Gatot, Kursi Pimpinan Dewan, dan Persoalan Tangerang

oleh -
Ketua DPC PDIP Kota Tangerang Gatot Wibowo.

Anggota DPRD Kota Tangerang baru saja dilantik awal pekan ini. Para wakil rakyat ini akan bertugas hingga lima tahun mendatang. Pelbagai pekerjaan  sudah mulai harus diselesaikan. Dari penyusunan anggaran murni, pembuatan perda serta pengawasannya. Namun untuk Kota Tangerang rasa-rasanya  para dewan harus bekerja lebih ekstra lagi. Terutama dalam menyikapi persoalan.

Maklum dalam enam bulan terakhir, Kota Tangerang menjadi sorotan. Terutama gaya politik walikota Arief R Wismansyah yang bisa dibilang bermain sendiri. Pria asli Kebumen tersebut cenderung mencoba power full ketika menyikapi pelbagai masalah. Ambil contoh kasus dengan Kementerian Hukum dan HAM tentang aset, sang walikota terlihat sendiri. Ia tak ada yang menemani, bahkan oleh orang-orang terdekat sekalipun. Semua diselesaikan sendirian. Arief menghadap Kemendagri sendirian, bicara sengketa lahan sendirian, hingga komunikasi dengan kehumasan juga dilakukannya secara sendiri.

Bisa jadi ia mencoba menunjukkan kekuatannya. Arief bisa menyelesaikan persoalan itu sendirian. Begitupun ketika heboh kasus jenazah. Dimana korban tewas tenggelam jenazahnya tidak boleh pakai mobil ambulans. Hingga sang paman korban memopong sendirian dan sempat terekam kamera. Kasus ini viral. Warganet heboh. Hujatan, kritik, cacian, netizen memenuhi lini massa.

Lagi-lagi sang walikota tampil sendirian. Ia seperti menjadi humas kota Tangerang menghadapi cercaan publik. Dengan kewenangannya, Arief merevisi aturan penggunaan mobil ambulan. Dengan pelbagai persoalan yang dihadapi Pemkot Tangerang dalam waktu dekat secara bersamaan, Arief bisa dikatakan lulus ujian.

Nah, dengan kelihaian politik Arief tentunya juga harus diimbangi kemahiran para wakil rakyat. Jangan sampai wakil rakyat keok dengan sejumlah kebijakan pemkot. Nah, kontrol dewan sangat penting dalam setiap keputusan pemerintah daerah.

Disini pentingnya kemahiran politik. Terutama dalam hal diplomasi, komunikasi, mobolisasi, hingga startegi politik. Maka itu, tugas Ketua DPRD penting dalam bakat tersebut. Meskipun dalam dewan tidak ada hirarki, semuanya kolektif kolegial. Tetapi pimpinan dewan sebagai koordinator butuh kepandaian, kecakapan, dan kecanggihan dalam politik

Lalu siapa yang bisa melakukan itu?

Dalam aturan yang ada, kursi pimpinan dewan, itu jatah pemenang pileg. Jika melihat komposisinya, ketua DPRD Kota Tangerang bakal diisi kader PDIP sebagai pemenang pemilu dengan kursi terbanyak. 10 kursi.

Nah, bila melihat komposisi pimpinan sementara, rasa-rasanya Gatot WIbowo bakal menjadi ketua dewan definitif. Ada beberapa hal yang mendasari kenapa ia bakal mulus jadi ketua. Pertama, ia menduduki ketua DPC PDIP Kota Tangerang. Jabatan yang sangat strategis karena ia memiliki kewenangan besar. Juga dalam hal intervensi di fraksi PDIP.

Kedua, pengalaman. Meski usianya terhitung muda 39 tahun, namun ia sudah pernah menjadi wakil dprd kota Tangerang periode 2009-2014. Waktu itu usianya baru 29 tahun. Sangat muda untuk itungan pimpinan. Naas, saat bertarung di 2014 ia gagal saat maju jadi dewan provinsi. Pasca kekalahan, Gatot mengabdi di DPC PDI.  Ia menjadi sekretaris DPC, untuk kemudian naik kelas ketika ada pergeseran pasca pilgub 2017. Kemenangan di Kota Tangerang saat pileg lalu berbuah kepercayaan melanjutkan kepemimpinan di DPC PDIP periode 2019-2024.

Ketiga, memiliki komunikasi yang cukup bagus. Dalam hal berhubungan dengan sejumlah kalangan, Gatot terhitung cakap. Buktinya, ketika habis dilantik, ia mengumpulkan kawan-kawan media. Konferensi pers diadakan. Semua wartawan dipersilahkan bertanya dan dirinya berjanji akan terbuka dengan teman-teman media.  Ini satu hal yang baik karena lewat media, semua kerja-kerja dewan bisa disampaikan. Bisa disebarluaskan. Ini marketing yang cukup cakap di tengah apatisme warga terhadap lembaga wakil rakyat tersebut.

Nah, dengan bekal yang dimiliki ditambah konsolidasi yang sudah dilakukan Gatot, rasa-rasanya jabatan ketua akan segera diembannya.  Dengan kondisi seperti itu, ia bisa berkomunikasi dengan walikota. Terutama dalam menjaga hubungan legislatif dan eksekutif agar lebih baik. Penting menjaga komunikasi ini supaya semua program yang ada dapat berjalan baik, tanpa ada kendala apapun. Tanpa mengabaikan tugas wakil rakyat. Seperti lirik Iwan Fals, “Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil Rakyat bukan paduan suara, hanya tahu nyanyian lagu setuju,”.

Bait bagus gubahan Iwan Fals patut direnungkan Gatot Wibowo bersama koleganya di DPRD sana. Selamat bekerja. Ditunggu janji-janjinya. (dawson)

Share this...
Print this page
Print