Untuk Kepentingan Umum
Pemkot Tangsel

Keren, Lawan Arogansi Korporasi Ibu-ibu Demo Pabrik Semen

RANGKASBITUNG- Dengan menggendong anak-anak, puluhan Ibu-ibu warga Kampung Cikumpul, Desa Citeras, kecamatan Rangkasbitung, kabupaten Lebak, mendatangi Pabrik Semen Putih Gypsun PT Aplus, Minggu (5/11/2017).

Kedatangan para Ibu-ibu untuk memprotes dan menuntut pihak perusahaan agar bertanggung jawab atas polusi udara yang ditimbulkan pabrik tersebut.

Warga mengatakan, kekhawatiran akibat dampak polusi tersebut akan menimbulkan berbagai penyakit seperti inpeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dampak lainnya, debu juga mengotori genting dan lantai teras rumah.

“Karena dampak debu tersebut tubuh kami sekeluarga mengalami gatal-gatal pak, udah gitu debu itu menempel kemana-mana. Seperti ke jemuran,  teras rumah genting pokoknya kotor semua berantakan pak akibat debu tersebut,” kata salah seorang warga Suryati ketika memprotes di PT Aplus.

Suryati mengaku, bukan hanya keluarganya saja yang terkena penyakit gatal-gatal. Kerabatnya yang berusia 1,4 tahun pun terkena penyakit gatal-gatal hingga di bawa ke Puskesmas, namun tetap saja tidak sembuh gatalnya.

“Bukan keluarga saya aja pak yang terkena penyakit, tetapi tetangga saya serta anak-anaknya pun banyak yang terkena polusi udara yang mengakibatkan gatal-gatal dan sesak. Sudah mah hitam sekali debunya terus terkadang suka menempel di hidung,” ungkap Suryati.

Sementara, Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak Iwan Sutikno mengatakan, belum berani mengambil kesimpulan adanya pencemaran akibat pabrik tersebut. Pihaknya masih melakukan penelitian lebih dulu.

“Kami akan turun ke lapangan untuk mengambil sempel polusi udara tersebut. Nanti kita ukur kualitas udaranya apakah tercemar apakah memang sudah sesuai standar baku mutunya. Nanti setelah itu kita uji debu tersebut di labolatorium,” bebernya.

Sementara itu, puluhan ibu rumah tangga yang mendatangi perusahaan PT Aplus mengancam akan melakukan aksi yang sama bila tidak ada tanggapan dari pihak perusahaan.

Warga menilai, perusahaan sudah mengabaikan kesehatan dan kenyaman warga sekitar pabrik. Sebab, peristiwa yang sangat meresahkan warga tersebut sudah berlangsung selama dua minggu terakhir, namun dibiarkan tetap terjadi.

“Pokoknya besok kami akan datang lagi ke sini (pabrik) jam 8 pagi,” teriak seorang Ibu yang menggendong anak balitanya di depan halaman perusahaan PT Aplus. (duy/firda)

 

Berita Lainnya
Leave a comment