Kota Tangsel
Beranda / Tangerang Raya / Kota Tangsel / Warga Buaran Serpong Ngeluh Kekurangan Air Bersih, Diduga Terdampak Pabrik Es

Warga Buaran Serpong Ngeluh Kekurangan Air Bersih, Diduga Terdampak Pabrik Es

img 20260723 190949
Warga Buaran Serpong Ngeluh Kekurangan Air Bersih, Diduga Terdampak Pabrik Es Foto: Pabrik Es

RESPUBLIKA.ID – Warga di Kampung Jati, RT 03 RW 05, Kelurahan Buaran, Serpong, Kota Tangsel mengeluh kekurangan air bersih.

Bukan karena musim kemarau, warga menyebut keluhan diarahkan kepada aktivitas sebuah pabrik es kristal yang beroperasi di lingkungan permukiman, menggunakan mesin penyedot air satelit, sehingga diduga memengaruhi ketersediaan air tanah di lingkungan sekitar.
Bahkan, warga menduga mesin tersebut terkadang beroperasi 24 jam penuh.

Yuni, salah seorang warga sekitar mengaku sudah beberapa hari di rumahnya tidak mengeluarkan air.
Untuk mandi saja, kata dia, dirinya harus menumpang ke rumah anaknya.

“Udah berapa hari ini kering rumah saya, nggak ada air bingung kan mau mandi numpang terus, kadang numpang rumah anak. Ya tadinya sih nggak begitu kering-kering banget, karena mungkin ada pabrik es, dia menggunakan satelit ya,” kata Yuni kepada awak media, ditulis, Kamis (22/7/2026).

Kekeringan bukan hanya saja dialami olehnya. Tetapi, kata Yuni, kondisi serupa juga dialami oleh para tetangganya.

UIN Jakarta: Keputusan PTUN Tak Mengatur KBM

Menurutnya, setelah beroperasinya pabrik es kristal di wilayahnya, kondisi kekurangan air juga dirasakan meskipun saat musim hujan.

“Kita sih sebetulnya keringnya itu nggak kering setiap kamarau ya, karena saat hujan pun kita bisa kering. Dan mesin kalau kita paksakan rusak terus. Jadi bisa satu bulan itu dua kali benerin mesin air,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Yuni meminta Pemerintah Kota Tangsel segera bertindak agar warga mendapat solusi dari kondisi yang terjadi.

“Ini saya minta lah untuk pemerintah, ada tindakan lah gimana. Kita nih, air itu kan kehidupan kita di air ya, jadi kita butuh banget air bersih,” tutup Yuni.

Terpisah, Seorang karyawan pabrik es Dhani, membantah tudingan bahwa perusahaan menggunakan sumur satelit. Siap menuturkan sumber air yang digunakan berasal dari sumur bor dengan pompa jet pump.

Baru Tahap Sosialisasi, Pembebasan Lahan PSEL Tangsel Dikebut

Saat diminta menunjukkan instalasi pengambilan air, karyawan tersebut memperlihatkan mesin produksi es dan jalur pipa yang berada di area belakang bangunan.
Kata dia, kedalaman sumur air di pabrik itu sekitar 60 meter.

Kemudian, Dhani menyebut perusahaan telah mengurus izin operasional. Namun, saat ditanya apakah seluruh izin telah terbit, ia memberikan jawaban yang berbeda.

Awalnya ia mengatakan izin sudah ada, tetapi kemudian menyebut proses perizinan telah diajukan sejak lama dan mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah seluruh izin sudah selesai diterbitkan.

“Kami menggunakan air tanah dan proses pengurusan izinnya sudah lama berjalan,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua RT 03, Kampung Jati Buatan Serpong, Murdih, mengatakan dari sisi lingkungan keberadaan pabrik telah disosialisasikan kepada warga. Sedangkan untuk perizinan kepada instansi pemerintah, menurutnya menjadi tanggung jawab pihak pemilik usaha.

Pemkot Tangsel Rencanakan Solusi Jangka Menengah Kekeringan di Keranggan

Ia juga menepis anggapan bahwa pabrik menggunakan sumur satelit. Berdasarkan informasi yang diterimanya, sumber air di lokasi menggunakan sistem jet pump biasa.

Menurut Murdih, mesin yang sering terdengar bising merupakan mesin produksi es, bukan mesin pengeboran air tanah.

Ia menjelaskan jam operasional pabrik tidak selalu berlangsung selama 24 jam. Produksi bergantung pada permintaan pasar. Pada musim kemarau, aktivitas produksi bisa berlangsung lebih lama, sedangkan saat musim hujan biasanya berkurang.

Mengenai keluhan sumur warga yang mengering, Murdih menilai fenomena tersebut tidak hanya terjadi setelah adanya pabrik. Ia mengatakan setiap musim kemarau debit air tanah di wilayah tersebut memang cenderung menurun.

Selain faktor cuaca, ia juga menyinggung pesatnya pembangunan kawasan permukiman di sekitar Buaran yang dinilai dapat memengaruhi kebutuhan dan pemanfaatan air tanah.

“Kalau musim panas memang debit air berkurang. Bukan hanya di sini, sekarang juga sudah banyak perumahan baru sehingga kebutuhan air semakin besar,” katanya kepada wartawan.

Ia menambahkan kedalaman sumur warga di wilayah tersebut bervariasi, mulai sekitar 20 hingga 30 meter, tergantung kondisi sumber air masing-masing lokasi.

Hingga berita ini ditayangkan,, belum terdapat keterangan resmi dari instansi berwenang mengenai dugaan hubungan antara aktivitas pengambilan air tanah oleh pabrik dengan keluhan sumur warga yang mengering.

Saat ini, awak media masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pemilik usaha maupun dinas terkait mengenai status perizinan pengambilan air tanah.

×
×