firda)

Berita Lainnya
Leave a comment