Nasib Politik Independen

oleh -
Uten Sutendy
Uten Sutendy

Sampai saat ini jalur independen dalam perpolitikan nasional baru sebatas liife-servis demokrasi saja. Belum benar- benar menjadi jalur alternatif yang dianggap efektif dan menguntungkan untuk para politisi. Malah yang terjadi sebaliknya. Banyak politisi yang mengambil jalur ini mati sebelum waktunya, bahkan lumpuh sebelum bisa berdiri. Kenapa?

Pertama, sistem politik nasional masih identik dan kuat melekat sebagai politik partai. Mereka yang lewat di luar jalur partai suka atau tidak dianggap sebagai “politisi gurem” yang tak punya “isi tas”. Oleh karenanya, di era politik bisnis (transaksi) saat ini jalur independen sulit mendapat dukungan rakyat, selain mudah dipatahkan oleh lawan.

Kedua, sebagian warga Indonesia secara politik sudah rusak, dimana politik dianggap sebagai “pesta berduit”. Budaya transaksi dan lobi-lobi politik berbasis uang masih sangat kuat. Kalaupun ada gerakan idealisme dari anak -anak muda dan kaum idealis, masih kalah kuat dengan gelombang politik uang.

Ketiga, tokoh- tokoh politisi yang benar -benar independen belum banyak muncul. Independen dalam pengertian yang sebenar-benarnya, baik secara finansial, jaringan massa, maupun independen dalam visi dan pemikiran. Munculnya politisi yang mengambil jalur independen dalam banyak kasus di daerah lebih banyak untuk sekedar menaikan daya tawar transaksional dg pihak lawan politik.

Di wilayah Banten, bukan hanya belum pernah ada catatan prestasi untuk kelompok independen tetapi juga potret politik Banten juga lebih banyak mempertontonkan “Kegagalan Total” hampir semua partai politik.

Ada banyak partai politik yang aktif, tetapi sedikit sekali partai politik di wilayah ini (termasuk di Tangsel) yang aktif secara independen (bisa mengambil sikap politik mandiri dan tak bisa dibeli).

Sebagian besar dari mereka (partai politik) sudah masuk ke dalam jaringan dan perangkap dengan apa yang saya sebut sebagai “Peternakan Politik”.

Mereka menyusui dan mendapat makan dari sumber dan kekuatan tertentu hingga tiap kali datang musim politik sang pemilik peternakan tinggal panen. (Mr Ten)

Share this...
Print this page
Print