Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Tim Rubah Leicester City, Cinderella dari Inggris

HANYA enam menit papan skor di King Power Stadium, markas Leicester City FC, bertahan dengan angka 0-0. Di menit enam itulah bola liar hasil tendangan sudut dikonversi menjadi gol oleh Wilfred Ndidi lewat tembakan first time keras dan sedikit mengenai tiang sebelum menyentuh jala gawang Chelsea yang dijaga Edouard Mendy. Tuan rumah unggul 1-0.

 

Tak jadi momen bersorak kegirangan kali terakhir buat pelatih Leicester, Brendan Rodgers. Empat menit jelang turun minum, tercipta lagi peluang emas dari through pass Marc Albrighton. James Maddison yang posisinya tak terkawal langsung menyambutnya dengan mendorong bola ke sudut kiri gawang Mendy. Skor 2-0 itu bertahan hingga laga matchday ke-19 Liga Inggris, Selasa (19/1/2021) malam itu usai.

 

 

“Anda telah melihat spirit tim yang sebenarnya malam ini. Penampilan dan kedewasaan tim diperlihatkan sangat memuaskan. Saya mengerti kami bermain melawan tim penuh talenta (Chelsea) dan kami tak boleh melakukan kesalahan,” ungkap Rodgers pascalaga, dikutip Daily Mail, Rabu (20/1/2021).

 

 

Tiga poin yang diraih “The Foxes”, julukan Leicester, itu meroketkan posisinya ke puncak klasemen Liga Inggris musim 2020-2021. Dengan 38 poin, mereka untuk sementara unggul satu angka dari Manchester United di posisi kedua.

 

Para pendukung “The Foxes” pun mulai berharap sejarah “dongeng Cinderella” terulang sebagaimana musim 2015-2016. Di musim itu, publik Inggris terhenyak dan terheran-heran melihat tim medioker itu keluar sebagai juara di bawah asuhan Claudio Ranieri.

 

 

 

 

Kendati demikian, Rodgers belum ingin berpikir ke arah situ. Musim ini masih panjang dengan 19 partai tersisa. Terlebih beberapa tim lain macam Tottenham Hotspur dan Chelsea juga sempat dininabobokkan asa serupa saat memuncaki klasemen sementara beberapa pekan sebelumnya.

 

“Jangan lupakan kualitas Manchester City, Liverpool sang juara bertahan, dan Manchester United yang penampilannya juga hebat. Bagi Leicester berada di atas tim-tim dengan level luar biasa seperti itu saja sudah membuat saya senang. Tentu akan jadi tantangan besar memuncaki klasemen namun kami dengan senang hati menghadapi tantangan itu,” sambung eks pelatih Liverpool dan Glasgow Celtic itu.

 

Sebagaimana tim-tim medioker lain di Liga Inggris, Leicester kerap dipandang sebelah mata. Reputasinya tak pernah setara dengan klub mapan macam Arsenal, Chelsea, Liverpool, serta dua tim sekota: Manchester City dan Manchester United.

 

Akan tetapi pandangan itu berbalik 180 derajat kala tim-tim adidaya itu terpuruk dan tanpa dinyana Jamie Vardy dkk. mengangkangi mereka dengan merebut titel lima musim lalu. Padahal sejak berdirinya 137 tahun lampau, Leicester acap kesulitan bertahan di kompetisi teratas Inggris.

 

Jatuh-Bangun

 

Leicester Fosse Football Club, begitu sebutan awal klub ini kala didirikan sekumpulan pemuda Wyggeston School di kota Leicester pada 1884. Sebutan “Fosse” diambil dari nama areal tempat lapangan mereka biasa bermain, Fosse Road. Adalah Joseph Johnson dan Frank Gardner, dua dari lima pendiri klub, yang membentuk satu komite untuk mengembangkan manajemen klub yang bermula dari swadaya para pemainnya.

 

“Para pemain menyumbangkan sedikit uang dan seorang tukang kayu lokal dipercayakan untuk membuat dua set gawang menjelang pertandingan pertama klub di lapangan dekat Fosse Road. Pertandingan pertama mereka adalah melawan Syston Fosse yang berkesudahan 5-0 untuk Leicester. Para pencetak gol pertamanya adalah Hilton Johnson (dua gol), Arthur West (2), dan Sam Dingley,” sebut David Clayton dalam Leicester City FC Miscellany: Everything You Ever Needed to Know about The Foxes.

 

Pertandingan pertama yang dihelat pada 1 November 1884 itu namun belum tercatat sebagai laga kompetitif resmi karena Leicester Fosse baru mengajukan diri dan diterima sebagai anggota The Football Association (FA, induk sepakbola Inggris) pada 1890. Leicester baru memainkan laga kompetisi pertamanya pada musim 1891-1892 di Midland League, kompetisi semi pro di bawah Division Two.

 

Menukil laman resmi klub, Leicester mulanya bermain dengan seragam atas hitam bercorak garis horizontal biru dan celana putih. Saat pertamakali tampil di Midland League pada 1891, warna itu diubah menjadi atasan cokelat dan celana biru. Baru setelah naik ke Division Two pada 1903 Leicester mengubah warna kostumnya jadi biru-putih yang bertahan hingga kini.

 

 

Markas tim juga sempat beberapa kali pindah. Dari Fosse Road ke Victoria Park, lalu Balgrave Road, County Cricket Ground, hingga Filbert Street yang bertahan sejak 1891. Bersamaan dengan rampungnya pembangunan King Power Stadium berkapasitas 32 ribu penonton pada 2002, Filbert Street pun ditinggalkan klub.

 

Pun dengan logo klub. Sejak 1884 hingga lebih setengah abad, Leicester belum punya logo resmi alias hanya sekadar menyematkan logo kota Leicester berupa perisai “Gules” dengan seekor naga di atasnya. Baru pada 1948 Leicester memiliki logo berupa kepala rubah di tengah perisai putih di seragamnya. Rubah sebagai hewan cerdik dan lincah dijadikan sebagai logo, maskot, dan julukan karena wilayah Leicestershire kondang dengan perburuan rubah.

Sayangnya, dari masa ke masa Leicester Fosse acap jatuh-bangun di Divisi Two. Capaian terbaik mereka hanya sekali bertengger sebagai runner-up musim 1907-1908. Sisanya berakhir di papan tengah maupun papan bawah, hingga sempat bangkrut pada 1919 saat Football League hendak dihidupkan lagi setelah absen sepanjang Perang Dunia I (1914-1918).

 

Sempat mati suri, klub lantas diambil alih pemerintah kota pada 1919. Perubahan nama klub dilakukan, menjadi Leicester City Football Club dan bertahan hingga kini kendati sejak 2010 klub sudah dibeli konsorsium Asia Football Investments.

 

Di Balik Dongeng Cinderella

 

Jatuh-bangun mengiringi datang dan perginya pemain dan pelatih Leicester. Pernah menjejakkan kaki di liga teratas, namun sebentar. Itu terjadi pada tahun 1954, setelah juara Division Two Leicester berhak promosi ke Division One. Namun semusim kemudian Leicester terdegradasi lagi.

 

Catatan terlama “Pasukan Rubah” bertahan di Division One terjadi pada musim 1957-1969 saat diasuh Dave Halliday. Sisanya Leicester kembali “wara-wiri” antara kasta kedua dan kasta teratas. Maka ketika Leicester melesat bak meteor pada 2016, semua mata penikmat Liga Inggris terbelalak.

 

“Dongeng Cinderella” itu dimulai kala manajemen klub merekrut Ranieri. Pelatih kelahiran Italia berjuluk “Tinkerman” itu pernah melatih Napoli, Atlético Madrid, Chelsea, Juventus, AS Roma, dan Inter Milan.

 

 

Dalam “Leicester City’s Title Triumph: The Inside Story of an Extraordinary Season” yang dimuat The Guardian, 3 Mei 2016, kolumnis senior Stuart James menguraikan kunci sukses Ranieri menggoreskan sejarah baru bagi Leicester. Menurutnya, semua berawal dari presentasi Ranieri pada awal Juli 2015 sebelum direkrut sebagai calon pengganti Nigel Pearson yang dipecat.

 

“Ranieri adalah Ranieri: berkharisma, sangat bergairah, dan berwawasan luas. Ada sebuah perasaan yang “nge-klik” antara dia dan (wakil ketua klub, Aiyawatt) Srivaddhanaprabha, saat Ranieri mengungkit nama Francesco Totti dan Gabriel Batistuta yang pernah dilatihnya. Seketika, antusiasme pelatih asal Italia itu meninggalkan kesan mendalam bagi para anggota dewan direksi klub,” ungkap James.

 

 

Hasilnya, pada 13 Juli 2015 Ranieri resmi diumumkan sebagai arsitek anyar Leicester. Ia dikontrak selama tiga tahun.

 

Keputusan Leicester itu menuai banyak kritik. Banyak pihak meragukan kapasitas Ranieri karena ia pecatan Timnas Yunani setelah kalah memalukan dari tim gurem Kepulauan Faroe. Salah satunya dari Pearson, pelatih Leicester yang digantikan Ranieri.

 

“Jika Leicester menginginkan seseorang yang ramah, mereka sudah mendapatkannya. Tetapi jika mereka menginginkan pelatih yang bisa membuat mereka bertahan di Premier League, maka mereka memilih orang yang salah,” kata Pearson menyindir, dikutip The Guardian, 14 Juli 2015.

 

 

“Anjing menggonggong, kafilah berlalu,” begitu kata pepatah. Sembilan bulan kemudian, Ranieri membungkam para pengkritik dengan persembahan gelar juara Premier League 2015-2016. Di musim sebelumnya (2014-2015), “The Foxes” di bawah Pearson hanya bisa bertengger di urutan 14 klasemen akhir setelah mati-matian bertahan agar tak terdegradasi.

 

“Kesuksesan Leicester di bawah Ranieri tercatat sebagai salah satu pencapaian paling menakjubkan dalam olahraga manapun. Jangankan pihak luar, di internal klub pun mulanya tak percaya dan seolah masih dalam alam mimpi ketika melihat momen Wes Morgan mengusung trofi Premier League seberat 25 kilogram tinggi-tinggi ke udara,” lanjut James.

 

 

Musim 2015-2016 memang jadi musim yang berat bagi tim-tim top macam Manchester United dan Liverpool. Di akhir musim, Liverpool hanya mampu menempati urutan delapan dan Manchester United di spot kelima meski tetap gagal lolos ke Liga Champions.

 

Di tengah keterpurukan tim-tim mapan itulah Ranieri membawa Leicester melesat ke posisi puncak. Dari total 38 laga, Leicester hanya tiga kali menderita kekalahan. Apa kuncinya?

 

Salah satunya, imbuh James, terletak pada jasa Steve Walsh, asisten pelatih dan kepala perekrutan klub. Walsh turut andil dalam proses mempermanenkan Robert Huth, Shinji Okazaki, dan Christian Fuchs. Ketiganya sebelumnya berstatus pinjaman dari Stoke City, Schalke 04 dan Mainz 05. Lalu untuk menopang serangan yang mengandalkan Jamie Vardy, Walsh mendesak Ranieri untuk mendatangkan gelandang berprospek cerah dari klub Caen (Prancis), N’Golo Kanté.

 

“Kanté adalah pemain kuncinya dan Ranieri, sebagaimana yang ia akui, awalnya tak begitu mengenal pemain ini. Ranieri seperti para pelatih top Premier League lain, tak pernah mendeteksi eksistensi Kanté dalam radarnya. Tetapi setelah melihat sendiri, Ranieri setuju membawanya ke Leicester dengan mahar 5,6 juta poundsterling. Selebihnya bisa dilihat sendiri hasilnya,” sambung James.

 

Figur-figur lain yang tak kalah besar andilnya adalah barisan tim pelatih: Craig Shakespeare, Paolo Benetti, Andrea Azzalin, Matt Reeves, dan Mike Stowell. Mereka menggarap data statistik mentah yang kemudian dijadikan bahan evaluasi setiap pemain oleh Ranieri. Termasuk beberapa pemain yang di musim sebelumnya sering dicadangkan Pearson, seperti Danny Drinkwater, Gökhan İnler, Jeffrey Schlupp dan Marc Albrighton. Mereka inilah yang justru dijadikan pilar kunci oleh Ranieri.

 

 

Kunci sukses lain Ranieri yakni pendekatan berbeda kepada para pemainnya di ruang ganti. Ranieri tak seperti Pearson yang dingin dan melulu serius.

 

“Ranieri sosok yang hangat dan sering menyelipkan humor saat berbicara. Saat Boxing Day, Ranieri memberi bel yang terpahat namanya ke semua pemain sebagai kado Natal. Di sisi lain, ketika di tengah musim sudah mencatatkan 40 poin dan asa juara disuarakan media, Ranieri mengutip slogan Presiden Amerika: ‘Saya ingin bilang: Ya kita bisa! Tetapi saya bukan (Barack) Obama’,” tandas James.

 

Sayang kesuksesan Ranieri hanya seumur jagung. Semusim setelah membawa Leicester juara, ia dipecat. Meski membawa Leicester mencapai babak 16 besar Liga Champions, Ranieri membuat Leicester terpuruk di liga. Saat masih tersisa 13 laga, Leicester terjerembab di papan bawah dengan bertengger satu posisi di atas zona degradasi.

 

Maka ketika ia dipecat pada 23 Februari 2017, banyak pihak menyesalkan. Termasuk para suporter yang membentangkan sebuah spanduk di pertandingan pertama tanpa Ranieri bertuliskan: “Grazie Claudio” (“terima kasih, Claudio”).

Berita Lainnya
Leave a comment