Operasi Jantung Ditanggung, Wiwien Tambah Semangat Bayar BPJS

oleh -
Ilustrasi
Ilustrasi

Tekanan darah tinggi, diabetes dan jantung koroner adalah jenis penyakit yang kerap datang kepada mereka di usia senja.

Wiwien salah satu peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), bercerita pernah menjalani perawatan penyakit jantung koroner dengan kartu JKN-KIS yang ia bayar iurannya setiap bulan.

Saat ditemui di kediamannya di daerah Karawaci Tangerang, Wiwien mengatakan bahwa kejadian ini berawal di tahun 2015. Wiwien menjalani pemeriksaan jantung dan karena kelainan tertentu, ia pun harus dirujuk untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut.

“Di tahun 2015, saya ada penyakit jantung koroner yang mengharuskan saya menjalani operasi. Kebetulan saya ada kelainan pada pembuluh darah di bagian perut, akhirnya saya dirujuk ke rumah sakit lain. Setelah melalui pemeriksaan dan tim dokter juga berembug untuk tindakan saya, akhirnya saya pasang ring jantung 2 buah. Semua dijamin oleh BPJS Kesehatan,” ujarnya, Senin (10/06).

Kejadian tersebut sangat berkesan untuk Wiwien, dan bahkan hingga kini ia masih ingat setiap detail kejadiannya. Wiwien mengandalkan kartu JKN-KIS sebagai satu-satunya jaminan pembiayaan untuk operasinya yang menelan biaya hingga ratusan juta rupiah.

“Dari awal persiapan operasi, pengecekan berbagai hal, hingga saya akhirnya masuk ruang operasi dan dipasang 2 ring di jantung, saya tidak dipungut biaya, alias gratis. Padahal biaya operasi saya begitu besar sekitar 200 juta. Berterimakasih sekali saya kepada BPJS Kesehatan, kepada semua yang sudah bergotong royong membayar iuran, saya bisa sehat dan beraktifitas lagi,” ucapnya.

Merasa begitu terkesan, Wiwien terus aktif membayar iuran demi mendukung keberlangsungan Program JKN-KIS. Wiwien berharap semua orang bisa menyokong dan bergotong royong karena begitu berharganya program ini untuk masyarakat.

“Entah saya harus menabung berapa puluh tahun kalau berobat tidak pakai JKN-KIS. Dengan iuran yang hanya di bayarkan 80 ribu per bulan, saya bisa operasi jantung 200 juta. Makanya walaupun saya sudah sehat sekarang, saya terus bayar iuran. Karena saya tahu iuran saya digunakan untuk mereka yang sakit. Saya pernah ada di posisi itu, yang benar-benar membutuhkan biaya,” ujarnya.

Pembayaran iuran memang seharusnya dilakukan rutin oleh semua peserta baik yang sehat maupun yang sakit demi kebaikan seluruh masyarakat Indonesia. Wiwien pun mengajak orang di sekitarnya untuk disiplin dan rajin membayar iuran.

“Saya ajak yang lain untuk membayar iuran, mulai dari lingkungan terdekat, keluarga, kerabat dan tetangga sekitar,” katanya. (RS/la).

Share this...
Print this page
Print