Penerapan Metode BCCT Jadi Dominan di Dunia Pendidikan

oleh -
Sejumlah pengajar sedang memandu anak-anak belajar dengan menggunakan metode Beyond Circle and Center Time (BCCT), Minggu (28/7) di Situ Gintung 3, Kawasan Danau Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel).

Menghadapi tantangan global, metode BCCT (Beyond Circle and Center Time) dirasa mampu untuk memberikan jawaban kepada anak dalam pengenalan dunia pendidikan.

Pasalnya, metode yang digunakan untuk melatih perkembangan anak dengan mengunakan metode bermain yang di design dalam bentuk sentra, itu rupanya sangat diminati.

Seperti diketahui, salah satunya saat penyelenggaraan peringatan HUT 30 YPI Baitul Maal yang diselenggarakan di Situ Gintung 3, Kawasan Danau Situ Gintung, Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel), Minggu (28/7) pagi.

Dalam kesempatan itu, tampak kerjasama orang tua dan anak dapat diterapkan sangat baik. Anak-anak pun tampak fokus dengan menggambar setelah melakukan berbagai permainan.

Metode BCCT itu pun menjadi dasar bagi alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) untuk mendirikan sekolah.

Menurut ketua Pendidikan Islam untuk Anak (PPIA) Baitul Maal, Maya Yunus menjelaskan, metode BCCT diakuinya telah dimodifikasi dari kurikulum Diknas dan Depag dalam penerapan di YPI Baitul Maal.

Modifikasi BCCT itu, kata Maya Yunus, akan banyak dimanfaatkan anak dalam mempelajari hal baru dan pengalaman belajar yang akan memperkaya pengetahuan untuk anak.

“Memasuki usia 30 tahun, Yayasan Pengembangan Infaq (YPI) Baitul Maal, terus berupaya mengembangkan metode BCCT. Pengembangan metode ini telah dimodifikasi dan diterapkan mulai dari TK, SD dan SMP didalam naungan YPI Baitul Maal,”terang Maya Yunus.

Meski demikian, Maya Yunus dalam kesempatannya kali ini membeberkan mulai awal mula yayasan yang bergerak dalam pendidikan anak itu mulai dibentuk sejak berdiri pada 7 Mei 1997 silam, hingga perkembangannya.

Kata Maya, pada awalnya YPI Baitul Maal dibentuk atas dasar sumber anggaran mengelola dana-dana infaq yang disalurkan oleh mahasiswa dan alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).

YPI Baitul Maal semakin berkembang dengan mendirikan lembaga formil Zakat, Infaq, dan Shodaqoh dengan nama Lembaga ZISWAF, lembaga Da’wah dan Syi’ar Islam, serta lembaga pendidikan yang diberi nama Pusat Pendidikan Islam Untuk Anak (PPIA) Baitul Maal.

“Sekarang PPIA sudah ada murid sampai 1200 lebih, mulai dari TK, SD dan SMP. Anggaran ini salah satunya bersumber dari sumbangan orang tua, selain itu ada sekitar 200 karyawan bernaung di YPI Baitul Maal untuk mengembangkan dunia pendidikan,”jelas Maya Yunus.

Informasi yang berhasil diperoleh, YPI Baitul Maal memiliki program andalan yakni program sekolah gratis yang bakal diterapkan guna mewujudkan pendidikan. Selain TK, SD dan SMP, sasaran YPI Baitul Maal akan menyasar pada tingkat SMA sederajat.

Dalam menghadapi tantangan global, YPI Baitul Maal berupaya terus menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dengan mengoptimalkan kemampuan anak dan mengarahkan.

Seperti diketahui, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melakukan inovasi sekolah dengan gagasan melalui Gerakan Sekolah Bersih Menyenangkan (GSBM).

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Tangsel, Taryono dalam program itu pihaknya menginginkan dalam pendidikan di Tangsel memiliki daya saing tinggi yang berkualitas tanpa kekerasan dan perkelahian.

Dalam gebrakan itu, Taryono memiliki dasar dengan menciptakan pendidikan yang baik, dengan dilakukan secara berakar pada pembangunan kakarakter. (den)

Share this...
Print this page
Print