Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Polisi Ungkap Pabrik Pengoplos Oli, Omsetnya Capai Rp2,7 Miliar

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direkrimsus) mengamankan tiga warga negara asing (WNA) asal China karena diduga mendaur ulang oli bekas menjadi bahan bakar sejenis solar tanpa dilengkapi izin.

Ketiga WNA China yang menjadi tersangka tersebut adalah YH (Direktur Utama), HS (Direktur) dan HG (Manager Operasional).

Ketiganya dibantu empat karyawan berwarga negara Indonesia melakukan aktivitas produksi sejak tiga tahun yang lalu.

Bahkan, PT. Ching Kai Lie, tidak layaknya seperti pabrik pada umumnya, karena meski berdiri diatas lahan sekitar satu hektar dikawasan industri Akong, di Kampung Sarakan, RT 05/05, Kelurahan Sukasari, Rajeg itu tidak dilengkapi pelang nama perusahaan, sehingga diduga ilegal.

Direktur Kriminal Khusus Polda Banten, Kombes Pol Abdul Karim mengatakan, omset pabrik tersebut dari hasil mendaur ulang oli bekas menjadi Bio Chemical Oils (BCO), bahan bakar sejenis solar mencapai sekitar Rp2,7 miliar pertahunnya.

“Kasus ini terungkap tim penyelidik Subdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Banten, Kamis (17/2/2018) mendatangi pabrik tersebut,” ujarnya saat ungkap kasus tersebut di lokasi pabrik, Kamis (22/2/2018).

Kecurigaan petugas kegiatan di pabrik tersebut diduga ilegal terbukti, karena setelah diperiksa, ternyata mereka tidak memiliki izin untuk melakukan daur ulang oli bekas tersebut.

“Beberapa perizinan yang tidak dilengkapi diantaranya izin pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun, izin pemanfaatan limbah, izin penyimpanan limbah dan izin pengolahan hasil olahan yang dikeluarkan Ditjen Migas,” terangnya

Sementara, BCO hasil pengolahan yang berkapasitas 150 ribu liter perbulan itu dijual seharga Rp5000 ke beberapa perusahaan di Tangerang, Cilegon, Jakarta dan bandung.

“Kegiatan ini telah berlangsung tiga tahun, diperkirakan omsetnya sekitar Rp8,1 miliar,” tambahnya.

Akte pendirian perusahaan tersebut pun turut diusut oleh penyidik, karena terjadi kejanggalan, diantaranya WNA bisa membuat perusahaan berbadan hukum Indonesia. “Terlebih visa mereka cuma visa turis,” imbuhnya.

Ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 53 atau 54 Undang-undang Nomor 22/2001 tentang Migas. “Ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara dan denda paling banyak Rp60 miliar,” tukasnya. (rr/firda)

Berita Lainnya
Leave a comment