Aldrin, Kemandirian Politik dan Bayang-bayang Dinasti

oleh -
Aldrin Ramadian

Nama Aldrin Ramadian mungkin masih terasa asing di telinga. Maklum, ia hanya dikenal sebagai ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kota Tangsel. Aktivitas sehari-harinya juga hanya sebagai dosen di sejumlah kampus swasta maupun negeri.

Sepintas tak banyak mengenal sosok berambut putih meski usianya belum dikatakan tua. Berkisar 40an tahun. Masih terhitung paruh baya. Namun siapa nyana, sosoknya kini diperbincangkan di tengah hiruk-pikuk kontestasi politik di Kota Tangsel. Santer ia bakal maju sebagai calon walikota pada pesta demokrasi tahun depan.

Apabila Aldrin benar-benar maju di pilkada. Dirinya akan lebih jadi perbincangan. Bukan karena jabatannya sebagai ketua LPM ataupun posisinya sebagai akademisi. Melainkan sebagai adik kandung Walikota Airin Rachmi Diany. Hal yang sebetulnya menguntungkan secara politik.

Meski dalam berbagai kesempatan, Aldrin selalu mengutarakan ingin mandiri secara politik. Tak ingin disangkut pautkan dengan Airin. Baginya Aldrin adalah Aldrin, bukan Airin. Tetapi dalam sebuah kontestasi, hubungan kekerabatan tidak bisa lepas. Suka atau tidak suka sosoknya akan selalu dikaitkan dengan walikota dua periode tersebut.

Sebetulnya ini sebuah keuntungan baginya. Karena modal sebagai saudara kandung walikota dapat mudah meningkatkan tingkat pengenalannya jika Aldrin sudah mulai massif mempromosikan diri ke masyarakat.

Namun ada juga sisi negatif, karena ia bakal dianggap hanya memanfaatkan nama besar sang kakak untuk mengeret popularitas.

Tinggal bagaimana Aldrin bisa memposisikan dirinya. Menjadi mandiri atau mendongrak nama besar Airin. Ini sebuah tugas yang tidak mudah karena citra sebagai bagian dari keluarga walikota pasti bakal melekat.

Hal itu sebetulnya tidak berpengaruh terhadap dukungan pemilih. Ini lantaran masyarakat Tangsel yang sebagian besar kelas menengah perkotaan merupakan pemilih rasional. Rekam jejak, kemampuan, hingga tawaran program lebih dilihat ketimbang sang calon yang hanya mengandalkan jaringan kekuasaan.

Hal itu menjadi tantangan bagi Aldrin untuk membuktikan bahwa dirinya bukan aji mumpung. Ia mau nyalon walikota karena memiliki kemampuan dan bisa menawarkan program yang dibutuhkan rakyat Tangsel.

Ini menguntungkan bagi Aldri. Sebagai akademisi tentunya Aldrin sudah tahu kebijakan apa yang baik untuk Kota Tangsel ke depannya. Kemampuan personal, kecerdasan, bagaimana ide-ide untuk membangun kota rasanya sudah dimiliki Aldrin.

Nah, tugas Aldrin sekarang ada dua. Pertama, mendapat restu keluarga besar. Kedua, mendapat dukungan kursi DPRD.

Hal tersebut sangat penting karena tanpa restu keluarga besar, mobilisasinya akan sulit. Dukungan tersebut sangat penting dalam setiap pertarungan politik.

Apalagi santer terdengar anggota DPD-RI Andiara Aprilia Hikmat yang terhitung masih kerabatnya bakal meramaikan pilkada tahun depan. Andiara merupakan anak mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Kalau dirunut Andiara merupakan keponakan jauh karena Airin merupakan adik ipar sang mantan gubernur.

Jika Aldrin tetap maju, maka ia bakal berhadapan dengan Andiara. Andai keponakannya itu juga dapat dukungan. Tinggal bagaimana restu keluarga besar diberikan.

Menjadi keuntungannya bila dukungan diberikan kepadanya. Tetapi bila keduanya mendapat restu, dukungan pasti bakal terpecah. Hal itu sebetulnya menarik jika keluarga Rau (sebutan nama untuk keluarga Ratu Atut) memberikan restu untuk Andiara ataupun Aldrin. Pertarungan pasti bakal ramai.

Nah, bila masalah keluarga sudah bisa diselesaikan, tugas Aldrin adalah mendapat dukungan parpol. Untuk bisa mencalonkan diri, syarat minimal dukungan 10 kursi DPRD Kota Tangsel.

Dari hasil hitung-hitungan kursi, partai Golkar jumlahnya paling banyak di DPRD Tangsel dengan 10 kursi. Partai pimpinan Airin Rachmi Diany ini sudah bisa mencalonkan diri tanpa harus berkoalisasi dengan partai manapun. Namun jika melihat dinamika, Golkar tentu tidak akan maju sendiri. Pasti akan menggandeng partai lain untuk mempermudah melakukan mobilisasi ke masyarakat.

Tentunya dengan banyak partai yang bergabung akan mudah untuk sosialisasi ke masyarakat.

Ini juga menjadi pekerjaan rumah (PR) Aldrin untuk bisa melobi partai-partai politik agar memberikan tiket maju dalam pilkada.

Sebetulnya hal itu tidak begitu sulit andai sang kakak memberikan lampu hijau. Sebagai pemain politik nomor wahid di Tangsel, tentunya Airin bisa mudah berkomunikasi dengan siapapun.

Baik di tataran lokal ataupun elite nasional. Posisinya sebagai walikota dua periode mempermudahnya berkomunikasi dengan elite-elite partai.

Andaipun ia tidak didukung sang kakak, Aldrin bisa tetap maju. Dengan catatan elektabilitasnya bagus. Jika ini bisa dipenuhi, tanda tangan dukungan partai politik akan digenggamnya.

Nah, sisa waktu yang ada ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Minimal secara elektabilitas bisa mendekati tokoh yang sudah lebih dikenal. Seperti Benyamin Davnie ataupun Muhamad. Dua nama tersebut merupakan Wakil Walikota dan Sekda. Benyamin dua periode menjadi orang nomor dua, sementara Muhamad dianggap  merepresentasikan warga asli Tangsel. Selain ia menjadi orang nomor satu di birokrasi. Selain dua nama tersebut, calon lainnya yang juga sudah mulai memperkenalkan diri. Seperti pegawai Kemenag Siti Nur Azizah, serta dosen hukum Unpam Suhendar juga mesti diperhitungkan.

Waktu pendaftaran pasangan calon yang dimulai April tahun depan terhitung masih panjang. Sisa waktu ini harus benar-benar dimanfaatkannya. Promosi diri, komunikasi dengan masyarakat, tokoh dan lainnya harus mulai dilakukan.

Jika itu bisa dilakukan dengan baik, bukan tak mungkin elektabilitas bakal moncer. Bisa jadi ia menjadi kandidat yang diperhitungkan. Seperti harapannya terjun dalam kontestasi bukan soal gagah-gagahan, melainkan mengabdi kepada masyarakat.

Mungkin kata-kata itu dianggap klise. Tetapi waktu yang akan menjawab apakah Aldrin bisa melewatinya. Atau dirinya akan hempas oleh waktu. Hilang dan tidak tersisa. Kalau sudah hilang mungkin orang bakal mengenal Aldrin hanya sebagai adik mantan walikota Airin. Tak lebih dari itu.

Sebaliknya jika elektabilitasnya moncer. Dimana ia  mendekatkan diri ke rakyat dengan mendatangi kampung-kampung, bisa tidur dengan rakyat, tahu keluhan rakyat, apa kebutuhan rakyat, dirinya akan dikenang sebagai pejuang rakyat. Orang-orang akan berteriak memanggil Aldrin, Aldrin, Aldrin dengan ketulusan.

Bila ini dapat dilakukan, ia akan menjadi mandiri secara politik. Lepas dari bayang-bayang sang kakak, keluarga, ataupun dinasti politik yang mungkin bisa membelenggunya. (dawson)

Share this...
Print this page
Print