Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Awas Gejala DBD Mirip Covid-19 

Warga Kota Tangsel diimbau rajin membersihkan lingkungan guna mengantisipasi penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.

 

Pasalnya, gejala yang dirasakan pada penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Chikungunya hampir serupa dengan Covid 19.

 

Dwi Pantja Wibowo, Dokter Spesialis Anastesi Rumah Sakit Premier Bintaro mengatakan gejala awal DBD, Chikungunya dan Covid-19 varian Delta hampir serupa, yakni demam.

 

Selain itu, kata dia, pada Covid varian Delta, gejala yang dirasakan juga mirip jika warga terjangkit penyakit Cikungunya, di mana warga akan merasakan nyeri pada bagian persendian.

 

“Memang hampir mirip (gejala DBD, Cikungunya dan Covid-19-red). Karena kalau infeksi yang sifatnya radang, pasti ada demamnya, ada nyeri-nyeri sendi, memang hampir sama,” kata dr Pantja, seperti ditulis, Minggu (15/8).

 

Kendati begitu, Pantja menuturkan, antara penyakit yang disebabkan virus gigitan nyamuk dan Covid 19 tetap memiliki perbedaan pada masa perkembangan virus tersebut.

 

Selain itu, kata dia, pada Covid varian Delta akan ditambah gangguan pernafasan dan juga jika dites PCR, Cikungunya tidak terindikasi positif.

 

“Untuk Cikungunya kan nyeri-nyeri otot yah. Nah, mirip dengan yang varian delta itu memang betul. Tapi kendati demikian, kalau demam lebih baik masyarakat swab PCR.

Kalau DBD dan Cikungunya di PCR nggak mungkin positif. Tapi kalau ada Covid-19 nya, pasti positif, gimana jalan keluarnya, kita ambil sampel darahnya,” tuturnya.

 

Oleh sebab itu, dia mengimbau masyarakat melaksanakan kebersihan lingkungan. Pemberatasan terhadap sarang-sarang nyamuk, seperti dalam penerapan 3M (menguras, menutup dan mengubur), tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

 

Kemudian,  masyarakat juga lakukan swab PCR, guna memastikan warga yang mengalami gejala-gejala peradangan.

 

“Saran dari saya, berantas sarang nyamuk. Kemudian, lakukan swab PCR. Karena apa? Kondisi yang saat ini di tengah pandemi, mengharuskan kita untuk pencegahan. Sebenarnya, kalau DBD itu tidak boleh isolasi mandiri dengan alasan takut di PCR. Karena apa, DBD dan Chikungunya itu bahaya juga lho, nyerang trombosit, kalau terus turun, tanpa pengawasan dokter, bisa berakibat kematian,” imbuhnya.

 

Dihubungi terpisah, Ketua Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD Pamulang Subekti mengatakan, bahwa DBD dan Cikungunya yang disebabkan oleh virus, tentu memiliki gejala yang sama dengan Covid-19.

 

Untuk itu, kata Subekti, guna mengantisipasi, masyarakat perlu membersihkan lokasi-lokasi yang disukai oleh nyamuk Aedes Aegypti.

 

Karena ini virus, sebenarnya gejala dengan Covid-19 hampir mendekati, cuma bedanya tidak menyerang paru-paru. Ada demam, ketahuannya biasanya di hari kedua terjangkit, trombosiitnya turun. Cara sederhana, membuang air yang menggenang. Nyamuk DBD dan Chikungunya itu, justru dari lingkungan yang bersih, bukan yang kotor.

 

“Selain itu, nyamuk ini, senangnya di dalam rumah. Jadi sebaiknya warga tidak menggantungkan pakaian, karena nyamuk bersarang di sana. Terus membuka pintu dan jendela di pagi hari, agar sirkulasi udara baik. Menanam tanaman anti nyamuk, di dekat-dekat rumahnya. Nyamuk ini, senengnya digenangan-genangan air yang bersih, makanya pot-pot bunga dalam rumah, bak mandi itu yang harus dibersihkan,” pungkasnya. (ari)

Berita Lainnya
Leave a comment