Untuk Kepentingan Umum

Ayatullah Khomeini, Juventus dan Keluarga Agnelli

Agnelli adalah Turin. Turin adalah Agnelli. Kiasan kata itu bisa jadi gambaran betapa masyurnya nama besar keluarga Agnelli, seorang industriawan yang telah membawa negeri Pizza Italia menjadi salah satu negara industri terbesar di Eropa, bahkan dunia. Ya, Agnelli telah mengubah kota Turin yang sepi menjadi berdetak, ramai, dan tentunya tumbuh besar. Eksodus besar-besaran warga Italia ke Turin adalah indikasi bagaimana Agnelli telah berhasil mencetak kota industry.

Perintisnya Giovanni Agnelli Sr, seorang pensiunan tentara yang banting stir jadi pebisnis otomotif.

Pada 1 Juli 1899, Agnelli Sr. menjadi bagian dari kelompok pendiri Fabbrica Italiana Automobili di Torino, yang kemudian menjadi Fiat (Fabbrica Italiana Automobili Torino). Dia menginvestasikan 400 lira, patungan dengan sejumlah rekannya. Satu tahun kemudian, dia menjadi direktur lalu chairman pada 1920.

Pabrik Fiat pertama dibuka pada 1900 dengan 35 staf untuk membuat 24 unit mobil. Produksinya terbatas. Keuntungannya juga masih kecil. Fiat mencapai puncak produksi pertamanya, lebih dari 1 juta unit mobil, pada 1974. Fiat kemudian go public di bursa efek Milan. Agnelli Sr. membeli semua sahamnya. Setelah Perang Dunia I, Fiat melompat dari urutan ke-30 ke peringkat ke-3 di antara perusahaan industri Italia.

 

Pabrik pertama Fiat adalah fasilitas produksi komponen dan perakitan mobil di Lingotto, Italia, yang didirikan pada 1921. Pabrik ini meniru perakitan mobil Ford. Pabrik kedua, jauh lebih modern dan mulai beroperasi pada 1932. Orang menyebutnya sebagai sebuah keajaiban arsitektur dan industri. Ia menjadi yang terbaik dan termewah di seantero Eropa.

 

Agnelli Sr. meninggal tak lama ketika Perang Dunia II berkecamuk. Tapi perang malah membawa berkah. Fiat memperluas usahanya. Sebelum tahun 1945, Fiat memproduksi segala hal yang mengandung mesiu, baja, baling-baling, dan roda, baik darat maupun udara. Bahkan, Fiat memproduksi tujuh dari sepuluh kendaraan perang Benito Mussolini.

 

Setelah Agnelli Sr. meninggal, kontrol bisnis jatuh ke tangan Edoardo Agnelli. Tapi bisnis Fiat sendiri menjadi besar dan merambah ke luar negeri ketika kontrol bisnis berada di tangan Gianni Agnelli, yang berusia 46 tahun. Sebelumnya Gianni tak punya minat untuk mengelola Fiat. Setelah ayahnya, Edoardo Agnelli, meninggal dalam kecelakaan pesawat, dia pun mengambil-alih manajemen Fiat.

 

Dengan tangan dinginnya, Fiat merambah luar negeri. Dia mengambil Citroen dari Keluarga Michelin di Prancis. Eropa Timur juga dilirik. Tito di Yugoslavia merakit Fiat dalam sebuah lisensi. Polandia segera mengekor dengan memproduksi Polski Fiats. Belakangan, Rusia menggaji Fiat untuk menjalankan sebuah pabrik mobil senilai 800 juta dolar AS di Togliattigrad, dekat Volga, dengan kapasitas 600.000 unit per tahun. Fiat juga mengontrol koran La Stampa dan La Repubblica.

 

Diversifikasi bisnis adalah pondasi utama sebuah konglomerasi. Dengan itulah Dinasti Agnelli menjangkau nyaris seluruh bisnis di Italia dan dunia. Beberapa di antaranya adalah Ferrari dan klub sepakbola Juventus.

 

Menurut Musa Kazhim dan Alfian Hamzah dalam Edoardo Agnelli, harapan pelanjut bisnis Dinasti Agnelli berada di tangan anak pertama Gianni Agnelli, Edoardo Agnelli –nama yang diambil dari kakeknya. Pada 1970-an, dia dikirim sekolah ke Inggris. Setelah lulus, dia memutuskan studi di Princeton University, Amerika Serikat. Pilihannya jelas bukan sesuatu yang diinginkan orangtuanya, bisnis. Dia malah mengambil jurusan filsafat dan studi perbandingan agama. Di kampus, dia membangun dunianya sendiri: dunia yang sepi, hanya berteman buku.

 

Dia pernah ke India untuk mencari tahu ajaran Buddha dan Hindu. Dia tak kesulitan mempelajari Katolik maupun Protestan. Yang asing justru Islam. Sampai suatu hari, di sela-sela rak buku perpustakaan Princeton, dia menemukan Alquran.

 

“Bahkan dia kemudian memutuskan masuk Islam, pilihan yang membuat Gianni Agnelli murka. Kala itu usianya baru 20 tahun. Dia pun punya nama baru, Hisyam Azis, yang dia sembunyikan dari siapa pun untuk waktu lama,” tulis Musa dan Alfian.

 

Pada 1981, Edoardo menginjakkan kaki di Iran dan bertemu Imam Khomeini. Hasyemi Rafsanjani, mantan presiden Iran, jadi saksi. Dalam memoarnya, Khaterat, Rafsanjani menulis: “27 Maret 1981, hanya ada empat orang yang menyaksikan. Edoardo sempat mengecup tangan Khomeini. Konon Khomeini balas mencium kening Edoardo. Dari mulut pejuang renta itu terucap pesan singkat: banyaklah merenung dan mengingat kehidupan setelah mati.”

 

Di masa akhir hidupnya, dia merasa terancam. Manajemen Fiat berulang kali memaksa dia untuk meneken selembar dokumen pelepasan haknya di Fiat. Atas saran Marco Bava, penasihat keuangan keluarga Agnelli, dia menolaknya.

 

Pada 1996, kerajaan bisnis Fiat bernilai 46,5 miliar dolar AS, mencakup perusahaan dari penerbitan hingga makanan, asuransi hingga otomotif. Ini membuat bisnisnya menjadi salah satu usaha terbesar di Eropa. Saat itu pula Gianni divonis mengidap kanker dan memutuskan mundur dari Fiat. Posisinya digantikan oleh orang kepercayaannya, Cesare Romiti. Penunjukkan Romiti jelas mengabaikan hak Edoardo sebagai ahli waris.

 

Tapi sisi gelap Dinasti Agnelli justru mengemuka ketika Edoardo mati mengenaskan di kaki jembatan Generale Franco Romano. Mayatnya ditemukan pada 15 November 2000, sekitar pukul 10.15.

 

Penanganan kematian Edoardo tak semestinya. Tak ada otopsi dan penyelidikan menyeluruh untuk mengetahui sebab kematian. Kurang dari satu hari setelah jasad itu ditemukan, polisi mengambil kesimpulan: Edoardo mati bunuh diri. Namun, diduga kuat dia dibunuh. Jasadnya dikebumikan di pekuburan keluarga di Villar Perosa, sebagai seorang Katolik. (historia)

Berita Lainnya
Leave a comment