RESPUBLIKA.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel memberikan edukasi soal pentingnya gizi dan keaktifan ibu hamil untuk mencegah stunting sejak dini.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 120 peserta, terdiri atas bidan koordinator, kader kesehatan, dan ibu hamil di Blandongan, Pusat Pemerintahan Kota Tangsel, Senin (3/8/2026).
Kepala Dinkes Kota Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdaniar menegaskan bahwa upaya melahirkan generasi sehat harus dimulai sejak sebelum kehamilan.
Menurutnya, keberhasilan program kesehatan ibu dan anak memerlukan kolaborasi aktif antara tenaga kesehatan dan para ibu hamil.
“Kita tidak bisa satu arah, petugas kesehatannya saja yang semangat atau dokternya saja yang semangat, tapi ibu hamilnya biasa-biasa saja. Ini harus berbarengan,” ucap Alin.
Kemudian, Alin juga mengingatkan para ibu hamil tentang pentingnya memahami isi Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Buku tersebut, kata dia, menjadi panduan lengkap mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia lima tahun, termasuk jadwal pemberian makanan tambahan dan pemantauan tumbuh kembang.
Selain itu, Allin menjelaskan bahwa standar pemeriksaan kehamilan kini dilakukan minimal enam kali selama masa kehamilan, dengan sedikitnya dua kali pemeriksaan oleh dokter yang dilengkapi layanan ultrasonografi (USG).
“Standar kunjungan pemeriksaan kehamilan kini dianjurkan minimal enam kali, termasuk dua kali pemeriksaan langsung oleh dokter beserta pelayanan USG,” jelasnya.
Berdasarkan data Dinkes Tangsel, saat ini terdapat 24.701 ibu hamil. Dari 12.629 ibu hamil yang telah diperiksa, prevalensi anemia mencapai 3,21 persen dan Kurang Energi Kronis (KEK) sebesar 4,81 persen. Sementara itu, cakupan kunjungan pemeriksaan kehamilan sesuai standar baru mencapai 51,35 persen.
Allin menyebut anemia selama kehamilan masih menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting.
Dari 115.467 balita usia 0–59 bulan yang ditimbang di Tangsel, sebanyak 0,78 persen masuk kategori pendek dan sangat pendek.
“Hasil audit menunjukkan penyebab stunting tidak hanya karena gizi, tetapi juga dipengaruhi paparan asap rokok, kondisi anemia saat hamil, hingga tingkat pendidikan masyarakat,” tutup Alin.
Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Ivander Ramon, Sp.OG, menjelaskan bahwa kualitas gizi ibu hamil akan menentukan kesehatan anak hingga dewasa.
“Apa yang terjadi di dalam rahim itu akan dibawa seumur hidup oleh bayinya. Kalau otak bayi membutuhkan darah, zat besi, protein, dan asam lemak, tetapi ibunya tidak menyediakan dengan cukup, maka otaknya tidak akan sempurna,” ujar Ivander.
Ia meluruskan anggapan bahwa tinggi badan hanya dipengaruhi faktor keturunan. Menurutnya, sekitar 70 persen tinggi dan berat badan seseorang saat dewasa dipengaruhi oleh panjang dan berat badan ketika lahir.
Kemudian, Ivander juga mengungkapkan bahwa rata-rata tinggi badan perempuan Indonesia sekitar 147 sentimeter dan laki-laki 158 sentimeter, yang masih tergolong rendah dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berdampak pada rasa percaya diri, prestasi belajar, hingga peluang karier seseorang di masa depan.
“Karena itu, para ibu hamil harus menerapkan pola makan bergizi seimbang dengan mencukupi asupan zat besi, protein, dan asam lemak, serta tidak mengonsumsi makanan manis secara berlebihan yang berisiko menyebabkan obesitas janin tanpa mendukung pertumbuhan panjang badan secara optimal,” pungkasnya.



