Untuk Kepentingan Umum

Tangkal Radikalisme di Kampus, Menristekdikti Panggil Semua Rektor

ilustrasi

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menritekdikti) Mohamad Nasir akan mengumpulkan semua rektor dan direktur perguruan tinggi negeri pada akhir bulan ini setelah Lebaran. Nasir akan meminta komitmen mereka dalam pencegahan radikalisme di kampus.

Ia menegaskan, rektor dan direktur harus bisa memastikan paham radikal tidak terus berkembang di institusi pendidikan tinggi.

Salah satu arahan khusus yang akan disampaikan yakni para rektor akan diminta untuk memverifikasi lagi data alumni di kampusnya masing-masing, ungkapnya. Selain itu, alumni yang masih berkegiatan atau berinteraksi dengan sivitas kampus harus diawasi ketat.

“Agendanya hanya satu, membahas bagaimana menanggulangi radikalisme dan intoleransi dalam kampus, bagaimana cara implementasinya, bagaimana rektor mengendalikan, bagaimana mendelegasikan dekan, bagaimana pembantunya rektor bidang kemahasiswaan yang harus bisa mengontrol semuanya,” kata Nasir saat ditemui di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Dramaga, Senin (4/6).

Nasir mengatakan, untuk mencegah radikalisme di kampus, Kemristekdikti juga memperkuat kerja sama dengan beberapa lembaga terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Selain itu, ada rencana memasukkan mata kuliah wawasan kebangsaan dan bela negara pada kurikulum terbaru.

“Ke depan, monitoring kepada para mahasiswa dan dosen akan terus dilakukan,” ucapnya.

Paham Radikal
Ia menuturkan, penyebaran paham radikal sudah terjadi sejak awal 1980an, saat pemerintah menerapkan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK). Aksi radikal yang saat ini kerap muncul dan melibatkan sivitas kampus merupakan buah dari paham yang dipelajari 30 tahun silam.

“Wawasan kebangsaan sudah selesai kemarin dilakukan karena belum adanya aturan pelarangan terhadap HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Setelah ada aturan pelarangan HTI, kami lakukan untuk lebih spesifik lagi. Berikutnya adalah larangan setelah keluarnya UU Anti terorisme. Jadi harus ditingkatkan lagi,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor IPB Dr Arif Satria menegaskan akan terus memperkuat karakter kebangsaan para mahasiswa sebagai salah satu upaya mencegah paham radikalisme masuk kampus.

Ia mengatakan upaya menguatkan karakter kebangsaan para mahasiswa, salah satunya melalui asrama mahasiswa maupun asrama kepemimpinan yang baru didirikan tahun ini. Selain itu, aktivitas kemahasiswaan juga makin beragam, khususnya berkaitan dengan seni, baik tari maupun musik.

“Kampus IPB makin kondusif untuk pengembangan karakter kebangsaan. Dengan pola pendidikan multikultural dan pendidikan karakter di IPB. Jangan ragukan nasionalisme mahasiswa IPB,” kata Arif. (den)

Berita Lainnya
Leave a comment