Kota Tangsel
Beranda / Tangerang Raya / Kota Tangsel / Dari Sisa Makan Jadi Pupuk, DCKTR Tangsel Olah Sampah Kantor Lewat Biopori

Dari Sisa Makan Jadi Pupuk, DCKTR Tangsel Olah Sampah Kantor Lewat Biopori

whatsapp image 2026 07 26 at 20.42.06 (1)

Sisa makanan dari aktivitas pegawai biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah. Namun, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangerang Selatan memilih cara berbeda dengan mengolahnya langsung melalui lubang biopori.

Program bertajuk Biopori Kantor tersebut mulai diterapkan sejak Oktober 2025 di kawasan perkantoran Pemkot Tangsel, Lengkong Wetan. Program ini menjadi langkah awal mengurangi sampah sejak dari sumbernya, yakni ruang kerja para pegawai.

Setiap ruangan dilengkapi ember tertutup yang dikhususkan untuk menampung sampah organik. Pegawai diminta memisahkan sisa makanan dari sampah plastik maupun jenis sampah nonorganik lainnya.

Setiap sore, petugas kebersihan mengangkut sampah organik yang terkumpul untuk dimasukkan ke dalam lubang biopori. Sementara itu, sampah nonorganik disalurkan ke bank sampah yang dikelola Dharma Wanita Persatuan DCKTR Tangsel.

Kepala DCKTR Tangsel, Ade Sufrizal, mengatakan pengelolaan sampah harus dimulai dari tempat sampah itu dihasilkan. Lingkungan perkantoran dinilai memiliki potensi besar untuk mengurangi timbulan sampah apabila pemilahan dilakukan secara konsisten.

Bocah Kademangan Tangsel Dikabarkan Tenggelam di Sungai Cisadane

“Kalau sampah bisa dikelola di lingkungan perkantoran, kenapa tidak dilakukan,” katanya, dikutip Kamis (23/07/26).

Lubang biopori yang digunakan memiliki diameter sekitar 12 inci dengan kedalaman antara 80 hingga 100 sentimeter. Pada bagian atasnya dipasang pipa setinggi kurang lebih 20 sentimeter untuk memudahkan pengisian dan perawatan.

Di dalam lubang tersebut, sisa makanan akan diuraikan secara alami oleh mikroorganisme dan hewan pengurai di dalam tanah. Setelah melalui proses penguraian, sampah organik akan berubah menjadi kompos.

Kompos yang dihasilkan kemudian digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman di lingkungan kantor. Selain menekan jumlah sampah yang dibuang, biopori juga membantu menggemburkan tanah dan meningkatkan daya resap air.

Namun, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada keberadaan lubang biopori. Kedisiplinan pegawai dalam memisahkan sampah organik dan nonorganik menjadi bagian penting agar proses penguraian tidak terganggu.

Kelas Siang Tinggal Cerita, SDN Babakan 01 Kini Punya 24 Ruang Belajar

Lubang biopori juga harus diperiksa dan dirawat sedikitnya satu kali dalam sepekan. Penurunan volume sampah di dalam lubang menjadi salah satu tanda bahwa proses penguraian berjalan dengan baik.

Program tersebut melibatkan sejumlah perangkat daerah di kawasan Lengkong Wetan, antara lain Dinas Perhubungan, DSDABMBK, Dinas Perkimta serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Apabila proyek percontohan ini berjalan optimal, program serupa direncanakan diperluas ke Pusat Pemerintahan Kota Tangsel, kawasan Setu, Cilenggang, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan serta berbagai gedung pelayanan publik.

Melalui langkah sederhana tersebut, DCKTR ingin membangun kebiasaan baru di lingkungan aparatur pemerintah. Sampah tak lagi sekadar dipindahkan dari kantor menuju tempat pembuangan, tetapi diolah dan dikembalikan ke alam dalam bentuk yang lebih bermanfaat. (adv)

Warga Buaran Serpong Ngeluh Kekurangan Air Bersih, Diduga Terdampak Pabrik Es
×
×