Kolom
Beranda / Kolom / Sumpah Pemuda, Al-Qur’an, dan Kegelisahan Anak Muda Kita Hari Ini

Sumpah Pemuda, Al-Qur’an, dan Kegelisahan Anak Muda Kita Hari Ini

sumpah pemuda

Pada 28 Oktober 1928, di sebuah gedung di Batavia, anak-anak muda yang kebanyakan belum genap tiga puluh tahun berani mengucapkan sesuatu yang belum berani diucapkan banyak orang tua mereka. Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa persatuan. Ada yang datang dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, dan Pemuda Kaum Betawi, juga dari Jong Islamieten Bond. Tak satu pun dari mereka memegang senjata atau jabatan. Modal mereka hanya keyakinan, dan ternyata itu cukup.

Setiap kali membaca ulang peristiwa itu, saya teringat Surah Al-Kahfi ayat 13. Allah menyebut para penghuni gua itu fityatun amanu bi rabbihim wa zidnahum huda, pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, lalu Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. Kata fityah di situ adalah bentuk jamak dari fata, sebutan yang juga dipakai untuk Ibrahim muda ketika ia menghancurkan berhala kaumnya (QS Al-Anbiya: 60).

Al-Qur’an rupanya punya perhatian khusus pada pemuda yang berani melawan arus. Tetapi ada satu hal dalam ayat itu yang sering terlewat. Petunjuk ditambahkan setelah mereka beriman, tidak sebelumnya. Keberanian berikrar baru langkah pertama; sesudahnya ada perjalanan panjang. Maka pertanyaan yang pas untuk peringatan ke-98 ini barangkali sederhana saja: ikrar itu sekarang sedang diuji oleh apa?

Ikrar yang Bertemu Wahyu

Saya tidak sedang mencari-cari ayat untuk membenarkan Sumpah Pemuda. Pertemuan keduanya justru terasa wajar.

Ambil soal cinta tanah air. Kita sering mendengar ungkapan hubbul wathan minal iman disebut sebagai hadis. Sebagai orang kampus, saya merasa perlu meluruskannya. As-Sakhawi dalam Al-Maqashid Al-Hasanah sudah mencatat bahwa ia tidak menemukan sanad ungkapan itu sampai kepada Nabi. Meski begitu, gagasannya tetap punya pijakan. At-Tirmidzi meriwayatkan bagaimana Rasulullah, saat harus meninggalkan Makkah, mengungkapkan betapa beliau mencintai kota itu. Cinta tanah air, dengan demikian, lebih dekat pada amanah ketimbang slogan.

Dinamika Aksi Demontrasi dan Gerakan Sosial Dalam Kajian Komunikasi Pembangunan

Lalu soal satu bangsa. Al-Qur’an tidak pernah memandang perbedaan suku sebagai masalah. Manusia dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa li ta’arafu, supaya saling mengenal (QS Al-Hujurat: 13). Yang dilarang adalah bercerai-berai, sebagaimana pesan wa’tashimu bi hablillahi jami’an wa la tafarraqu dalam QS Ali Imran: 103. Kehadiran Jong Islamieten Bond di kongres 1928, duduk berdampingan dengan organisasi pemuda kedaerahan, bagi saya adalah jawaban paling awal atas pertanyaan yang sampai hari ini masih saja diperdebatkan: bisakah seseorang sepenuhnya muslim sekaligus sepenuhnya Indonesia?

Yang paling menarik bagi saya justru butir ketiga. Coba baca teksnya pelan-pelan. Para pemuda itu tidak menulis “berbahasa satu”. Mereka menulis menjunjung bahasa persatuan. Bahasa Jawa, Bugis, Batak, dan ratusan bahasa daerah lain tidak disuruh minggir; bahasa Indonesia diangkat menjadi jembatan di antara semuanya. Cara pandang ini dekat sekali dengan QS Ar-Rum: 22, yang menyebut keragaman bahasa sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. Begitu pula QS Ibrahim: 4, tentang rasul yang diutus dengan bahasa kaumnya agar pesannya dipahami. Bahasa hadir supaya kita saling mengerti, tidak untuk menyeragamkan.

Goa yang Lain

Pemuda 1928 tahu siapa lawan mereka. Pemuda 2026 kerap tidak sempat menyadarinya, karena tekanan yang mereka hadapi datang pelan-pelan, lewat angka dan layar.

Mulai dari pekerjaan. BPS mengumumkan tingkat pengangguran terbuka nasional pada Mei 2026 tinggal 4,65 persen, terendah sejak 1994. Ini kabar yang patut disyukuri. Namun, pada kelompok usia 15–24 tahun angkanya malah naik ke 17,37 persen, dari 16,36 persen pada Februari. Kira-kira 17 dari 100 anak muda yang sedang mencari kerja belum mendapatkannya. Ekonomi bergerak, hanya saja anak muda belum banyak yang ikut terangkut.

Sebagian bahkan sudah berhenti mencari. Menurut BPS, 19,44 persen pemuda usia 15–24 tahun pada 2025 tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak ikut pelatihan. Statistik menyebut mereka NEET. Jumlahnya hampir satu dari lima. Angka ini memang membaik dibanding 24,28 persen pada 2020, tetapi untuk negeri yang sedang menunggu panen bonus demografi, jumlah itu masih terlalu besar.

Kepemimpinan Berbasis Islam: Konsep, Karakter dan Implementasinya Dalam Era Moderen

Di tengah kesulitan itu, layar ponsel menawarkan jalan pintas yang menjebak. OJK mencatat, per Juli 2026, peminjam usia 19–34 tahun menyumbang 48,22 persen dari seluruh pinjaman daring yang bermasalah. PPATK bahkan menemukan anak usia 10–16 tahun menyetor lebih dari Rp2,2 miliar ke judi daring dalam tiga bulan pertama 2025. Saya tidak ingin hanya membawa kabar buruk. Sepanjang 2025, jumlah pemain judi daring turun sekitar 68 persen, dari 9,7 juta menjadi 3,1 juta orang. Kalau semua pihak bergerak, masalah ini ternyata bisa ditekan.

Ada pula hal yang tidak tercatat di laporan keuangan mana pun. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) menemukan satu dari tiga remaja usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Dari jumlah itu, hanya 2,6 persen yang pernah mendapat bantuan profesional. Selebihnya menanggungnya sendiri.

Membaca angka-angka ini, saya teringat QS An-Nisa: 9, yang meminta kita khawatir bila meninggalkan dzurriyyatan dhi’afan, generasi yang lemah. Lemah di sini tidak melulu soal uang. Bisa lemah ilmu, rapuh akhlak, atau mudah patah jiwanya. Al-Qur’an juga menyebut judi (maysir) sebagai perbuatan keji dari setan (QS Al-Ma’idah: 90) dan orang yang boros sebagai saudara setan (QS Al-Isra: 27). Peringatan yang turun belasan abad lalu itu kini muncul lagi, kali ini dalam bentuk tabel statistik.

Pandai Berseremoni, Lemah Bertadbir

Sebagai pendidik, saya harus mengakui sesuatu yang kurang enak didengar. Di banyak tempat, termasuk di lembaga pendidikan Islam, peringatan Sumpah Pemuda masih berhenti di upacara, lomba, dan unggahan media sosial. Kita lancar mengutip ayat tentang pemuda, tetapi belum sungguh-sungguh mengurus pemuda.

Islam sebenarnya tidak memberi tempat bagi niat baik yang dibiarkan tanpa pengelolaan. QS Al-Hasyr: 18 meminta setiap orang memperhatikan apa yang sudah ia siapkan untuk hari esok, dan saya membacanya sebagai perintah untuk merencanakan. QS Ar-Ra’d: 11 menegaskan Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri. Dua ayat ini cukup mengingatkan kita bahwa nasihat moral yang tidak disertai tata kelola tidak akan banyak mengubah keadaan.

Mengapa Teknologi Membuat Lebih Banyak Peluang Kerja

Dari bidang yang saya tekuni, manajemen pendidikan Islam, ada beberapa pekerjaan rumah yang menurut saya tidak bisa ditunda lagi.

Kurikulum kita perlu lebih membumi. Santri dan mahasiswa sudah hafal bahwa riba dan maysir itu haram. Yang sering belum mereka kuasai adalah cara menghitung bunga pinjaman daring yang sebenarnya, atau mengenali tautan judi yang menyamar sebagai gim. Literasi keuangan syariah dan literasi digital layak masuk ke pelajaran inti di pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi keagamaan Islam.

Lembaga pendidikan Islam juga perlu berani bertanya: ke mana lulusan kita pergi? Studi pelacakan alumni harus dikerjakan dengan serius, jangan hanya demi memenuhi syarat akreditasi. Kerja sama dengan industri halal, UMKM, dan dunia usaha sebaiknya dirancang sejak kurikulum disusun, bukan dicari setelah wisuda. Kemandirian yang selama ini menjadi ciri santri adalah modal kewirausahaan yang belum dikelola dengan baik.

Soal kesehatan jiwa, kita perlu berhati-hati. Ayat ala bi dzikrillahi tathma’innul qulub (QS Ar-Ra’d: 28) memang menenangkan, tetapi tidak dimaksudkan untuk menggantikan konselor. Setiap lembaga pendidikan Islam idealnya memiliki layanan bimbingan dan konseling yang memadukan pendekatan spiritual dengan pendekatan psikologis.

Terakhir, masjid. Pada masa Nabi, masjid adalah tempat belajar, bermusyawarah, dan bertemu. Masjid kampus dan masjid di lingkungan kita bisa kembali menjadi ruang semacam itu bagi anak muda, tempat mereka belajar, membangun jejaring, dan berkarya, tidak sekadar tempat singgah ketika azan lalu pulang.

Keluar dari Goa

Tema peringatan tahun ini, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, baru akan berarti kalau ia turun menjadi kebijakan dan program yang hasilnya bisa diukur. Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara, salah satunya masa muda sebelum masa tua (HR Al-Hakim). Beliau juga menyebut pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah sebagai salah satu golongan yang mendapat naungan pada hari kiamat (HR Bukhari dan Muslim).

Ashabul Kahfi masuk ke goa untuk menyelamatkan iman mereka. Banyak anak muda kita hari ini juga masuk ke gua, hanya saja gua yang lain dan sering tanpa mereka sadari: gua layar, gua utang, gua menganggur, gua sepi. Mengajak mereka keluar adalah tugas kita bersama, orang tua, guru, dosen, ulama, dan juga negara. Semangat saja tidak cukup. Mereka butuh ilmu, keterampilan, dan lembaga yang dikelola dengan sungguh-sungguh.

Sembilan puluh delapan tahun lalu, para pemuda sudah berikrar. Kini giliran kita berikhtiar, bersama mereka.

*Hasan Basri adalah dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang Selatan.

×
×