Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Toa, Sahur, dan Cuitan Zaskia Adya Mecca

Sekarang ini zamannya digital. Zamannya mengeluarkan pendapat, unek-unek, ungkapan, keluh kesah. Semua hal dikomentari. Baik yang buruk, jelek, ataupun kurang ajar. Celakanya kebiasaan berkomentar pun kadang lepas kontrol. Komentar-komentar netizen ada yang nyinyir ada juga yang positif. Perang tagar kerap sahut-sahutan dalam menanggapi sebuah isu.

 

Maka itu ada istilah maha benar netizen dengan segala cuitannya. Sebuah ungkapan kalau netizen memang paling benar dalam menanggapi sebuah hal. Terutama merespon sebuah persoalan.

 

Apalagi ketika yang berkomentar duluan adalah para pesohor. Seperti baru-baru ini jagad maya dihebohkan dengan tagar #ZaskiaMeccaMabokToa yang ramai lantaran artis Zaskia Adya Mecca mengomentari warga di dekat rumahnya saat membangunkan sahur. Menurut ibu lima anak ini, cara bangun sahur yang dilakukan pengurus masjid tersebut kurang etis. Musababnya, dilakukan secara keras dan bisa menganggu masyarakat. Dalam caption Instagramnya, Zaskia Adya Mecca menanyakan apakah sedang musim orang membangunkan sahur dengan cara berteriak.

 

Menurutnya, cara tersebut tidak etis terlebih kita tinggal di Indonesia yang memiliki beragam agama.

Ini komentar Zaskia soal cara membangunkan sahur:

“Cuma mau nanya ini bangunin model gini lagi HITS katanya? Terus etis enggak sih pake toa masjid bangunin model gini,” tulisnya di caption dikutip pada Instagram @zaskiadyamecca pada Kamis, 22 April 2021.

 

Sontak pernyataan Zaskia menuai pelbagai komentar, ada yang mendukung, ada juga yang mencibirnya.

 

Salah satu yang mendukung diungkapkan oleh akun @sefritazaher yang menulis “Kasihan banget Zaskia malah dibilang blunder sama netizen. Padahal maksud dia itu bukan membangunkan sahur pake toa masjid yang tidak etis tetapi ‘CARA SI PELAKU’ membangunkan sahur dengan toa masjid itu yang enggak etis,” tulisnya.

Sedang yang mengkritisinya seperti yang ditulis Nadira Mumtaz @nadmumtazz

 

“HAAHHAHA zaskia mecca mabok toa meanwile di komplek sy gaada gituan jd gk seru”

 

Total ribuan komentar yang mengisi instagram istri sutradara kondang Hanung Bramantyo tersebut. Ada yang menilai, cuitan Zaskia bentuk protes atas sikap ugal-ugalan sebagian masyarakat soal cara membangunkan sahur. Namun, ada juga yang bilang itu sudah menjadi tradisi saat Ramadan. Jadi beragam cara membangunkan sahur itu menjadi cerita yang unik saat Ramadan tiba.

 

Sikap Zaskia soal toa ini bukan kali pertama. Bahkan juga pernah menuai polemik beberapa waktu lalu dimana ada yang sampai dipidana gara-gara memprotes penggunaan toa. Mantan wakil presiden Jusuf Kalla mengomentari tentang masalah ini. JK pun meminta agar saat digunakan toa pada waktu  adzan jangan sampai menggangu warga lain.

 

Dewan Masjid Indonesia (DMI) pernah meminta agar suara masjid jangan terlalu keras.

“Itu wajar saja. Dewan Masjid saja pernah meminta agar jangan terlalu keras (suara azan) dan jangan terlalu lama. Dan itu tidak boleh pakai tape, tetapi harus mengaji langsung,” kata JK.

 

Nah, persoalan ini memang bukan kali pertama terjadi, namun lain ceritanya kalau yang memulai adalah para publik figure. Bisa jadi bahan perundungan dan viral. Tak hanya artis, presiden pun bisa kena perundungan ketika dianggap salah dalam berkomentar. Seperti tahun lalu saat larangan mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19.  Bukan soal larangannya tetapi pernyataan presiden menanggapi isu itu.  Dimana dalam sebuah program televisi presiden mengatakan, mudik dilarang kalau pulang kampung boleh.

 

Sontak saja pernyataan presiden jadi bahan komentar netizen. Ada yang mendukung tidak sedikit menghujat. Emang ngeri zaman sekarang, presiden saja bisa diolok-olok. Tidak puas bisa dihujat. Ini yang namanya demokrasi, kalau kata generasi zaman now.

 

Memang mengkritik itu tidak ada yang salah. Selagi dalam porsi yang benar. Namun jika kritikan tersebut berlebihan dan rasa benci itu lebih besar ketimbang objektivitas. Ini yang tidak boleh. Memang kita boleh mengutarakan pendapat, namun jangan kebablasan.

 

Bagaimana juga presiden adalah pemimpin kita, yang harus dijaga kesuciannya. Ia terpilih secara konstitusional dalam pesta rakyat lima tahunan.

 

Tapi apa mau dikata, namanya juga bebas bicara. Sah-sah saja donk. Kita kan rakyat. Penguasa negeri ini sesungguhnya.

 

Itu memang benar, rakyat penguasa sebenarnya. Tapi agak tidak elok jika kritik itu berdasarkan rasa tidak suka. Rasa benci akibat calon yang kita pilih itu tidak menang.

 

Makanya teknologi itu memang pisau bermata dua. Ia bisa berdampak positif, bisa juga berdampak negatif. Tinggal bagaimana kita memilah ini.

 

Media sosial memang kejam. Ia bisa menghukum seseorang tanpa klarifikasi. Ia bisa menjustifikasi orang tanpa melihat secara objektif. Ia pun bisa menghancurkan seseorang tanpa bertanya lebih dulu.

 

Akhirnya selamat datang era modern. Era digital. Era mengemukakan pendapat. Era semua orang bebas ngoceh tanpa ada yang membatasi. Bahkan untuk mengkritik pemimpin tertinggi di republik ini.

 

Ouh, netizen, begitu tega, begitu kejam. Semoga gemuruh hanya ramai di dunia maya. Tidak sampai dalam kehidupan nyata. Dunia maya memang menawarkan kekejian dan keindahan. Hingga kita tidak bisa memilih keduanya, sedang berada di posisi yang mana. Kembali pada pernyataan di atas, maha benar netizen dengan segala cuitannya. (*)

 

*Penulis; Ibrahim Bali Pamungkas, S.T., M.M.

Akademisi Universitas Pamulang

Berita Lainnya
Leave a comment