Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai serius memperkuat fondasi pendidikan anak sejak usia dini. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Pemkot menggelar sosialisasi pelaksanaan Wajib Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) satu tahun pra-Sekolah Dasar (SD).
Langkah ini bukan sekadar seremoni kebijakan, melainkan respons atas masih belum optimalnya angka partisipasi PAUD di Tangsel.
Kepala Dindikbud Tangsel, Deden Deni, menyebut program satu tahun PAUD sebelum masuk SD menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah daerah.
“Ini menjadi PR besar kita karena angka partisipasinya belum maksimal. Karena itu kita dorong edukasi kepada orang tua agar anak-anak usia dini mendapatkan layanan pendidikan PAUD,” ujar Deden Deni, Senin (23/2/2026).
Dalam paparannya, Deden menekankan bahwa pendidikan usia dini bukan ajang memaksakan anak untuk cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung. Menurutnya, paradigma tersebut perlu diluruskan.
“Pendidikan usia dini itu pranumerasi dan praliterasi, fokusnya ke karakter. Tidak dipaksa baca tulis sebelum waktunya. Kalau dipaksakan, secara psikis anak justru tidak baik,” tegasnya.
Ia mengibaratkan PAUD sebagai fondasi bangunan. Tanpa fondasi yang kuat, bangunan setinggi apa pun tak akan kokoh. Begitu pula dengan pendidikan: melewatkan fase usia dini bisa berdampak pada perkembangan anak di jenjang selanjutnya.
Untuk memastikan kebijakan ini tidak berhenti pada tataran wacana, Pemkot Tangsel menyiapkan berbagai dukungan konkret. Mulai dari beasiswa bagi guru PAUD hingga rencana bantuan biaya pendidikan untuk 10 ribu anak PAUD.
Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan partisipasi sekaligus kualitas layanan pendidikan anak usia dini di Tangsel.
“Yang paling penting adalah anak-anak mendapatkan layanan pendidikan usia dini sebagai fondasi pendidikan berikutnya,” jelas Deden.
Sementara itu, Bunda PAUD Kota Tangsel, Tini Indriyanthi, menegaskan bahwa satu tahun PAUD merupakan bagian dari kebijakan wajib belajar 13 tahun.
“PAUD bukan hanya soal anak bersosialisasi, tapi bagaimana kita mengenali karakter anak. Supaya ke depan anak lebih terarah dalam pergaulan dan sikap sehari-hari,” kata Tini.
Ia menjelaskan, kegiatan yang digelar bukanlah pelatihan teknis, melainkan seminar edukatif bagi para pendidik PAUD di tingkat kelurahan dan kecamatan. Tujuannya agar para guru benar-benar memahami bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan ramah anak.
“Mudah-mudahan berhasil, dan ke depan kita bisa lebih sering menggelar kegiatan serupa dengan jangkauan yang lebih luas,” pungkasnya.
Dengan kebijakan ini, Pemkot Tangsel berharap tidak ada lagi anak yang langsung melompat ke bangku SD tanpa melalui pembentukan karakter dan kesiapan belajar di usia dini. Sebab, kualitas generasi masa depan, dimulai dari fondasi yang dibangun hari ini.

