GP Ansor Setu: Pengganti Airin Harus Progresif

oleh -
Ketua GP Ansor Setu Irfan Alamsyah

Perhelatan pilkada Kota Tangsel masih setahun lagi, namun geliatnya sudah terasa. Hal itu ditandai dengan maraknya poster-poster para tokoh yang menghiasi beberapa ruang publik di daerah bekas pemekaran Kabupaten Tangerang tersebut.

Mulai dari akademisi Unpam Suhendar, Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie, PNS Kemenag Siti Nur Azizah, politisi PDIP Heri Gagarin, Sekda Muhamad, mantan Sekda Tangsel Dudung E Diredja hingga Lurah Cipayung Tommy Patria.

Mereka memasang poster dengan wajah manis disertai sejumlah program. Seperti pendidikan,kesehatan, hingga pembangunan berkelanjutan.

Ada juga poster mereka ‘menunggangi’ momentum hari besar, seperti Idul Adha, Idul Fitri, hingga HUT RI.

Poster tersebut seakan menjadi jawaban masyarakat tentang program-program Kota Tangsel ke depan pasca ‘lengsernya’ Walikota Airin Rachmi Diany.

Meskipun isi poster tersebut masih bersifat normatif dan cenderung tekstual. Namun keberadaannya jadi penanda kalau sang calon tengah memperkenalkan diri ke masyarakat.

Hingar binggar pilkada yang sudah terlihat riuh juga mendapat perhatian GP Ansor Setu. Ormas Onderbow Nahdlatul Ulama berharap pilkada menjadi momentum penjaringan calon pemimpin yang aspiratif, berintegritas, serta visioner.

Ketua GP Ansor Setu Irfan Alamsyah menilai selama ini bakal calon walikota yang berseliweran masih melakukan politik kosmetik. Artinya cuma menampilkan wajah-wajah yang terlihat indah tanpa punya visi jelas. Dari beberapa pandangan yang disampaikan bakal calon belum ada yang baru. Terlihat copy paste dan tidak progresif.

Ia menyoroti tentang beberapa persoalan seperti pendidikan, infrastruktur, sosial, kesejahteraan dan sebagainya.

Misal, dalam bidang pendidikan, Pemkot selama ini agak meminggirkan masyarakat pesantren. Padahal potensi yang bisa digali dari pesantren besar. Jika perhatian bisa lebih besar tentunya akan menguntungkan. Soalnya potensinya besar. Ada puluhan pesantren yang tersebar di Tangsel. Jika anggarannya bisa lebih besar peningkatan sumber daya manusianya tentu akan baik.

“Kalau saya liat,ya, program pemkot lumayan bagus. Tetapi perhatian untuk pendidikan keagamaan seperti pesantren agak kurang. Ini yang harus dikoreksi,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Jumat (8/8)

Irfan memandang pendidikan terhadap dunia keagamaan penting. Soalnya untuk mencetak generasi muda tak hanya kecerdasan yang dikejar, juga dari aspek moral,akhlak. Nah, lewat pendidikan berbasis keagamaan itu bisa didapatkan.

Selain itu, walikota ke depan juga tak hanya bekerja untuk menyenangkan ‘orang-orangnya’ saja tetapi juga harus lincah. Arti lincah ini bisa bekerja dengan mengambil resiko tinggi atau out the box. Artinya tetap bekerja sesuai perencanaan namun improvisasi juga tetap dikedepankan.

“Idealnya kan seperti itu. Pemimpin yang lincah,gesit, tak berjarak, dan mau mendengarkan keluhan rakyat. Bukan hanya yang bekerja seperti karyawan. Misal nya perencanaan pembahasan anggaran hanya menjadi kegiatan rutin belaka. Tak ada terobosan, tak inovatif, stagnan. Ini yang harus dihindari,”imbuhnya.

Sementara itu Wakil Walikota Benyamin Davnie dalam beberapa kesempatan mengisyaratkan maju dalam pilkada. Ia merasa program yang sudah dijalankan selama dua periode dirasa perlu dilanjutkan.

“Program kerakyatan sepuluh tahun saya bersama walikota perlu dilanjutkan. Pendidikan, kesehatan infrastruktur, tetap menjadi prioritas,”imbuhnya.(firda)

Share this...
Print this page
Print