Bang Ben, Panggilan Telepon, dan Guyonan Jadi Walikota

oleh -
Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie

Suasana ruangan berukuran 10 meter x10 meter itu terlihat ramai. Lampu terang menghias di setiap sudut. Rembulan yang agak malu-malu terlihat begitu indah.

Udara yang cukup sejuk sudah terasa sejak magrib memanggil. Meskipun kawasan yang berada di Desa Citarik, Kecamatan Pelabuhan Ratu Ratu, Kabupaten Sukabumi, itu sejak siang cukup terik.

Beberapa orang berpakaian kerah polo nampak mengantre makanan dengan lauk yang cukup menggugah rasa. Mulai dari ayam goreng, sambal, sop daging, serta kerupuk. Guyonan terdengar cukup nyaring dari suara yang didominasi anak-anak muda berusia 40 tahun ke bawah tersebut.

Setelah mengambil makanan dengan antre, mereka kemudian duduk dengan rapi. Suasana cukup hening sekira 10 menitan. Satu persatu makanan habis dilahap.

Suara pemandu acara terdengar cukup merdu. Beberapa kali ia memanggil peserta yang belum datang untuk segera berkumpul karena acara akan segera dimulai.

Terdengar berulang kali ia berteriak. Kemudian, peserta lainnya juga datang. Ruangan tersebut sontak tampak menjadi ramai. Kursi-kursi yang disediakan hampir terisi.

Dari balik panggung terlihat tulisan ‘Selamat Datang Para Peserta Pers Gathering dan Pemaparan Produk Bank BJB’. Tampak logo BJB dan Pemkot Tangsel berada di sudut kiri atas.

Ya, Sabtu sore (13/7) hingga Minggu (14/7) para wartawan yang tergabung dalam kelompok kerja wartawan Tangsel memang berkumpul di Citarik, Sukabumi.

Mereka diajak bersenang-senang menikmati alam Sukabumi, Jawa Barat yang memang terkenal indah sejak lama. BUMD ini baru pertama kali mengajak pewarta di Kota Tangsel. Bisa jadi kegiatan ini bagian dari program mereka untuk bisa bersinergi dengan teman media.

Selain rombongan BJB, ada juga perwakilan humas Kota Tangsel. Pekerja di humas memang sudah tidak asing lagi bagi pewarta karena komunikasi yang rutin dilakukan. Sebagai corong pemkot, mau tak mau, komunikasi dengan pewarta harus terjadi. Program-program pemkot disiarkan pertama kali melalui instansi ini.

Teriakan pemandu acara mulai berhenti ketika semua peserta datang. Makanan yang tersaji dalam seketika ludes.

Iringan musik terdengar merdu. Instrumennya cukup mengugah telinga. Beberapa peserta nampak asyik dengan makanannya. Ada juga yang mendengarkan. Sambil makan mereka nampak berceloteh. Sesekali terdengar mereka tertawa.

Di sela-sela jamuan makan, pembawa acara kemudian membuka acara gathering. Tak terlalu formal. Ia memperkenalkan diri dan menjelaskan rentetan acara. Satu persatu pimpinan BJB dipanggil. Ada juga PT Sinarmas yang ikut membantu acara tersebut.

Ada sekira 20 menitan acara pengenalan diri. Terlihat juga Ketua Pokja Sudin Antoro memberikan sambutan. Cukup singkat ia bicara, kurang lebih 5 menit. Setelah itu dengan tenang ia mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya gathering. Sudin berharap agar kegiatan serupa bisa dilakukan karena sinergisitas dengan media harus terus ada.

Ketua Pokja Tangsel Sudin Antoro.

Selesai Sudin bicara, pembaca acara tensi suaranya sedikit naik. Ia begitu bersemangat. Ouwh, rupanya semangat pembaca acara karena ia memanggil Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie. Orang nomor dua di Kota Tangsel memang hadir dalam acara tersebut.

Dengan langkah yang cukup meyakinkan, Benyamin datang. Ia cukup percaya diri. Sayang tak nampak petinggi-petinggi Pemkot yang mendampinginya.

Tanpa teks di tangan, Benyamin memberikan sambutan. Cukup lama. Ada sekitar 25 menitan. Ia bicara soal keinginan untuk mengadakan coffee morning dengan awak media, hubungan yang lebih erat, hingga harapannya agar pejabat eselon II yang tidak lagi susah dihubungi.

Saat ia menyinggung soal pejabat yang susah dihubungi, teman-teman bersorak. Maklum banyak pejabat eselon II di Kota Tangsel sulit dihubungi.

Bahkan ada teman media nasional yang pernah bercerita, saat menelepon  sang pejabat tersebut mengaku sedang sibuk dan ada rapat. Namun suaranya cukup hening seperti berada di kamar.

“Pejabat sekarang susah banget dihubungi. Sekalinya diangkat bilang lagi rapat lah, lagi sibuk lah. Padahal dari gagang telepon terdengar tidak ada aktivitas, seperti di kamar,” kata wartawan yang bertugas di Tangsel sejak lima tahun lalu ini.

Bang Ben sebetulnya sudah berulang kali mencoba agar pejabat tidak lagi sulit berkomunikasi dengan wartawan. Namun karena semuanya butuh proses, komunikasi yang lebih cair belum bisa terlaksana.

“Saya cukup cerewet meminta agar pejabat, khususnya eselon II agar bisa lebih terbuka dengan teman media. Namun memang saat ini harapan tersebut belum sepenuhnya bisa terlaksana. Mungkin sedang dalam proses,” harapnya.

Meski begitu, ia tetap menyarankan agar pewarta tidak patah arang. Malah meminta wartawan mendekati pejabat eselon III atau IV yang mungkin lebih mudah dihubungi. Suatu saat pasti mereka jadi kepala dinas.

Mantan Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang ini juga menyinggung soal beberapa program pemkot yang saat ini berjalan. Dari infrastruktur, pendidikan, hingga dana kelurahan.

Dirinya ingin agar dana kelurahan bisa mencapai Rp1 miliar supaya program-program pemberdayaan masyarakat bisa lebih merata. Di tengah-tengah bicara soal program, ia ngomong soal posisinya sebagai wakil walikota. “Nah, program itu waktu saya jadi wakil, besok jadi walikotanya,” katanya.

Suasana yang tadinya hening terdengar riuh. Banyak yang tertawa, ada juga yang kaget.

Malam kian larut, bang Ben semakin bersemangat bicara. Tak nampak kelelahan pria 61 tahun ini, meskipun ia harus terjebak kemacetan berjam-jam saat hendak ke Citarik. Ia juga meminta maaf karena tidak bisa ikut rafting Minggu pagi karena harus kembali lagi ke Tangsel.

“Saya dari Tangsel jam 11 siang, sampai sini jam 5 sore. Macet parah. Nanti jam 12 an harus balik lagi karena mesti datang ke acara di Cilenggang, minggu pagi. Capek memang. Tapi harus dijalani. Saya minta doa teman-teman agar diberikan kesehatan,” ungkapnya.

Raut wajah bang Ben yang tampak kelelahan seperti terbayar dengan acara yang cukup meriah. Di sela-sela acara ia mengingatkan bahwa hari ini kita senang-senang. Hilangkan semua pangkat, jabatan, maupun senioritas. Semuanya sama. Tidak ada yang berbeda.

Ia kemudian menutup sambutan. Sesi foto bersama lalu dilakukan. Ternyata dirinya tidak langsung pulang. Dirinya bernyanyi. Lagu terajana pun terdengar. Meski suaranya agak fals, tak menyurutkannya untuk bernyanyi. Mungkin beban pikiran yang terhitung berat terasa lebih ringan saat ia nyanyi.

Sesekali dirinya melayani foto bersama dengan awak media. Lagu terajana selesai. Ia kembali ke bangku yang disediakan. Es jeruk ditenggaknya. Beberapa orang mendatangi. Minta foto.

Rupanya bang Ben dapat request lagu Demi Cinta ciptaan Krispatih dinyanyikannya meskipun agak fals.

Selesai lagu tersebut, dirinya selonjoran di lapangan yang ada pada sisi kiri ruang pertemuan. Ditemani petinggi BJB selama 10 menitan Ben berada di lapangan tersebut. Bulan semakin terlihat indah. Waktu menunjukkan pukul 23.00 wib. Dua biduan yang bernyanyi sejak pukul 20.00 wib menghentikan lagunya. Organ tunggal itu selesai. Keyboard mulai dibereskan.

Dari sudut lapangan, bang Ben yang berpakaian putih plus celana bahan hitam beranjak pergi. Ditemani ajudannya, ia pamit diri.

“Mau istirahat sebentar, karena harus pulang lagi ke Tangsel,” katanya menutup pembicaraan. (firdaus)

Share this...
Print this page
Print