Untuk Kepentingan Umum

Revitalisasi Baru 38 Persen, Puncak HUT Tetap di Banten Lama

Pimpinan DPRD Provinsi Banten meninjau progres revitalisasi Kawasan Banten Lama, di Kasemen, Kota Serang, Rabu (03/10). Meskipun pembangunan fisik baru berjalan sekitar 38 persen, namun mereka menganggap lokasi tersebut sudah siap digunakan untuk melaksanakan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Provinsi Banten.

“Walaupun di sini baru 38 persen, tapi melihat fasilitas untuk pelaksanaan HUT Banten, saya anggap bukan karena selesai atau tidak selesainya. Akan tetapi, gubernur ingin memperlihatkan bahwa semangat perubahan terhadap Banten ini mulai ditampakkan,” kata Asep.

Menurutnya, kesultanan Banten akan menjadi ikon dan kebanggaan bagi masyarakat Banten. Sebab, peradaban dan budaya Banten zaman dulu terpusat dan berawal dari sana.

“Ini kita lihat sudah seperti Madinah. Ini artinya menjadi suatu kebanggaan kita, yang insya Allah kalau kita berkunjung ke provinsi lain. Kita akan menyampaikan bahwa ada destinasi wisata religi di Banten yang sudah difasilitasi dengan bangunan yang modern, dengan tidak menghilangkan keaslian cagar budaya yang ada,” katanya.

Selain menjadi ikon dan kebanggaan masyarakat Banten, ia meyakini akan menarik wisatawan hingga dua kali lipat setelah direvitalisasi. Hal itu karena pengunjung tidak hanya bisa ziarah saja, tetapi bisa menggunakan fasilitas lain yang modern.

“Saya yakin, menurut data dari Dinas Pariwisata sebelum direvitalisasi itu sekitar 3 jutaan per tahun. Dengan posisi setelah direvitalisasi, insya Allah bisa naik 100-200 persen,” katanya.

Kepala Dinas Perkim Provinsi Banten, M. Yanuar mengatakan, revitalisasi Banten Lama sebenarnya bukan hanya sekadar di sekitar Kesultanan Banten, Surosowan dan Masjid Agung saja. Akan tetapi, akan menyeluruh sampai Keraton Kaibon, Vihara Avalokitesvara dan Benteng Spelwijk juga akan direvitalisasi pada tahun yang akan datang.

“Tahap awal adalah disekitar Masjid Agung Keraton Banten ini. Karena apa, karena ini menjadi titik sentral para pengunjung menuju kawasan Banten Lama,” katanya.

Setelah dilaksanakannya pembangunan fisik, pembangunan sosial dan ekonomi di masyarakat sekitar juga dilakukan. Sebab menurutnya, yang paling sulit adalah membangun rekayasa sosial dan ekonomi. Terlebih, saat ini kawasan ziarah Masjid Agung Banten terkenal dengan banyaknya pengemis dan sampah yang dibuang sembarangan.

Hal hampir senada dikatakan Ketua Pemangku Adat Kesultanan Banten, Abbas Wase. Dia menginginkan adanya perubahan perilaku dan mental dari masyarakat sekitar dan kenadziran. Terkait rencana akan menggunakan rumah warga sebagai homestay, ia sangat menyambut baik hal itu.  (eni/firda)

Berita Lainnya