Membaca Politik Zig-zag Siti Nur Azizah

oleh -
Siti Nur Azizah

Siti Nur Azizah belum begitu familiar di telinga. Namun ketika disempatkan nama KH Maruf Amin, mungkin kita langsung mahfum. Maklum, sang ayah baru saja terpilih sebagai wakil presiden mendampingi Joko Widodo. Kini, satu tahun jelang pilkada 2020, sang cawapres terpilih kembali menjadi perbincangan. Bukan sepak terjangnya, tetapi kiprah sang anak, Siti Nur Azizah yang digadang-gadang maju menjadi bakal calon walikota Tangsel.

Majunya Siti Nur Azizah di kota termuda Provinsi Banten itu bukan isapan jempol semata. Jika bakal calon lainnya masih terhitung malu-malu, Nur Azizah sudah melakukan sejumlah manuver. Bisa dikatakan gerakan-gerakan politik yang terhitung soft.

Dari memasang sejumlah spanduk di beberapa jalan utama hingga menemui sejumlah tokoh Kota Tangsel kini kerap dilakukan. Komunikasi politik rupanya sudah mulai dilakukan. Teranyar, Azizah bertemu dengan lurah Cipayung, Tommy Patria, yang juga mencoba peruntungan dalam pilkada tahun depan.

Keseriusan Azizah sudah mulai terbaca sejak beberapa bulan lalu. Namanya disebut-sebut akan merampaikan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Rupanya hingga akhir Agustus Azizah terus roadshow. Hal ini yang paling memungkinan dilakukannya sebelum pendaftaran pasangan calon, April mendatang.

Walaupun belum mendapat dukungan dari parpol manapun, Azizah rupanya cukup percaya diri. Dirinya bahkan mengklaim tidak maju lewat jalur independen, dan hanya ingin lewat partai politik.

Insya Allah saya majunya lewat partai politik. Sekarang masih ikhtiar mencari dukungan,” katanya seperti dikutip Jawapos.com

Ibu Sembilan anak ini terhitung cukup rajin berkomunikasi dengan sejumlah elemen. Foto-fotonya bahkan berseliweran di beberapa jejaring media sosial, seperti facebook dan instagram. Dalam foto itu memuat kegiatannya, dari bertemu warga, para tokoh, hingga pekerjaannya sebagai pegawai negeri di Kemenag. Bisa jadi itu bagian dari pencitraan Nur Azizah untuk mengerek dukungan. Walaupun dari pesan berantai yang tersebar di grup whatsapp, popularitasnya baru 3%. Namun itu sudah sebuah kemajuan untuk orang yang baru memperkenalkan diri.

Sisa waktu yang ada amat memungkinkan tingkat pengenalannya bakal naik. Apalagi jika sosialisasi mulai massif dilakukan. Jika itu bisa dilakukannya dengan baik tentunya akan menguntungkan. Azizah bisa dikatakan kini seorang diri dalam melakukan sosialisasi. Ia hanya didampingi asisten pribadi. Konsultan pun belum dimiliki. “Saya masih keliling sendirian saja. Mengenalkan diri. Belum punya konsultan,” akunya, beberapa waktu lalu.

Peta Dukungan Nur Azizah

Jika ditilik dari latar belakang keluarganya, amat memungkinkan dirinya didukung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai yang lekat dengan Nahdlatul Ulama ini memiliki lima kursi DPRD Kota Tangsel. Untuk memenuhi syarat maju sebagai calon walikota minimal 10 kursi dukungan. Artinya jika PKB memberikan restu, Azizah tinggal mencari minimal lima kursi lagi. PDIP yang punya delapan kursi bisa diambilnya mengingat sang ayah punya hubungan yang baik dengan sang ketua umum Megawati Soekarno Putri.

Apalagi saat perayaan HUT RI, beredar fotonya dengan ketua umum pemenang pemilu tersebut. Walaupun hanya foto biasa, namun bisa dimaknai secara politis. Azizah sedang mendekati PDIP.  Dengan bisa langsung berkomunikasi dengan Megawati, itu nilai positif Azizah. Artinya ia tidak perlu melalui perantara untuk menemui petinggi PDIP tersebut.

Dengan modal tersebut, sebetulnya tugas Azizah adalah meningkatkan pengenalan. Jika modal itu bisa dipenuhi, dukungan akan mudah dilakukan. Dukungan dua partai tersebut sudah cukup untuk memuluskan langkah Azizah dalam merebut kursi Tangsel satu.

Selain mencari dukungan parpol, dirinya juga rajin menemui masyarakat. Seperti foto-fotonya beredar bersama anggota DPRD Provinsi Banten dari fraksi PKB Suryadi Hendrawan. Dalam foto tersebut dirinya dikelilingi warga dengan peci bertulisakan Nahdlatul Ulama. Dikelilingi warga, Azizah nampak serius mendengarkan keluh kesah mereka. Setiap keluhan warga dicatat dengan baik-baik oleh ibu bergelar doktor tersebut.

Sebetulnya langkah politik zig-zag Azizah sudah berada pada ruang yang benar. Di satu sisi, ia mengkonsolidasi pemain-pemain politik di kota bekas pemekaran kabupaten Tangerang itu.  Satu sisi lainnya, ia mencoba masuk ke sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki modal politik cukup kuat. Rasa-rasanya Azizah bakal terus memainkan politik tersebut. Dua kaki dikerjakan sendirian. Menemui warga sambil menampung keluh kesah mereka. Apa saja kebutuhan dan lain sebagainya. Sambil lalu mencari dukungan para pemain politik serta lakukan pemetaan.

Dari hasil keliling ini, Azizah sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Tentunya rintangan tidak akan mudah. Apalagi merebut Tangsel yang memang jadi incaran sejumlah elite-elite politik. Citra kota jasa dan perdagangan dengan pendapatan asli daerah yang besar tentunya menggiurkan.

Nah, dengan langkah-langkah yang sudah dilakukan, Azizah hanya menekan tombol ikhtiar untuk bertarung. Tentunya bakal ada jalan terjan ke depannya. Pembacaan peta dan momentum yang jeli akan memudahkan langkahnya. Kita tunggu kejutan beberapa bulan lagi. (dawson)

Share this...
Print this page
Print