Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) mulai menggeser fokus penanganan sampah dari sekadar pengangkutan menuju perubahan pola pengelolaan di tingkat masyarakat. Pendekatan dari hulu dinilai menjadi kunci agar persoalan sampah tidak terus berulang.
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa arah kebijakan penanganan sampah kini sudah lebih terstruktur. Alih-alih bertumpu pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), Pemkot mendorong pengurangan volume sampah sejak dari rumah tangga.
Salah satu langkah konkret adalah target pembuatan 1.000 hingga 2.000 lubang biopori di setiap kelurahan. Program ini diharapkan mampu mengurangi sampah organik sekaligus meningkatkan daya resap air di lingkungan permukiman.
“Kalau satu rumah punya dua, tiga, atau empat lubang biopori, itu tergantung kebutuhan masing-masing. Nanti akan terukur jelas di RT dan RW,” ujar Benyamin Davnie, kemarin
Selain itu, konsep teba modern juga mulai diterapkan di sejumlah kantor kelurahan dan kecamatan. Model ini meniru pengelolaan sampah organik di Bali, dengan pemusnahan sampah yang lebih ramah lingkungan dan terkontrol.
Di sisi hilir, Pemkot tetap memperkuat sistem pengangkutan. Dengan produksi sampah yang mencapai sekitar 1.000 ton per hari, saat ini sekitar 70 truk dioperasikan setiap malam untuk mengangkut 280 ton sampah ke Cileungsi.
Ke depan, sebanyak 42 truk tambahan dari pihak swasta akan membantu mempercepat distribusi sampah agar tidak menumpuk di ruang publik.
Sementara itu, TPA Cipeucang tidak lagi difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir, melainkan akan dikembangkan menjadi fasilitas pemrosesan berbasis teknologi. Transformasi ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kota dengan pertumbuhan penduduk yang pesat seperti Tangsel.
Meski sempat berada dalam status tanggap darurat, Pemkot memastikan kondisi saat ini tidak lagi masuk kategori darurat sampah dan status tersebut tidak diperpanjang.
Dengan kombinasi pendekatan teknologi, kolaborasi lintas wilayah, dan perubahan perilaku warga, Pemkot Tangerang Selatan optimistis persoalan sampah dapat dikendalikan secara berkelanjutan, bukan sekadar ditangani secara reaktif. (rls)

