Agenda Literasi Umat Islam

oleh -
Uten Sutendy

Oleh Uten Sutendy*)

Islam adalah api semangat literasi bagi peradaban umat manusia. Melalui ayat pertama dalam Al Qur’an, Iqra, Islam ingin menegaskan bahwa yang terutama dan terpenting bagi umat dalam menjalankan tugas hidup sebagai khalifah ialah kemampuan membaca.

Tentu membaca dalam pengertian yang luas. Bukan sebatas membaca teks buku atau tulisan-tulisan yang tertera dalam Al- Qur’an maupun kitab suci sebelumnya, melainkan membaca realitas kehidupan yang dipenuhi oleh tanda-tanda dan simbol-simbol kebesaran Sang Maha Pencipta. Bahkan para ahli spiritual menyebut kata “tulisan” berasal dari dua suku kata. Yakni “Tuh” dan “Lisan”. Artinya, Tuh bacalah Lisan Sang Maha Kuasa yang diperlihatkan lewat keragaman dan keagungan ciptaanNya.

Dengan pengertian tersebut, sebagai khalifah, manusia umat Islam bukan hanya perlu terus menerus meningkatkan kemampuan membaca ayat- ayat Tuhan baik yang tertulis maupun yang belum dan tidak tertulis, tetapi juga dituntut untuk pandai mengartikulasikan ayat-ayat tersebut dalam berbagai bentuk karya nyata.

Itulah yang disebut dengan literasi Islam, yaitu kemampuan membaca dan mengartikulasikan hasil bacaan ayat-ayat Tuhan dalam berbagai bentuk karya tulis, dan seni budaya dengan tujuan untuk membenahi kehidupan umat manusia di muka bumi berdasarkan nilai-nilai luhur kehidupan.

Bentuk literasi itu sendiri bermacam-macam: karya tulis buku ilmiah, novel, puisi, pantun, skenario, lagu, dan karya seni budaya, film, life skill public speaking, dan seni acting.

Karya- karya literasi inilah yang menjadi cikal-bakal sekaligus ciri khas kemajuan peradaban umat Islam di masa kejayaan.

Puncak kejayaan literasi di dunia Islam dicapai pada masa Bani Abbasiyah saat berdiri perpustakaan dan pusat kebudayaan Islam pertama bernama Baitul Hikmah di Kota Bagdad. Perpustakaan ini bukan hanya menyimpan ratusan ribu buku, tetapi juga menjadi pusat ilmu dan kegiatan intelektual umat Islam.

Dilanjutkan dengan kejayaan di masa Bani Ummayah saat Sultan Al Hikam mendirikan pusat perpustakaan dan kebudayaan bernama Cordoba di Andalusia, dimana Sang Sultan tersebut menyumbang lebih dari 600.000 judul buku miliknya yang kemudian disimpan di perpustakaan tersebut.

Di masa kejayaan itu orang-orang menjadi sukses dan kaya karena bergerak dalam bidang usaha literasi menulis dan mencetak buku. Warga memiliki tradisi membaca yang kuat dan penguasa Islam memberi penghargaan yang tinggi kepada warga yang rajin membuat karya tulis. Setiap karya tulisan ditimbang lalu ditukar dengan kepingan emas.

Begitulah kemajuan literasi Islam mencapai bentuknya yang sempurna hingga dalam perkembangannya mampu melahirkan sejumlah pusat ilmu pengetahuan dan poros peradaban umat ternama di dunia sampai sekarang. Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, dan Universitas Al Qowiyyin di Maroko yang berdiri tegak sampai sekarang adalah bukti di masa lalu Islam sangat berjaya di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Berbarengan dengan itu lahir juga para tokoh intelektual Islam dari berbagai bidang disiplin ilmu. Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Farabi, dst.

Apa yang membuat literasi dan peradaban Islam begitu maju pesat saat itu?

Pertama, ada misi besar dan kesadaran tinggi untuk memaksimalkan peran umat sebagai Khalifah. Yakni tugas menyampaikan pesan-pesan Allah lewat interpretasi ayat-ayat Al Qur’an dan ayat-ayat kauniyah dalam berbagai bentuk karya literasi.

Kedua, karena menyadari peran dan tugas hidup sebagai Khalifah, maka ber-bagai ilmu keterampilan hidup yang menunjang tugas dan peran tersebut terus dipelajari dan dikembangkan. Diantaranya ilmu kemampuan menulis yang baik (creative writing) dan ilmu keterampilan berbicara di depan umum yang hebat (public speaking) atau ilmu dakwah.

Tujuannya apa? Agar pesan kebenaran Al Qur’an dan kebenaran Illahiyah lainnya di tangan para ahlinya bisa lebih efektif tersebar.

Ketiga, fokus, konsisten menjaga, dan memelihara sikap dan sifat ahlak mulia (terhindari dari kecenderungan nafsu pada kekuasaan dan cinta materi-duniawi).

Literasi dunia Islam kemudian mengalami kemunduran sejak pertengahan abad 17 dan mencapai titik nadirnya di abad ke 2O?

Rebutan kekuasaan di dalam internal kesultanan Islam dan mulai lunturnya nilai-nilai ahlak mulia di lingkungan penguasa yang terjadi dalam kehidupan dunia Islam sehingga memberi peluang kepada kekuatan lain dari luar masuk untuk mengambil alih. Dalam proses peralihan tersebut (diawali dengan perang salib) karya- karya literasi umat Islam hancur terbakar dan dibakar kecuali yang dibawa pergi ke dunia Barat karena dianggap memiliki kualitas yang yang diperlukan bagi kepentingan penguasa Kristiani Romawi untuk menguasai dunia.

Simbol kemajuan peradaban manusia dengan cepat berubah, yang tadinya tumbuh di dunia Islam, sejak awal abad 17 sampai hari ini beralih ke dunia Barat.

Islam sebagai nilai dasar Literasi

Dari peristiwa sejarah di atas umat Islam mestinya banyak berefleksi mengambil hikmah dan pelajaran terpenting dan berharga.

Pertama, bahwa Islam adalah peletak batu pertama bagi bangunan perkembangan literasi dan peradaban umat manusua di muka bumi.

Kedua, hanya dengan mengembangkan semangat literasi sebuah bangsa bisa memiliki harga diri dan bermartabat di mata dunia .

Ketiga, literasi bukan hanya menjadi sumber modal bagi lahirnya para pemimpin di ber-bagai bidang disiplin ilmu dan kehidupan, melainkan juga jadi penggerak utama bagi perkembangan kesejahteraan ekonomi umat.

Keempat, kemajuan literasi juga harus terus dipelihara dan dijaga lewat kekuatan kebijakan politik dan ekonomi.

Tantangan Literasi Ummat

Literasi adalah potret kehidupan intelektual umat. Jika literasi ummat Islam hari ini dalam keadaan terpuruk, itu karena kondisi umat juga sedang terpuruk dalam banyak dimensi kehidupan dunia, terutama dalam perspektif keilmuan.

Contoh kasus di Indonesia, sejak paruh tahun 8O-an, literasi umat Islam terus menurun. Penurunan tersebut seiring dengan melemahnya kekuatan politik dan ekonomi umat, terutama sejak era reformasi dan lahirnya era keterbukaan informasii.

Sebelumnya, antara awal tahun 80-an dan awal 90-an, literasi umat Islam Indonesia mengalami masa keemasan saat beberapa cendekiawan muslim berkuasa di panggung politik dan ekonomi ikut mendorong dan menopang menerbitkan buku buku dan majalah berbasis Islam seperti majalah Panjimas, Ulumul Qur’an, Majalah Ummat, Hidayah, dan lain-lain.

Lemahnya panggung literasi umat Islam hari ini setidaknya disebabkan oleh beberapa faktor di bawah ini.

Pertama’, kian kuatnya pengaruh dominasi kekuasaan politik dan ekonomi dunia Barat. Mereka menguasai hampir seluruh panggung- literasi yang tersedia. Mulai dari akses permodalan bagi penerbitan dan pemasaran buku dan majalah sampai ke panggung seni budaya, film dan teater. Efeknya bukan hanya mematikan kreativiras seniman, budayawan, dan penulis yang berasal dari basis Islam, tetapi juga menutup keran artikulasi kebudayaan lokal dan nasional.

Kedua, lemahnya manajemen bisnis dan usaha yang dimiliki oleh para penggiat literasi Islam hingga banyak kelompok usaha di bidang ini guling tikar, kalah bersaing. Selain itu juga lemah dalam mengantisipasi kebutuhan dan tuntutan zaman.

Ketiga, belum terbentuk kesadaran kolektif di kalangan elite Islam untuk merumuskan platform nilai-nilai perjuangan umat lewat jalur literasi. Umat masih terkotak-kotak ke dalam banyak firqoh pikiran dan aliran kepentingan jangka pendek.

Keempat, kelompok umat Islam masih terobsesi dengan kekuasaan hingga kegiatan literasi yang lahir lebih banyak untuk kepentingan politik praktis bukan untuk perjuangan jangka panjang membangun peradaban luhur umat.

Kelima, ketidaksiapan menghadapi era keterbukaan informasi dan gencarnya serbuan informasi dari berbagai belahan dunia luar, membuat umat tenggelam dan terjerat menjadi konsumen informasi di hilir, bukan lagi menjadi produsen informasi yang handal.

Keenam, umat Islam terjebak dalam lingkaran kepungan neoliberalisme suatu faham bahwa segala sesuatu diukur dari nilai “laba.” Hal ini secara tidak langsung perlahan-lahan membunuh kesadaran kolektif untuk membangun ummat mawadah warohmah. Yang terjadi saat ini adalah rebutan panggung dan baju Islam untuk kepentingan pragmatime jangka pendek. Sungguh suatu proses pendangkalan berfikir yang membuat matinya kreativitas karya literasi.

Agenda Literasi Islam

Dengan berbagai problema tantangan di atas, maka ke depan harus ada agenda dan langkah-langkah strategis sebagai berikut:

Pertama, menguatkan mindset, paradigma,bahwa literasi adalah alat perjuangan untuk membenahi kehidupan (dakwah).

Kedua, merumuskan “the new value of Islam” dalam menghadapi era milenial saat in, bahwa tugas umat (dakwah) bukan hanya untuk komunitas muslim saja, terapi juga untuk umat manusia lain (Rahmatan Lil Al-Amin), karenanya perlu ada konfromi nilai dalam membuat strategi perjuangan. Misalnya, yang perlu dikedepankan adalah value, content (isi) bukan lagi semata identitas (baju).

Ketiga meningkatkan kemampuan life skill di bidang literasi (creative writing, public speaking, film, dan seni budaya).

Keempat, meningkatkan kemampuan dan visi entrepreneur dengan mengembangkan manajemen bisnis di bidang literasi hingga bisa bersaing dan piawai dalam mensiasati perkembangan era masa kini.

Kelima, memaksimalkan kemampuan literasi dengan memanfaatkan ketersediaan jaringan media cyber sebgai alat perjuangan. Maka para aktivis Ormas Islam wajib menjadi pasukan cyber, cyber army (pasukan cyber) di bidang literasi.

Terimakasih
Wassalam.

September 2019

*)Praktisi Literasi

 

Share this...
Print this page
Print