Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Maskot Pilkada Disoal, Ini Tanggapan KPU Kota Tangsel

KPU Kota Tangsel membantah ‘Si Pangsi’ yang dijadikan maskot untuk Pilkada 2020 hanya mewakili satu etnis saja, yakni Betawi.

Sebab, kata Komisioner KPU Tangsel Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat Ade Wahyu Hidayat maskot ‘Si Pangsi’ tidak menggambarkan, atau mewakili dari satu etnis saja.

Kemudian, baju yang dipakai oleh maskot tersebut adalah pakaian pangsi yang banyak digunakan oleh berbagai budaya yang berada di Indonesia.

“Yang dikenakan itu bukan baju betawi, itu kan kartun memakai baju pangsi, dan pangsi bukan dipakai sama orang betawi saja, sunda, madura dan jawa juga. Jadi jangan satu persfektif.
Kemudian dia pakai peci, peci hitam itu kan budaya nasional, kalau betawi kan peci merah,”kata Ade saat dikonfirmasi, Selasa (16/6/2020).

Ade mengungkapkan, dalam penentuan maskot juga, KPU Tangsel menggelar sayembara. Namun, kata dia, lantaran hasil sayembara tidak sesuai motto Pilkada yang berbudaya, pihaknya memutuskan ‘Si Pangsi’ menjadi simbol untuk perhelatan lima tahunan.

“Sebenarnya untuk menentukan maskot 2015 lalu, kita buka sayembara. Cuma karena hasil sayembara terlalu modern,
Karena tidak sesuai dengan motto kita Pilkada yang berbudaya (sesuatu hal yang positif) maka kita ambil maskot dari sisi kearifan lokal,” ungkapnya.

Selain itu, kendati tidak mengakomodir keseluruhan etnis yang ada di Tangsel, Ade menambahkan, ‘Si Pangsi’ dapat menjadi simbol, sebagaimana gagasan KPU dalam menyelanggarakan Pilkada yang berbudaya dan berdaya, sesuai singkatan dari nama maskot tersebut, yakni Pilkada yang Bertanggung Jawab, Smart dan Berintegritas.

“Dalam sebuah maskot itu, tidak bisa mengakomodir keararifan lokal secara keseluruhan. Yang diambil itu yang muncul secara keseluruhan. Kalau kita tendensius ke betawi mending kita pakai ondel-ondel,” tandasnya. (ari)

Berita Lainnya
Leave a comment