Wawan,NasDem,dan Kejujuran Berpolitik

oleh -
Ketua DPW NasDem Banten Wawan Iriawan.

Bicara NasDem Banten mungkin tidak bisa dilepaskan dari kiprah sang ketua, Wawan Iriawan. Mungkin ini berlebihan, tapi jika kita bicara jujur Wawan identik dengan NasDem Banten. Politisi asal Pandeglang, Banten ini sudah enam tahun terakhir menakhodai partai besutan Surya Paloh di ujung pulau Jawa. Waktu yang cukup lama untuk jabatan ketua partai. Meskipun sempat ada pergantian pada 2014 ketika almarhum Abu Bakar Nataprawira sempat jadi ketua. Namun selepas jenderal bintang dua melepaskan jabatannya, Wawan kembali memimpin partai NasDem.

Kiprahnya sebagai ketua partai sudah tidak diragukan lagi. Loyalitas untuk partai patut diacungi jempol. Walaupun dalam pertarungan politik ia bisa dianggap kurang beruntung karena gagal dalam pencalonan legislatif. Tetapi banyak yang bisa diambil dari kerja-kerja politiknya selama ini.

Bisa dikatakan urusan publikasi, Wawan paling terdepan. Ia kerap mengundang awak media untuk sekedar meliput kegiatan NasDem yang sebetulnya hanya untuk konsumsi internal. Baginya publikasi partai amat penting untuk melihat sejauh mana kiprah-kiprah politik partai berjalan.

Urusan partai disukai atau tidak itu urusan belakangan. Terpenting pesan NasDem menyampaikan program-program politiknya bisa berjalan. Itu sangat penting bagi eksistensi sebuah partai.

Nah, bicara lekatnya Wawan dan NasDem itu memang tidak ada duanya. Ia bisa mengkonsolidasi kader untuk sekedar kongkow-kongkow di sebuah warung miliknya di sekitaran BSD. Kalau kader sudah kumpul semuanya riuh, gagasan, ataupun ide-ide kader untuk kemajuan partai bisa teralisasikan.

Nah, enam tahun berjalan, Wawan bisa dikatakan purna tugas. Dalam sebuah acara konsolidasi partai beberapa waktu lalu, ia setengah pamit. Tugas partai berikutnya akan diberikan kepada kader yang dianggap lebih mumpuni dibandingkan dengannya. Pesan Wawan bagaimana kader bisa tetap solid dan menjaga marwah partai. Terpenting semua program partai dapat tersampaikan kepada masyarakat.

Tahun 2019 ini bisa dikatakan menjadi ujian paling berat baginya. Betapa tidak ada beberapa daerah kursi NasDem berkurang. Cobaan paling berat ada di Kota Tangsel. Tiga kursi pada 2014 lalu melayang. Tidak ada satupun kursi yang didapat di Tangsel padahal NasDem berhasil mendudukan kadernya menjadi wakil walikota.

Ini sebuah ironis, tetapi sebuah keniscayaan politik juga. Betapa tidak, ada kader menjadi orang nomor dua di Kota Tangsel tetapi tidak dapat kursi satupun.

Meski begitu Wawan enggan menyalahkan siapapun. Ia berdiri tegak menanggungnya. Kegagalan di Tangsel menjadi tanggung jawabnya. Baginya itu sudah lewat dan partai harus berbenah agar kejadian serupa tidak berulang lagi.

Begitupun kursi DPR-RI yang hilang. Dimana dapil Pandeglang-Lebak yang terisi pada pemilu 2014 juga harus lepas. Dapilnya Tangerang Raya pun tidak bisa diraih. Ini kekalahan kedua kalinya.

Meski begitu ada satu pengalaman yang bisa diambil dari serentetan kegagalan NasDem di Banten. Yakni kejujuran politik sang ketua. Ia enggan menyalahkan kadernya sebagai biang kegagalan partai. Semua ditanggungnya. Meskipun agak berat, tetapi Wawan enggan mau menyalahkan siapapun. Baginya jika menoleh ke belakang partai tidak akan besar. Yang ada hanya saling menyalahkan dan partai malah akan terseret kepada perseturuan antar kader. Ini tidak akan ada ujungnya. Bukannya mengejar ketertinggalan dengan partai lain. Yang ada kian tertinggal dan terhempas.

Wawan sadar akan hal itu. Makanya ia mengumpulkan kader untuk lakukan konsolidasi pasca pemilu. 2024 masih panjang. Kerja-kerja politik di dewan juga baru saja dimulai. Namun jika tidak dirancang dari sekarang, evaluasi partai dan sebagainya tidak dilakukan, jangan berharap partai akan berkiprah lebih jauh lagi. Mungkin kian terjerebab. Hal itu sudah dibaca olehnya. Ia pun buru-buru mengkonsolidasi. Sekalian setengah pamit dari partai yang membesarkannya, NasDem. Kita lihat kiprah berikutnya. Ya, NasDem apakah akan bangkit dari keterpurukan atau sebaliknya, kian terbenam. Hanya waktu yang akan menjawabnya. (dawson).

Share this...
Print this page
Print