Si Jaun Dari Baduy dan Sebuah Kritik Sosial

oleh -
Suasana diskusi peluncuran buku Si Jaun Dari Baduy, di kafe WIN, Serpong, kemarin.

Budayawan Uten Sutendy baru saja menerbitkan buku Si Jiun Dari Baduy. Buku setebal 157 halaman ini mengisahkan tentang kehidupan masyarakat Baduy dengan segala ceritanya.

Pelbagai karakter pun ditampilkan oleh pria 53 tahun ini. Mulai dari politisi, guru, serta masyarakat asli Baduy. Keluguan orang Baduy coba diceritakan oleh Uten.

Seperti kisah tentang Hilang Sandal dimana penulis menggambarkan masyarakat Baduy yang terlihat primitif. Yakni ketika naik kereta, warga Baduy tersebut melepas alas kakinya. Lalu ketika si Baduy tersebut sampai tujuan, ia bingung kemana sandalnya. Padahal saat berangkat ke stasiun orang Baduy itu memakai sandal, namun ditinggalkan saat hendak naik kereta api.

Dalam cerita itu, ia ingin menyampaikan sikap sopan-santun masyarakat pedalaman yang lebih mendalam ketimbang orang kota. Kisah ini dibuat begitu jenaka lewat interaksi orang Baduy di dalam kereta.

Sebelum menelurkan karya ini, Uten mengaku berkomunikasi langsung dengan warga Baduy selama beberapa bulan. Lewat pendekatan ini, ia ingin tahu kehidupan orang Baduy secara langsung.

“Kalau sudah berinteraksi saya bisa merasakan apa yang dirasakan warga Baduy. Lewat cerita nyata kemudian saya imajinasikan. Lahir lah kisah Si Jaun Dari Baduy, ini,” katanya saat peluncuran buku Si Jaun Dari Baduy, di Kafe WIN, Serpong, Jumat (8/3).

Uten mengaku ingin menciptakan kisah Si Jaun agar bisa setenar Si Kabayan yang begitu popular di tanah Pasundan. Walaupun untuk bisa mengalahkannya agak sulit. Namun, dengan cerita kecil ini, minimal orang Banten punya kisah yang direpsentasikan melalui cerita Si Jaun.

Diakui Uten, dalam kisah Si Jaun, selain mengangkat cerita masyarakat timur Rangkas Bitung ini, juga untuk melakukan kritik. Terutama sistem pendidikan yang begitu hegemonik.

Menurutnya pendidikan yang sekarang diajarkan hanya menciptakan orang pintar, namun kerap kali mengabaikan sesuatu yang berbau kearifan lokal.

Hingga kemudian timbul sesuatu yang berbau barat dianggap sebuah kemajuan. Orang dengan gaya barat, berpakaian barat, berbahasa kebarat-baratan dianggap modern. Modern disimbolkan kemajuan, kehebatan, kesuksesan.

Sementara yang berbau lokal, dianggap keterbelakangan, primitif, norak, kurang gaul, dan ketinggalan zaman.

“Padahal kan belum tentu. Malah mereka yang masih hidup dengan kearifan lokal itu memiliki semangat mencintai alam. Semangat menjaga alam, memelihara alam, melestarikan alam,” ujar Uten.

Jangan menganggap remeh hal yang berbau lokal. Sebaliknya, yang dilihat kampungan dan norak itu memiliki sopan santun dan budi pekerti sangat baik. Sesuatu yang mungkin jarang diajarkan pada kurikulum dunia pendidikan sekarang ini.

“Lewat karya ini saya lakukan kritik sosial tersebut. Dogma soal pendidikan yang dianggap maju coba saya bongkar melalui buku kecil ini. Walau tidak sepenuhnya bisa mengisahkan semua itu. Tetapi ini menjadi pemantik agar lahir karya-karya serupa,” ungkapnya.

Buku ini memang tidak bisa mewakili kisah soal orang Baduy secara keseluruhan. Banyak penggalan-penggalan dalam kisah yang ditampilkan sedikit terputus. Sehingga pembaca dibuat mengambang oleh penulis. Cerita yang tidak panjang  mungkin kekurangan dari buku ini. Meski penulis coba mengakalinya dengan menampilkan karikatur-karikatur di setiap judul.

Tapi ini malah menjadi pekerjaan lagi bagi pembaca untuk menangkap cerita Si Jaun secara utuh. Meski begitu, karya Uten ini perlu mendapat apresiasi karena coba membangun narasi kritik sosial lewat medium masyarakat Baduy.

Ini yang harusnya mendapatkan perhatian bagi para penulis yang mencoba mengangkat sebuah tema cerita. Eksplorasi warga Baduy masih banyak yang semuanya belum terungkap. Hal itu menjadi pekerjaan rumah bagi penulis yang ingin mengangkat orang-orang Baduy.

Sementara tokoh Banten Wawan Iriawan melihat karya Uten ini sebagai sebuah refleksi. Bagaimana sebuah sistem pendidikan yang begitu kokoh dan kita dibuat percaya oleh aturan mainnya.

Uten coba mengajak untuk berfikir ulang apa betul pendidikan yang diajarkan sudah ideal. Atau jangan-jangan hanya melahirkan-melahirkan masyarakat yang cerdas secara intelektual, namun tak peka terhadap alamnya.

“Karya ini cukup bagus untuk kita jadikan bahan renungan dari sebuah masyarakat yang katanya tertinggal namun sangat mencintai alamnya. Ini yang perlu kita lihat kembali,” imbuhnya. (firda)

Share this...
Print this page
Print