Untuk Kepentingan Umum

Tiga Paslon di Pilkada Kota Tangsel, Ini Peta Kekuatannya

1.473

Pilkada Kota Tangsel kian dinamis jelang pendaftaran September mendatang. Otak-atik nama yang bakal maju sudah mulai mengerucut pada tiga pasangan calon. Benyamin Davnie – Pilar Saga Ichsan merupakan pasangan yang sudah jauh-jauh hari mendeklarasi maju di pilkada lima tahunan ini. Disokong partai Golkar yang memiliki 10 kursi parlemen, pasangan ini bisa ikut pilkada meski tanpa berkoalisi. Lalu siapa dua paslon lainnya?.

Nama Muhamad – Rahayu Saraswati mulai menguat setelah keluarnya rekomendasi PDI Perjuangan, 30 Juni lalu. Partai Banteng punya 8 kursi parlemen, sedang Sarah (sapaan Rahayu Saraswati) disokong Partai Gerindra yang juga memiliki 8 kursi parlemen. Artinya, koalisi ini sudah lebih dari cukup untuk maju dalam pilkada.

Nah, paslon terakhir yang juga bisa dipastikan maju adalah Siti Nur Azizah – Ruhamaben yang disokong Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Koalisi dua paslon ini berjumlah 13 kursi, terdiri dari 5 kursi Demokrat dan 8 kursi PKS. Dengan demikian, sudah ada 39 kursi parpol hampir bisa dipastikan mengusung kandidatnya masing-masing di Pilkada mendatang.

Maka, tersisa 11 kursi lagi yang hingga kini belum menentukan arah politiknya secara pasti, diantaranya : PSI (4 kursi), PKB (4 kursi), PAN (2 kursi), dan Hanura (1 kursi). Mungkinkah parpol ini berkoalisi?. Rasanya kecil sekali kemungkinannya.

Meski belum mem-publish keputusannya, namun bila melihat dari aspek sejarah dan kultural, besar kemungkinan PKB akan berkoalisi ke Siti Nur Azizah – Ruhamaben. Faktor Azizah sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) mau tidak mau akan mempengaruhi keputusan ini. Ditambah lagi, KH Maruf Amin, ayah dari Siti Nur Azizah, merupakan salah seorang pendiri PKB.

Sementara PSI, yang selama ini arahnya bakal berkoalisi dengan PDIP, sepertinya belum tentu jadi bila PDIP bergabung dengan Gerindra. Sebab, jauh-jauh hari PSI sudah menyodorkan nama Muhammad yang sempat dipasangkan dengan kadernya, yakni Azmi Abubakar. Sementara fakta terakhir, rekomendasi DPP PDIP adalah untuk nama Muhammad – Rahayu. Artinya, upaya PSI untuk memasukkan nama kadernya sebagai calon wakil wali kota telah pupus.

Dengan kondisi ini, PSI bisa saja mengalihkan dukungannya ke kandidat lain akibat gagalnya wacana yang sebelumnya sudah dibangun bersama PDIP. Pertanyaannya, kemana PSI akan memindahkan dukungannya?. Bila dibandingkan antara dua pasang kandidat yang tersedia, yakni Benyamin – Pilar dan Azizah – Ruhamaben, maka peluang itu akan ada di kubu Azizah – Ruhamaben. Bila ini terjadi, maka pasangan Azizah – Ruhamaben akan menjadi koalisi terbesar, bila PKB pun ikut di dalamnya (21 kursi).

Dengan asumsi demikian, maka akan tersisa 3 kursi lagi yang bakal diperebutkan, yakni PAN dan Hanura. Lalu, ke mana arah dukungannya?.

Jauh-jauh hari, Ketua DPD Hanura Kota Tangsel sudah menyatakan bakal mengusung Muhammad untuk calon wali kota. Tapi, kubu Azizah Maruf pun pernah mem-publish bahwa pihaknya juga mendapatkan dukungan dari DPP Hanura. Situasinya masih sulit diprediksi.

Begitu juga dengan PAN. Bila mengukur dari koalisi lokal, Gerindra dan PAN telah sejalan di lembaga legislatif. Tapi di tingkat nasional, PAN lebih terlihat akur dengan Partai Demokrat. Ini pun masih sulit diprediksi arah politiknya. Yang jelas, PAN dan Hanura tidak berada pada posisi “penentu” bagi kandidat untuk ikut pilkada. Keduanya hanya akan menjadi gerbong tambahan basis massa.

* * * * *

Lalu bagaimana kekuatan tiga paslon tersebut jika nanti bertarung. Tentunya pertarungan bakal berlangsung seru karena nama-nama tersebut memiliki keterkaitan dengan jejaring penguasa, baik nasional ataupun lokal. Mereka bisa dianggap mewakili tiga kekuatan besar, yakni kubu jejaring keluarga Atut Chosiyah (Banten(, kubu jejaring Prabowo Subianto, dan kubu jejaring Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin.

Pertama, Benyamin Davnie – Pillar Saga Ichsan, yang tentunya adalah pasangan “setengah incumben” disokong kekuatan lokal. Dinasti Rau, sebutan untuk keluarga Atut Chosiyah yang menguasai sejumlah daerah di Banten. Pilar Saga Ichsan adalah anak bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Sang bupati merupakan adik kandung Ratu Atut Chosiyah. Artinya Pilar merupakan keponakan Atut Chosiyah serta Walikota Airin Rachmi Diany. Hampir bisa dipastikan, paslon ini akan mendapatkan sokongan penuh Airin. Apalagi Benyamin sudah mendampingi Airin selama dua periode.

Jaringan yang dirawat selama Airin berkuasa bisa jadi akan digunakan lagi untuk memenangkan pasangan Ben-Pillar. Dari jaringan birokat, organisasi kemasyarakatan, hingga loyalisnya Airin. Apalagi pada 2015 lalu Airin yang berpasangan dengan Benyamin Davnie menang cukup telak dengan perolehan suara 305.298 Suara (59,62 persen). Sedang lawannya pasangan Arsid-Elvier Ariadiannie Soedarto Poetri memperoleh 164.648 suara (32,16% persen), dan terakhir pasangan Ikhsan Modjo-Li Claudia Chandra memperoleh 42.094 suara (8,22 persen).

Paslon Muhamad-Rahayu Saraswati dapat menjadi kekuatan yang juga perlu diperhitungkan. Meski ceruk pemilih Muhamad “hanya” berasal dari etnis Betawi. Sebagai putra Ciputat, Muhamad memiliki basis massa yang cukup solid. Ditambah lagi jaringan birokrasinya di pemerintahan Kota Tangsel. Meski, aparatur sipil negara dalam aturannya bersikap netral, namun, pada praktiknya keberpihakan itu kentara terjadi. Misal, beberapa kasus yang sudah masuk ke badan pengawas pemilu (Bawaslu) kota Tangsel kebanyakan berasal dari peran ASN yang jelas-jelas mendukung paslon tertentu.

Sedang Rahayu, kiprahnya memang belum terlihat di Kota Tangsel. Bahkan jelang pendaftaran, belum ada spanduk ataupun posternya berseliweran di daerah bekas pemekaran Kabupaten Tangerang ini. Tetapi dengan status sebagai keponakan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto menjadi nilai lebih untuk Rahayu. Minimal kehadiran Sarah akan memanaskan mesin Partai Gerindra.

Paslon terakhir, Azizah-Ruhammaben. Dua nama ini cukup unik karena bisa jadi paling melengkapi: perempuan dan laki-laki. Bisa jadi ada keuntungannya karena sepuluh tahun Tangsel dipimpin walikota perempuan dan wakilnya laki-laki. Masyarakat seperti diingatkan oleh pasangan Airin-Benyamin. Terlepas pada hal tersebut, ceruk pemilih keduanya juga berbeda. Azizah yang merupakan anak Wakil Presiden RI bisa jadi menyisir pemilih muslim tradisional, seperti basis-basis Nahdlatul Ulama (NU). Jumlahnya cukup besar di Kota Tangsel. Selain itu, basis suara warga PKS jelas cukup solid.

Apalagi dengan Azizah tinggal di kawasan hunian Bintaro Jaya, ia bisa lebih mudah masuk ke komunitas warga di perumahan seluas hampir 3.000 hektare itu. Keuntungan lainnya, Azizah saat ini adalah Wasekjen DPP Partai Demokrat dengan basis massa kelompok moderat yang saat ini pun sudah membangun MoU dengan PKB untuk berkoalisi di ajang Pilkada serentak 2020.

Bila basis suara tersebut bisa dikelola dengan baik tentu akan memudahkannya untuk mengeruk suara pada pilkada mendatang. Apalagi sosialisasi yang dilakukan Azizah sudah lebih dari setahun terakhir. Artinya ia memiliki basis suara yang cukup konkret. Di tambah popularitas sebagai anak Wapres akan menjadi modal elektoralnya untuk bersaing dengan pasangan lainnya. Toh faktanya, banyak orang ingin berkenalan dan dekat dengan keluarga istana. Itu manusiawi dan sangat menguntungkan posisi kandidat Azizah – Ruhamaben.

Peran Ruhammaben sebagai kader PKS juga patut diperhitungkan. Kita tahu, PKS merupakan salah satu parpol dengan basis massa yang solid. Nah, dengan suara PKS yang solid dan ditambah suara dari basis Azizah, maka paslon ini dapat juga menjadi kekuatan besar yang sulit dibendung. Apalagi bila prediksi PSI bergabung dengan kandidat ini, maka situasi ini sudah seperti “tanda-tanda kemenangan”. Klop sudah. Ada keanekaragaman basis massa yang berkumpul dalam satu wadah besar.

Keunikan lainnya, persentase irisan basis suara Azizah – Ruhamaben dengan dua kandidat lainnya sangatlah kecil. Berbeda dengan kandidat Benyamin – Pilar dengan Muhammad – Rahayu. Keduanya memiliki irisan basis suara yang cenderung satu karakter, yakni kelompok pribumi Tangsel. Tentu ini akan membuat dua kandidat tersebut berjuang lebih ekstra dalam memenangkan basis suara di komunal yang serupa.

Tinggal peran Rahayu dengan Gerindra-nya yang menjadi kunci apakah suara kandidat ini naik atau tidak. Sebab mengharapkan PDIP akan sulit mengingat belum lama ini terjadi konflik internal mengenai rekomendasi calon dari DPP PDI Perjuangan. Meski parpol ini sudah berpengalaman dalam penanganan konflik internal, namun dengan banyaknya kader internal yang tidak lolos konvensinya sendiri diprediksi akan mempengaruhi kinerja sebagian kader yang gagal tersebut.

Tapi bagaimanapun, kita berharap semua kandidat bisa berjuang maksimal agar kualitas Pilkada saat ini bisa lebih baik. Selebihnya, kita lihat hasilnya ke depan.

Wardana Toer

Penulis berprofesi sebagai jurnalis

Golkar Kota Tangerang
You might also like
Loading...