Untuk Kepentingan Umum

MUI Tangsel: Pemilu Harus dibarengi Nilai Keagamaan

34

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tangsel menggelar diskusi publik dengan tema Peran Agama Dalam Menjaga Stabilitas Politik dan Keamanan Menjelang Pemilu 2019 yang diadakan di Telaga Seafood, BSD, Selasa (22/1).

Diskusi tersebut bertujuan agar masyarakt beragama di kota Tangsel tidak terdegradasi dan tereduksi hanya karena masalah politik. Hadir dalam diskusi tersebut Mujar Ibnu Syarif (ketua MUI Tangsel), Azhar Syam’un (kepala badan Kesbangpol), Media Zainul Bahri (Dosen Agama-agama UIN Ciputat), dan Abdul tojak (Moderator).

Ketua MUI Kota Tangsel, Mujar Ibnu Syarif mengatakan dalam masa menjelang pemilihan umum ini masyarakat harus selalu menjaga kedamaian, pertemanan, dan persahabatan. Jangan sampai semua itu berakhir hanya karena hal yang sementara seperti politik.

“Dengan adanya pemilu 2019 ini kita bebas memilih siapa aja. Yang penting yang jadi presiden nanti harus kita dukung programnya sebagai hak kita dan pemerintah pun harus menjalankan programnya sebagai tanggung jawabnya. Dan yang paling penting dari semua itu jangan mengganggu kedekatan kita dengan orang lain” kata Mujar saat diwawancarai.

Mujar pun mengungkapkan masyarakat khususnya di Tangsel harus patuh kepada pemimpin siap pin yang jadi nanti karena itu bagian taat kepada Allah dan Rasul.

“Taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah, dan taat kepada Ulil Amri (pemerintah) itu yang penting bagi kita. Jangan sampai sekali-kali golput. Sedangkan Salah satu ketaatan kita kepada pemerintah itu kita dukung pembangunannya baik infrastruktur dan lain-lain” lanjut Mujar.

Mujar melanjutkan pembangunan Infrastruktur menurunya sangat penting karena jika tidak ada program itu tidak akan ada kantor kemenag, kantor MUI, Jalan Tol, dan gedung-gedung pemerintahan lainnya.

Dosen Agama-agama Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat, Media Zainul Bahri pun ikut mengungkapkan terkait tema diskusi tersebut.

Menurutnya sekarang orang lebih percaya kepada isu-isu politik yang tidak jelas dasarnya ketimbang kepada pakar politik yang sudah mempunyai rekam jejak intelektual yang jelas. Oleh karenanya jaman sekarang disebut juga jaman The deth of Expert (kematian pakar). Selanjutnya, menurutnya orang sekarang lebih percaya kepada perkataannya ketimbang siapa yang mengatakan.

“Namun demikian, untuk di Tangsel ini saya yakin rata-rata sudah cerdas dan berpatokan pada pakar lah meski ada beberapa yang masih perang di medsos antara cebong dan kampret” kata Media sembari ketawa.

Media melanjutkan, menurutnya Kerukunan adalah modal bangsa Indonesia ini yang yg tdk dimiliki bangsa lain. Jika di Timur Tengah pada saat pemilu itu akan berdarah-darah.

“Kenapa di Indonesia tdk terjadi seperti di timur tengah, karena Indonesia punya ciri khas tertentu. Islam Indonesia/Nusantara, orang Indonesia meski berbeda secara politik, pada saat Tahlilan atau Ziarah Kubur mereka bertemu, ya mereka bersalaman, berpelukan. Jadi perbedaan itu lebuh karena ciri khas itu” tutup Media. (den)

Golkar Kota Tangerang
You might also like
Loading...