Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Siapakah Sebenarnya Sarinah?

Muso tiba di Yogyakarta pertengahan tahun 1948. Tokoh penting kaum komunis Indonesia itu lantas berkunjung ke Gedung Agung dan disambut hangat oleh Presiden Sukarno. Selain bernostalgia mengingat masa-masa kos di rumah H.O.S. Tjokroaminito, mereka berdua juga terlibat pembicaraan serius mengenai jalannya revolusi Indonesia.

 

Setelah hampir dua jam berbicara, Muso pamit. Sukarno menahannya sejenak. Dia lantas memberikan sebuah buku yang ditulisnya sendiri. Judulnya: Sarinah. Menurut Fatmawati Sukarno, Si Bung sengaja memberikan buku tersebut agar Muso paham bahwa Sukarno tidak setuju terhadap garis politik PKI saat itu.

 

“Dalam buku Sarinah ada bab yang mengupas tugas rakyat dalam tahap-tahap revolusi yang berjudul: Kepada Bangsaku. Itu merupakan kritik terhadap politik PKI,” ungkap Fatmawati dalam Catatan Kecil Bersama Bung Karno Bagian I.

Sejatinya Sarinah bukanlah roman. Buku tersebut justru berisi berbagai teori dan pendapat bagaimana seharusnya seorang perempuan Indonesia berpikir dan bersikap. Sejenis penuntun bagi perjuangan kaum perempuan. Lantas siapakah Sarinah yang namanya ditabalkan pada kitab penting itu?

 

Dalam otobigrafinya, Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams), Sukarno mengungkapkan bahwa Sarinah adalah gadis pembantu keluarga orangtua-nya yang memiliki jasa besar ikut membesarkannya.

 

“Sarinah adalah bagian dari rumah tangga kami. Tidak kawin. Bagi kami, dia adalah seorang anggota keluarga kami. Dia tidur dengan kami, tinggal dengan kami dan memakan apa yang kami makan, akan tetapi dia tidak mendapat gaji sepeser pun,” ujar Sukarno.

 

Menurut Bung Karno, dari Sarinah-lah dia mengenal dan belajar tentang arti cinta kasih. Terutama yang terkait dengan kecintaan kepada rakyat jelata. Sukarno ingat saat memasak di gubuk kecil dekat rumah orangtuanya, Sarinah kerap berbicara kepada Sukarno kecil yang duduk di sebelahnya mengenai cinta kasih.

 

“Karno, yang utama kamu harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia pada umumnya,” kata Sarinah.

 

Begitu dekatnya Sukarno dengan Sarinah hingga saat tidur pun, Sukarno kecil tak pernah bisa lepas dari perempuan sederhana tersebut. Ke mana pun Sarinah pergi, anak lelaki itu selalu menguntitnya.

 

“Bagiku dia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku,” ujar Sukarno.

 

Wajar saja jika saat dewasa, Sukarno tak pernah bisa melupakan sosok perempuan bersahaja itu.  Bahkan sebagai bentuk rasa terimakasihnya, Sukarno menabalkan namanya untuk buku yang ditulisnya dan obyek penting yang menjadi inspirasinya: Departement Store Sarinah yang merupakan pusat perbelanjaan termodern pertama yang ada di Asia Tenggara.

 

 

“Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran untuk mencintai rakyat kecil. Dia sendiri memang “orang kecil” tapi memiliki jiwa yang besar,” tulis Sukarno dalam Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia.

 

Namun ada satu versi menarik mengenai figur Sarinah yang dituliskan oleh Lambert Giebels dalam Soekarno, Biografi 1901—1950. Menurut penulis sejarah asal Belanda tersebut, salah satu versi tentang asal-usul Sukarno menyebutkan bahwa Sarinah sejatinya adalah ibu kandung Sukarno sendiri.

 

Dalam versi itu, Sarinah mengandung Sukarno karena hubungan dekatnya dengan seorang karyawan perkebunan berbangsa Belanda. Versi lain malah menyebut orang Belanda itu adalah salah seorang pejabat tinggi atau seorang yang berdarah Indo.

 

“Sesudah Sarinah melahirkan anak majikannya, sepasang suami-isteri mengangkat bayi itu sebagai anak mereka sedangkan Sarinah sendiri menjadi pengasuh putranya sendiri,” tulis Giebels.

 

Sukarno sendiri bukannya tidak tahu soal beredarnya kisah itu di kalangan khalayak. Namun alih-alih menjadi tersinggung atau marah, kata Giebels, dia malah merasa geli, terutama terkait cerita darah Indo-nya yang dia anggap sebagai khayalan semata.

 

“Dia menjelaskan bahwa orang-orang Indo tidak bisa percaya bahwa presiden Indonesia yang penuh semangat, dinamis dan cepat berpikir adalah seorang (keturunan) pribumi sederhana,” ungkap Giebels.

 

Mengenai asal-usul Sarinah, Bung Karno sendiri tak pernah mengisahkan secara detil mengenai riwayat inang pengasuhnya di masa kecil itu. Yang jelas, hari ini di Pekuburan Rakyat Kelurahan Kepatihan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur terdapat sebuah makam tua yang di nisan-nya bertuliskan nama Sarinah. Disebutkan waktu meninggalnya: 28 Desember 1959.

 

Dalam sejarah Indonesia sendiri, dokumen orsinil mengenai Sarinah hanya terwakili oleh selembar foto milik Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Di foto tersebut terlihat Sarinah yang berusia saparuh baya lebih tengah dirangkul oleh Presiden Sukarno. Jika itu benar, maka bisa dipastikan gambar itu sepertinya diambil beberapa tahun sebelum Sarinah wafat. (historia.id)

Berita Lainnya
Leave a comment