Wow! Mahasiswa Zaman Now Banyak Belajar Agama dari Internet

oleh -

Rangkaian Diseminasi Hasil Penelitian FISIP UMJ terkait potret ketahanan kampus di tiga Privinsi, digelar di kampus Universitas Muhammadiyah Tangerang pada Senin, 5 Agustus 2019.

Diseminasi bertajuk “Sinergi Ormas dan Kampus Untuk Penyemaian Nilai-Nilai Kebangsaaan Dalam Bermasyarakat”

Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jakarta, Endang Sulastri, menyatakan, dengan bersinerginya sesama PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) maka UMJ dan UMT dapat membangun upaya ketahanan kampus dalam menghadapi bahaya ekstremisme kekerasan dan intoleransi.

“Sinergi yang kuat akan menjadi ketahanan yang baik untuk memperkuat daya tangkal terhadap ekstremisme kekerasan dan intoleransi,” ujarnya.

Endang Sulastri menegaskan, bahwa kecilnya prosentasi keaktifan mahasiswa di organisasi keagamaan (NU sebanyak 13.87%) dan Muhammadiyah (7,59%), memberikan tantangan pada Ormas untuk memperkuat jajaran penceramahnya dengan nilai-nilai Islam wasathiyah diantaranya melalui metode ceramah yang lebih menarik melalui media yang akrab dengan kaum milenial.

Menurutnya, inklusivisme yang sudah dibangun UMT melalui penyemaian nilai-nilai keagamaan telah dilakukan melalui kunjungan ke tokoh-tokoh masyarakat dan keagamaan, dialog dengan masyarakat sekitar.

Terdapat  empat hasil dari penelitian ini. Pertama, gambaran tentang sikap dan perilaku dari mahasiswa yang mendukung intoleransi keberagaman.

Kedua, identifikasi enabling factors yang mendorong munculnya praktek intoleransi, gerakan Islam radikal, dan ideologi yang mendukung kekerasan dan ekstremisme.

Ketiga, potret peran aktor-aktor kunci (baik individu maupun kelompok) yang mempengaruhi terjadinya radikalisasi dan intoleransi.

Keempat, sarana yang dipakai oleh aktor-aktor kunci tersebut untuk menarik minat kalangan mahasiswa agar mengikuti paham yang bertentangan.

Ali Noerzaman, tim peneliti dari FISIP UMJ menyatakan, berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar responden tidak memiliki afiliasi kepada organisasi kemahasiswaan maupun keagamaan.

Oleh karena itu, pencarian mereka terhadap pengetahuan agama bukan dari organisasi masyarakat yang berbasis keagamaan.

Namun, sumber pengetahuan mereka berasal dari internet sehingga menyebabkan responden memiliki pemahaman agama yang parsial.

“Sebanyak 31,94% responden mengakses www.youtube.com, sebanyak 17,02% mengakses www.muslim.or.id, sebanyak 10,21% mengakses www.eramuslim.com, sebanyak 6,81% mengakses www.nu.or.id, dan sisanya beragam,” tambahnya. (panda)

Share this...
Print this page
Print